Latest News

asuhan keperawatan Diabetes Mellitus disertai Ulkus Diabetikum

Konsep Dasar Penyakit Diabetes Mellitus Disertai Ulkus Diabetikum
1.    Pengertian
Diabetes Mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hi    perglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002, hlm.1224).
Diabetes Mellitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin dimana tubuh mengeluarkan terlalu sedikit insulin. Insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik  disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem tubuh (http:/medlinux.blogspot.com, 2007, diperoleh tanggal 18 Juli 2008).
Diabetes Mellitus adalah keadaaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis (Kapita Selekta, 1999, hlm.580).


2.    Etiologi
Menurut Brunner & Suddarth (2001, hlm.1224), penyebab dari penyakit Diabetes Mellitus dapat dibedakan berdasarkan klasifikasi yang ada yaitu :
a.    DM tipe 1 (IDDM)
Faktor genetik, pada individu dengan tipe antigen HLA, imunologi dan faktor lingkungan merupakan faktor yang dapat menyebabkan diabetes mellitus tipe 1 yang memerlukan terapi insulin.
b.    DM tipe 2 (NIDDM)
Diabetes mellitus tipe II timbul sebagai kelainan heterogen yang mencakup baik faktor genetik maupun lingkungan, DM tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas.
c.    DM yang berhubungan dengan keadaan dan sindrom lainnya
Diabetes mellitus jenis ini dapat disebabkan oleh penyakit hormonal, gangguan reseptor insulin, keadaan yang disebabkan oleh obat atau zat kimia dan sindrom genetika lain.
d.    DM Gestasional (GDM)
Diabetes pada masa kehamilan dapat terjadi karena konsumsi gula yang berlebihan sehingga insulin tidak cukup untuk mengubah glukosa darah menjadi glikogen sehingga kadar glukosa darah tetap tinggi.
4.    Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang dapat timbul pada pasien dengan diabetes mellitus antara lain banyak makan, banyak minum, banyak kencing, penurunan berat badan, mudah lelah, kesemutan, gatal, mata kabur, impotensi pada pria, pruritus vulva pada wanita, menurunnya kesadaran diri dan luka yang sukar sembuh.

5.    Data Penunjang
Dalam penegakkan diagnosa diabetes mellitus, perlu diadakannya pemeriksaan yang menunjang. Pemeriksaan dan data yang perlu dilakukan antara lain tes toleransi glukosa (TTG) memanjang, gula darah puasa, essei hemoglobin glikosilat, urinalisis dan kolesterol.

6.    Komplikasi
a.    Akut
1)    Hipoglikemia
Tanda-tanda hipoglikemia adalah lapar, mual, tekanan darah turun, lemah, lesu, keringat dingin pada muka terutama pada hidung, tidak sadar dengan atau tanpa  kejang.
2)    Koma diabetik/ketoasidosis
Diabetes ketoasidosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Ada tiga gambaran klinis yang penting pada keadaan ketoasidosis yaitu dehidrasi, kehilangan elektrolit dan asidosis.
b.    Kronik
1)    Pembuluh darah kecil : mikroangiopati (neuropati diabetik, retinopati diabetik dan nefropati diabetik)
2)    Pembuluh darah besar : makroangiopati
3)    Kaki diabetik
Salah satu komplikasi yang dapat timbul pada klien dengan diabetes mellitus adalah kaki diabetik yang timbul akibat adanya trauma atau perlukaan serta perawatan yang kurang baik.
Ulkus diabetikum atau kaki diabetik merupakan tukak yang timbul pada penderita diabetes mellitus yang disebabkan karena angiopati diabetik, neuropati diabetik atau akibat trauma (http:/medlinux.blogspot.com, 2007, diperoleh tanggal 18 Juli 2008).
Ulkus neuropati terjadi pada bagian-bagian yang menonjol (pressure points) di daerah yang kepekaannya menghilang pada polineuropati diabetes. Rasa nyeri tidak dapat dirasakan, dengan demikian ulkus dapat terjadi tanpa diketahui pasien (Brunner & Suddarth, 2001, hlm.1276).
Pada kondisi ulkus diabetikum, penderita akan mengalami  gejala klinis 5P, yaitu : Pain (nyeri), Paleness (kepucatan), Paresthesia (kesemutan), Pulselesness (denyut nadi hilang) dan Paralysis (lumpuh). Sedangkan jika terjadi sumbatan kronik, maka akan mempunyai gejala berdasarkan stadium sebagai berikut (http://medilnux.blogspot.com/2007/09/ulkus-diabetik.html diperoleh tanggal   19 Juli 2008):
a)  Stadium I   : Asimptomatis (semutan atau geringingan)
b)  Stadium II  : Terjadi klaudikasio intermitten
c)  Stadium III : Timbul nyeri saat istirahat
d)  Stadium IV : Berupa manifestasi kerusakan jaringan anoksia yang berupa ulkus.
Klasifikasi yang ada pada kaki diabetik/ulkus diabetikum dapat dibedakan berdasarkan derajat luka, kedalaman dan luas iskemik pada luka, yang dapat dilihat pada tabel 2.1 dan tabel 2.2.
Derajat    Kondisi Luka
0    Kulit utuh ; ada kelainan bentuk kaki akibat neuropati
1    Tukak superfisial
2    Tukak lebih dalam
3    Tukak dalam disertai abses dengan kemungkinan selulitis/osteomielitis
4    Gangren jari
5    Gangren kaki

Dearajat    Kedalaman luka    Luas  Iskemik
0    Kaki berisiko, tanpa ulserasi   
1    Ulserasi superfisial, tanpa infeksi    Tanpa iskemik
2    Ulserasi dalam sampai tendon    Iskemia tanpa gangren
3    Ulserasi luas/ abses    Partial gangren    

Sedangkan secara klinis kaki diabetik dibedakan menjadi 2 bentuk, yaitu kaki neuropati dan kaki neuro-iskemik yang dapat dilihat pada tabel 2.3 dibawah ini :
Kaki Neuropati    Kaki neuro-iskemik
Panas    Dingin
Pulsasi besar    Pulsasi tidak ada
Sensorik menurun    Sensorik biasanya ada
Warna kemerahan
Pucat bila diangkat dan merah bila digantung

7.    Penatalaksanaan
Ada beberapa komponen dalam penatalaksanaan diabetes mellitus yaitu :
a.    Diit
Dasar terapi diet pada DM adalah memberikan kalori yang cukup dan komposisi yang memadai dengan memperhatikan tiga J, yaitu : jumlah makanan yang sesuai dengan kebutuhan klien, jadwal makanan yang umumnya dibagi menjadi 6 (enam), yaitu 3 (tiga) porsi besar dan 3 (tiga) porsi kecil, dan jenis makanan.
Komposisi energi yang disarankan dalam menejemen diit ialah 60-70% dari karbohidrat, 10-15% dari protein dan 20-25% dari lemak. Bagi penderita diabetes, kebutuhan dihitung berdasarkan kebutuhan kalori bassal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal yang ditambah maupun dikurangi berdasarkan jenis kelamin, usia, aktivitas dan adanya komplikasi.
Cara lain yang dapat digunakan adalah secara pegangan kasar, yaitu untuk pasien kurus 2300-2500 kalori, pasien normal dengan kebutuhan 1700-2100 kalori dan bagi pasien yang gemuk dengan kebutuhan 1300-1500 kalori.
Pada penderita diabetes mellitus yang telah mengalami ulkus diabetikum ataupun gangren dianjurkan untuk menggunakan tipe diit-B1 yaitu diit yang memerlukan 60% karbohidrat, 20% lemak dan 20% protein) dengan total kebutuhan : kalori sebanyak 1100, protein 59.36 gram, lemak 25.07 gram, hidrat arang 171.15 gram dan kolesterol 93.75 mg.
b.    Latihan fisik
Semua penderita DM dianjurkan untuk melakukan aktivitas/latihan fisik organ secara teratur. Latihan fisik ini dapat dilakukan sebanyak 3-5 kali perminggu secara teratur, intensitas ringan dan durasi selama ± 30-60 menit. Dengan jenis latihan aerobik seperti jalan, jogging dan senam. jenis latihan harus dipilih agar tidak membahayakan bagi penderita diabetes.
c.    Pemantauan
Pemantauan gula darah mandiri dapat menjadi alternatif pengecekan kadar gula dalam darah.
d.    Terapi
Untuk diabetes mellitus tipe 1 diberikan terapi insulin untuk menggantikan insulin yang hilang/kurang. Sedangkan terapi pengobatan yang dapat diberikan pada penderita semua jenis diabetes mellitus dan yang telah mengalami ulkus diabetikum antara lain : sulfonilurea, bilguanid, inhibitor glukosidase dan insulin sensitizing agent
e.    Penyuluhan kesehatan
Penyuluhan kesehatan penting dilakukan agar regulasi diabetes mellitus mudah tercapai dan komplikasi dari penyakit diabetes dapat ditekan frekuensi dan beratnya. Beberapa hal yang perlu dijelaskan kepada penderita DM adalah penyakit DM itu sendiri, cara diet yang benar (kalori, jadwal dan jenis makanan), kesehatan mulut, latihan ringan yang teratur, menjaga bagian bawah ankle joint (daerah berbahaya), tidak boleh menahan kencing, pemberian terapi insulin (untuk tipe IDDM) dan perawatan luka jika penederita diabetes mellitus mengalami luka.

f.    Perawatan Luka
Perawatan luka penting untuk diperhatikan, karena penderita diabetes mellitus yang mengalami luka beresiko untuk terjadi infeksi dan penyebaran secara sistemik. Kaki diabetik yang merupakan komplikasi dari penyakit diabetes mellitus terjadi secara bertahap dan merusak jaringan dan lapisan kulit yang diakibatkan sumbatan pembuluh darah dan kerusakan persarafan. Kematian dan degenerasi saraf autonomik, tidak berfungsinya kelenjar keringat sebasea dan lapisan kulit pada penderita diabetes mellitus akan tampak menjadi kering, pecah atau terbelah. Jika berkembang pada fisura, akan  beresiko infeksi.
 Luka pada kaki diabetik juga mengalami proses-proses tahapan luka dan tahap penyembuhan luka yaitu fase inflamasi, fase proliferasi dan remodeling yang terjadi berkelanjutan hingga luka dapat menutup dan kembali menjadi jaringan sehat seperti semula.

Perawatan luka secara baik akan mengurangi penyebaran infeksi bagi para penderita diabetes mellitus yang telah mengalami ulkus diabetikum dan kaki gangren. Perawatan luka dapat dilakukan dalam beberapa tingkatan, sesuai dengan tingkatan luka, yaitu :
a)    Tingkat 0
Penanganan meliputi edukasi pada klien tentang pencegahan. Jika terdapat tulang menonjol atau deformitas memerlukan tindakan pemotongan tulang (exostectomy)
b)    Tingkat 1
Memerlukan debridemen jaringan nekrotik atau jaringan yang infeksius, perawatan lokal luka dan pengurangan beban.
c)    Tingkat 2
Memerlukan debridemen, antibiotik sesuai kultur, perawatan lokal luka dan teknik pengurangan beban yang berarti.
d)    Tingkat 3
Memerlukan debridemen jaringan yang sudah gangren, amputasi sebagian, imobilisasi yang lebih ketat dan pemeberian antibiotik parenteral.
e)    Tingkat 4
Pada tahap ini biasanya memerlukan tindakan amputasi sebagian atau amputasi seluruh kaki.

C.    Asuhan Keperawatan Teoritis
Pelaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus dilakukan pendekatan yang sistematis yaitu dengan pendekatan proses keperawatan. Pendekatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi klien baik yang bersifat bio, psiko sosiokultural dan spiritual dimana baik secara teori dan konsep keparawatan secara terpadu dalam tahap yang terorganisir. Adapaun tahap yang dilakukan adalah :

1.    Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal proses keperawatan. Pengkajian terdiri dari pengumpulan sumber data, data berupa klien sendiri, keluarga, perawat, dokter dan catatan medis. Menurut Marilynn E Doengoes (1999, hlm.726) pengkajian pada penderita diabetes mellitus antara lain:
a.    Biodata klien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, suku dan alamat
b.    Riwayat kesehatan
1)    Riwayat kesehatan dahulu
Kaji masalah klien apakah pernah sakit jantung, hipertensi dan ginjal, kapan penyekit itu timbul, apakah pernah mendapat tindakan pembedahan seperti pada pankreas, apakah pernah mendapat pengobatan seperti obat-obat golongan kortikosteroid, diuretik, obat tidu, obat penenang.
2)    Riwayat kesehatan sekarang
Kesehatan sekarang digunakan untuk mengumpulkan data tentang keluhan dan perjalanan penyakit yang diderita saat ini.
3)    Riwayat kesehatan keluarga
Perlu dilakukan pengkajian keluarga mengenai penyakit keluarga yang sama dengan klien atau keluarga yang menderita penyakit jantung, stroke, obesitas, riwayat lahir mati serta penggunaan diit tinggi glukosa, tinggi protein.


c.    Riwayat kebutuhan
1)    Pola Nutrisi
Kebiasaan makan, terutama makan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein serta tinggi glukosa
2)    Pola cairan
Minuman yang biasa diminum
3)    Pola eliminasi
Perubahan pola berkemih, rasa nyeri atau terbakar saat eliminasi, kesulitan dalam eliminasi, nyeri dalam abdomen.
4)    Pola aktivitas
Lemah, lesu, sulit bergerak atau berjalan, kram otot, tonus otot menurun, gangguan tidur atau istirahat.
5)    Pola hygiene
Kesulitan melakukan tugas kebersihan diri mandiri.
d.    Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan secara “Head to Toe” dan perhatikan ulkus pada kaki penyembuhan yang lama, kelemahan pada otot.
e.    Psikologis
Stress, tergantung pada orang lain, masalah finansial berhubungan dengan kondisi.


f.    Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan glukosa darah, aseton plasma (keton), asam lemak bebas, osmolaritas serum, elektrolit, hemoglobin glikosilat, gas darah arteri, trombosit darah, ureum dan kreatinin, amilase darah, insulin darah dan pemeriksaan urin.

2.    Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan gangren kaki diabetik menurut Indonesian nursing_com.htm (diperoleh tanggal 18 Juli 2008) dan Marilynn E Doengoes (1999, hlm.726) mencakup :
a.    Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.
b.    Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstremitas.
c.    Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemik jaringan.
d.    Keterbatasan mobilisasi fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka.
e.    Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
f.    Potensial komplikasi sepsis.
g.    Kurang pengetahuan tentang perawatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

3.    Intervensi dan perencanaan keperawatan
a.    Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.
Tujuan :   Mempertahankan siekulasi perifer tetap normal.
Intervensi :
1)    Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi
2)    Ajarkan faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah : tinggikan kaki sedikit lebih rendah dari jantung, hindarai penyilangan kaki, hindari balutan yang ketat.
3)    Ajarkan tentang modifikasi tentang faktor-faktor resiko : hentikan kebiasaan merokok, teknik relaksasi.
4)    Kolaborasi dalam pemberian vasodilator dan pemeriksaan gula darah
b.    Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstremitas
Tujuan :   Tercapainya proses penyembuhan luka
Intervensi :
1)    Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhannya.
2)    Rawat luka dengan baik dan benar : bersihkan dengan cara aseptik, gunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan luka yang nempel dan nekrotomi jaringan yang mati
3)    Kolaborasi dalam pemberian insulin, pemeriksaan kultur pus untuk memilih pengobatan dan pemeriksaan gula darah guna mengetahui perkembangan penyakit.
c.    Nyeri berhubungan dengan iskemik jaringan
Tujuan :   Nyeri hilang / terkontrol.
Intervensi :
1)    Kaji tingkat, frekuensi dan reaksi nyeri yang dialami klien.
2)    Jelaskan pada klien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri.
3)    Ciptakan lingkungan yang tenang
4)    Ajarkan teknik relaksasi
5)    Atur posisi senyaman mungkin sesuai keinginan klien
6)    Lakukan masase dan kompres luka saat perawatan luka
7)    Kolaborasi dalam pemberian analgetik
d.    Keterbatasan mobilisasi fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka.
Tujuan :    Mempertahankan dan meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian-bagian tubuh yang terpengaruh.
Intervensi :
1)    Tentukan kemampuan fungsional.
2)    Catat respon emosional/tingkah laku untuk mengubah kemampuan.
3)    Lengkapi partisipasi dalam perawatan diri.
4)    Bantu dalam memindahkan dan ambulasi.
5)    Dekatkan barang-barang yang dibutuhkan klien.
6)    Berikan lingkungan yang terang bagi pasien yang mengalami penurunan fungsi penglihatan.
e.    Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
Tujuan :  Mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat, menunjukan tingkat energi biasanya mendominasi berat badan stabil atau penambahan kearah rentang, biasanya diinginkan normal.
Intervensi :
1)    Timbang berat badan
2)    Pantau nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah sebelum dan sesudah melakukan aktivitas
f.    Potensial komplikasi sepsis.
Tujuan :   Meminimalkan infeksi dan mencegah penyebaran infekasi
Intervensi :
1)    Observasi tanda-tanda infeksi
2)    Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan pasien
3)    Pertahankan teknik antiseptik padaprosedur invasif
4)    Berikan perawatan kulit yang teratur
5)    Kolaborasi dalam pemberian antibiotik sesuai kultur pus
g.    Kurang pengetahuan kebutuhan belajar, mengenal penyakit prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang mengingat, tidak mengenal sumber informasi.
Tujuan : Mengungkapkan pemahaman tentang proses penyakit dan penatalaksanaannya.
Intervensi :
1)    Ciptakan lingkungan saling percaya
2)    Bekerja dengan pasien dalam menata tujuan belajar yang diharapkan
3)    Diskusi tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk melakukan makan diluar
4)    Tekankan pentingnya memprtahankan pemeriksaan gula darah setiap hari
5)    Buat jadwallatihan dan aktivitas
6)    Identifikasi gejala hipoglikemi
7)    Instruksikan pentingnya pemeriksaan pada kaki  dan perawatan kaki tersebut
8)    Tekankan pentingnya pemeriksaan mata secara teratur
4.    Implementasi
Merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan keperawatan yang telah disesuaikan dengan tujuan dari tindakan keperawatan.

5.    Evaluasi
Merupakan hasil akhir dari suatu tindakan, sedangkan hasil yang diharapkan ialah sesuai dengan perencanaan dan tujuan dari tindakan keperawatan yang menggambarkan tujuan tercapai atau tidak.

0 Response to "asuhan keperawatan Diabetes Mellitus disertai Ulkus Diabetikum"

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Klik salah satu Link di Bawah ini, untuk menutup BANNER ini...