Latest News

asuhan keperawatan gangguan sistem perkemihan : Urethritis / Uretritis


A.      Pengertian
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih). (H. Syafarudin, 1997)
1.         Susunan Sistem Perkemihan
Sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin, b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), c) satu vesika urinaria (VU), tempat urin dikumpulkan, dan d) satu urethra, urin dikeluarkan dari vesika urinaria. (H. Syafarudin, 1997)

a.       Ginjal (Ren)
Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra thorakalis ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk ginjal seperti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri, karena adanya lobus hepatis dexter yang besar. (Nursalam, 2008)
b.      Fungsi ginjal
Fungsi ginjal adalah
1)        memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun,
2)        mempertahankan suasana keseimbangan cairan
3)        mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh,
4)        mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.
c.       Fascia Renalis terdiri dari:
Fascia renalis terdiri dari
1)      fascia (fascia renalis)
2)      Jaringan lemak peri renal, dan
3)      kapsula yang sebenarnya (kapsula fibrosa), meliputi dan melekat dengan erat pada permukaan luar ginjal. (Nursalam, 2008)

2.         Struktur Ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat cortex renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap, dan medulla renalis di bagian dalam yang berwarna cokelat lebih terang dibandingkan cortex. Bagian medulla berbentuk kerucut yang disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis.
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus.. Pelvis renalis berbentuk corong yang menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga calices renalis majores yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis minores.
Struktur halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit fungsional ginjal. Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal. Nefron terdiri dari : Glomerulus, tubulus proximal, ansa henle, tubulus distal dan tubulus urinarius. (Peace. 2006)
3.         Proses pembentukan urin (Syafarudin, 1992)
Tahap pembentukan urin
a.    Proses Filtrasi ,di glomerulus
Terjadi penyerapan darah, yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus ginjal. cairan yang di saring disebut filtrate gromerulus.
b.    Proses Reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glikosa, sodium, klorida, fospat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus proximal. sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla renalis.
c.       Proses sekresi.
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar.
4.    Pendarahan
Ginjal mendapatkan darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis bercabang menjadi arteria interlobularis kemudian menjadi arteri akuarta. Arteri interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi arteriolae aferen glomerulus yang masuk ke gromerulus. Kapiler darah yang meninggalkan gromerulus disebut arteriolae eferen gromerulus yang kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena cava inferior.
  
5.    Persarafan Ginjal
Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis(vasomotor). Saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal.
a.    Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke vesika urinaria. Panjangnya ± 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak pada rongga abdomen dan sebagian lagi terletak pada rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:
1)        Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
2)        Lapisan tengah lapisan otot polos
3)        Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltic yang mendorong urin masuk ke dalam kandung kemih.

b.    Vesika Urinaria (Kandung Kemih)
Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir (kendi). letaknya d belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika urinaria dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet.
Dinding kandung kemih terdiri dari:
1)      Lapisan sebelah luar (peritoneum).
2)      Tunika muskularis (lapisan berotot).
3)      Tunika submukosa.
4)      Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).
c.     Uretra
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi menyalurkan air kemih ke luar.
Pada laki-laki panjangnya kira-kira 13,7-16,2 cm, terdiri dari:
1)      Urethra pars Prostatica
2)      Urethra pars membranosa ( terdapat spinchter urethra externa)
3)      Urethra pars spongiosa.
Urethra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm (Taylor), 3-5 cm (Lewis). Sphincter urethra terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan urethra disini hanya sebagai saluran ekskresi.
Dinding urethra terdiri dari 3 lapisan:
1)      Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot polos dari Vesika urinaria. Mengandung jaringan elastis dan otot polos. Sphincter urethra menjaga agar urethra tetap tertutup.
2)      Lapisan submukosa, lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan saraf.
3)      Lapisan mukosa.

d.      Urin (Air Kemih)
Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
1)      Jumlah ekskresi dalam 24 jam ± 1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya.
2)      Warna, bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
3)      Warna, kuning tergantung dari kepekatan, diet obat-obatan dan sebagainya.
4)      Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
5)      Berat jenis 1,015-1,020.
6)      Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung dari pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).
Komposisi air kemih, terdiri dari:
1)      Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
2)      Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.
3)      Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat.
4)      Pagmen (bilirubin dan urobilin).
5)      Toksin.
6)      Hormon.
e.    Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
1)        Kandung kemih terisi secara progresif hingga tegangan pada dindingnya meningkat melampaui nilai ambang batas (Hal ini terjadi bila telah tertimbun 170-230 ml urin), keadaan ini akan mencetuskan tahap ke 2.
2)        adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung kemih.
Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang) Sebagian besar pengosongan di luar kendali tetapi pengontrolan dapat di pelajari “latih”. Sistem saraf simpatis : impuls menghambat Vesika Urinaria dan gerak spinchter interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna konstriksi. Sistem saraf parasimpatis: impuls menyebabkan otot detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi MIKTURISI (normal: tidak nyeri).
Ciri-Ciri Urin Normal
1)   Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk.
2)   Warnanya bening oranye tanpa ada endapan.
3)   Baunya tajam.
4)   Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6. (Syafarrudin. 1992).
f.       Uretritis
Uretritis adalah suatu inflamasi uretra atau suatu infeksi yang menyebar naik yang digolongkan sebagai infeksi gonoreal dan nongonoreal. Namun demikian kedua kondisi tersebut dapat terjadi pada satu pasien. (Nursalam,  2008).
Uretritis yaitu implamasi pada uretra, keadaan ini kerap kali merupakan gejala penyakit genora, dapat pula disebabkan oleh mikroorganisme. (Barbara. 2005)
Uretritis terbagi menjadi dua yaitu ;
1)     Uretritis akut, terjadi karena naiknya infeksi atau sebaliknya oleh karena prostat mengalami infeksi
2)     Uretritis kronik, infeksi ini disebabkan oleh pengobatan yang tidaksempurna pada masa akut, prostatitis kronik, atau striktura uretra.
  
B.       Etiologi
Uretritis disebabkan oleh kuman gonore atau terjadi tanpa adanya bakteri. Sesuai dengan sebutan infeksi itu sendiri yaitu uretritis gonoreal dan nongonoreal. (Nursalam, 2008).
1.         Uretritis non-genokokal: uretritis yang bukan disebabkan oleh gonokokus, penyebab umum infeksi penyakit menular seksual.
a.      Klamida trachomatis dan ureoplasma urealitikum menyebabkan urettritis nongonokokus
b.      Berbagai organism panyakit menular seksual yang menyebabkan uretritis akut meliputi herves simpleks, human papiloma virus, atau trikomonas vaginalis
c.       Masa inkubasi 1-5 minggu
2.         Uretritis  gonokokus disebabkan oleh N. Gonorhea dan penyakit menular seksual, biasanya lebih verulen dan destruktif
Masa inkubasi 2-5 hari

C.      Tanda dan gejala
Adapuan tanda dan gejalanya antara lain: (Nursalam, 2008)
1.      Terkadang asimptomatis
2.      Rasa gatal dan terbakar di sekitar uretra
3.      Cairan dari uretra: pada prepusium, dapat berwarna bening, kental, pekat atau purulen
4.      Disuria atau sering berkemih
5.      Gangguan rasa nyaman pada penis

D.      Patofisiologi
1.      Uretritis non-genokokal: uretritis yang bukan disebabkan oleh gonokokus, penyebab umum infeksi penyakit menular seksual.(Nursalam, 2008)
a.       Klamida trachomatis dan ureoplasma urealitikum menyebabkan urettritis nongonokokus
b.      Berbagai organism panyakit menular seksual yang menyebabkan uretritis akut meliputi herves simpleks, human papiloma virus, atau trikomonas vaginalis
c.       Masa inkubasi 1-5 minggu
2.      Uretritis  gonokokus disebabkan oleh N. Gonorhea dan penyakit menular seksual, biasanya lebih verulen dan destruktif

 E.       Pemeriksaan penunjang
Pada kasus uretritis hal-hal yang perlu diperiksa untuk mendukung diagnosa adalah ;
1.      Pemeriksaan urine lengkap
2.      Pemeriksaan sekret uretra
3.      Test sensitivitas dan kultur untuk menentukan antibiotika yang akan dipakai.

F.       Prognosa
Infeksi pada uretra atau uretritis bila pengobatannya tidak baik maka infeksi dapat menjalar kekandung kemih, ureter ataupun ginjal

G.      Penatalaksanaan
1.      Antimikroba: tetrasiklin, quinolon, atau eritromisin efektif pada beberapa kasus uretritis nongokokus; metronidazol dipakai jika penyebabnya trikomonas
2.      Peneilin: yang resisten penisilin diberikan cephalosporin, dan quinolon dapat digunakan mengobati uretritis gonokokus, dosis besar pemberian tunggal efektif

ASUHAN KEPERAWATAN

A.      Fokus Pengkajian
1.      Riwayat atau adanya faktor-faktor risiko:
a.       Riwayat infeksi saluran kemih sebelumnya
b.      Obstruksi pada saluran kemih
2.    Adanya faktor yang menjadi predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial (didapat dari rumah sakit).
a.       Pemasangan kateter foley
b.      Imobilisasi dalam waktu yang lama
c.       Inkontinensia
3.         Kaji manifestasi klinik dari infeksi saluran kemih.
a.       Dorongan
b.      Frekuensi
c.       Disuria
d.      Bau urine yang menyengat
e.       Nyeri biasanya pada suprapubik pada isk bawah dan sakit pada panggul pada isk atas (perkusi daerah kostovertebra untuk mengkaji nyeri tekan panggul)
f.       Demam, khususnya pada ISK atas

4.         Pemeriskaan diagnostic
a.       Urinalisa memperhatikan bakteriuria, sel darah putih dan endapan SDP dengan keterlibatan ginjal
b.      Kultur (biakan) urine mengidentifikasi organisme penyebab
c.       Tes bakteri bersalut-antibodi terhadap bakteri bersalut –antibodi diindikasikan pada pielonefritis
d.      Sinar x ginjal, ureter dan kandung kemih (GUK) mengidentifikasi anomaly struktur nyata
e.       Pielogram intravena (IVP) mengidentifikasi perubahan atau abnormalitas struktur
5.         Kaji perasaan-perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan. Terutama pada wanita sering berfokus pada rasa takut akan kekambuhan, dimana menyebabkan penolakan terhadap aktivitas seksual. Nyeri dan kelelahan yang berkenaan dengan infeksi dapat berpengaruh terhadap penampilan kerja dan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS)

B.       Pemeriksaan Diagnostik:
1.         urinalisa memperlihatkan bakteriuria, sel darah putih, dan endapan sel darah merah dengan keterlibatan ginjal.
2.         Kultur ( biakan ) urine mengidentifikasi organisme penyebab
3.         Tes bakteri bersalut- antibodi terhadap bakteri bersalut antibodi diindikasikan pada pielonefritis.
4.         Sinar x ginjal, ureter dan kandung kemih mengidentifikasi anomali struktur nyata.
5.         Pielogram intravena (IVP) mengidentifikasi perubahan atau abnormalitas struktur.
6.         Mengkaji perasaan-perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan. Terutama pada wanita sering berfokus pada rasa takut akan kekambuhan, dimana menyebabkan penolakan terhadap aktivitas seksual. Nyeri dan kelelahan yang berkenaan dengan infeksi dapat berpengaruh terhadap penampilah kerja dan aktivitas kehidupan sehari-hari.

C.       Diagnosa Keperawatan
1.         Nyeri b.d infeksi saluran perkemihan.
2.         Perubahan pola eliminasi BAK: retensi urine b.d penyumbatan sfingter sekrunder terhadap striktur
3.         Resiko infeksi b.d penularan melalui kontak seksual
4.         Resiko terhadap ketidakpatuhan b.d kurang pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, pengobatan dan perawatan di rumah.


D.      Intervensi Keperawatan
1.      Nyeri b.d infeksi saluran perkemihan.
Kriteria hasil :
Tidak nyeri waktu berkemih, tidak nyeri pada perkusi daerah panggul.
Intervensi
a.         Pantu haluaran urine terhadap perubahan warna, bau dan pola berkemih
Ras = untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
b.         Berikan analgetik sesuai kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya
Ras = analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga mengurangi nyeri.
c.         Berikan antibiotik, buat bervariasi sediaan minum, termasuk air segar di samping tempat tidur dan pemberian air sampai 2400mL/hari.
Ras = akibat dari peningkatan haluaran urine memudahkan berkemih sering dan membantu membilas saluran perkemihan.
d.        Jika frekuensi menjadi masalah, jamin akses ke kamar mandi, pispot tempat tidur. Anjurkan pasien untuk berkemih kapan saja ada keinginan.
Ras = berkemih yang sering mengurangi statis urine pada kandung kemih dan menghindari pertumbuhan bakteri.
2.      Perubahan eliminasi BAK : retensi urine b.d penyumbatan spingter skunder terhaap striktur.
Intervensi :
a.       Monitor keadaan bladder setiap 2 jam
      ras = menentukan masalah
b.      Ukur intake dan output cairan setiap 4 jam
ras = monitor keseimbangan cairan
c.       Berikan cairan 2000 ml/ hari dengan kolaborasi
ras = menjaga depisit cairan
d.      Kaji dan monitor analisis urine elektrolit dan berat badan
ras = membantu keseimbangan cairan
e.       lakukan latihan pergerakan
ras = meningkatkan pungsi ginjal dan bladder
f.       Lakukan relaksasi ketika duduk berkemih
ras = relaksasi pikiran dapat meningkatkan kemampuan berkemih
g.      Ajarkan teknik latihan dengan kolaborasi dokter/ fisiotrapi
ras = Menguatkan otot pelvis
3.      risiko infeksi akibat penularan melalui kontak seksual
Kriteria hasil
Cegah penyebaran infeksi
-          Hindarkan komplikasi dengan memberikan antimikroba sesuai waktu yang telah diresepkan
-          Nasihatkan untuk tidak melakukan kontak sesksual hingga pengobatan selesai (biasanya 7-10 hari)
-          Beritahu pasien untuk menghindari kontak seksual dengan pasangannya hingga pasangannya telah diperiksa dan diobati
-          Pemakaian kondom dapat mencegah penularan, tetapi tergantung pada teknik penggunaannya.
4.      Resti terhadap ketidakpatuhan b.d kurang pengetahuan tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, pengobatan dan perawatan di rumah.
Kriteria hasil :
Menyatakan mengerti tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, rencana pengobatan, tindakan perawatan diri preventif.
Intervensi:
a.         Berikan informasi tentang sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran atau kekambuhan, penjelasan pemberian antibiotik yang meliputi nama, tujuan, dosisi, jadwal dan catat efek sampingnya.
Ras = pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik.
b.      Pastikan pasien atau orang terdekat telah menulis perjanjian untuk perawatan lanjut dan instruksi tertulis untuk tindakan pencegahan.
Ras = Instruksi verbal dapat dengan mudah dilupakan.
c.       Instruksikan pasien untuk menggunakan seluruh antibiotik yang diresepkan, minum sebanyak delapan gelas per hari, khususnya air dan sari buah berri, dan segera memberitahu dokter bila diduga ada infeksi. Ras = Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda mereda. Cairan menolong membilas ginjal. Asam piruvat dari sari buah berri membantu mempertahankan keadaan asam urine. Lingkungan asam membantu mencegah pertumbuhan bakteri. 

0 Response to "asuhan keperawatan gangguan sistem perkemihan : Urethritis / Uretritis"

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Klik salah satu Link di Bawah ini, untuk menutup BANNER ini...