January 11, 2013

Nilai-Nilai Peninggalan Budaya Hindu–Buddha, dan Islam

Nilai-Nilai peninggalan Hindu–Buddha dan Islam yang tampak dalam kehidupan masyarakat, antara lain sebagai berikut..........

1. Stuktur Sosial
Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh agama dan kebudayaan Hindu–Buddha dari India. Budaya Hindu, India mengenal sistem kasta dalam struktur sosialnya. Hal ini berpengaruh juga terhadap struktur sosial masyarakat Indonesia. Pada masa perkembangan kebudayaan Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia juga terbagi dalam beberapa kasta berdasarkan status sosial mereka. Raja dan bangsawan menduduki status sosial tinggi, juga kaum pendeta. Pedagang, petani menduduki tingkat status sosial rendah. Kalau di Indonesia sistem kastanya berdasarkan status sosial, di Indiea sistem kastanya didasarkan atas keturunan.

Setelah masuknya agama dan kebudayaan Islam, lambat laun sistem kasta mulai hilang. Hal ini disebabkan dalam ajaran Islam semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhannya. Meskipun dalam struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan Islam masih terdapat sistem penggolongan status, antara lain golongan raja dan bangsawan, golongan elit, dan golongan nonelit, serta golongan budak.

2. Pengetahuan Sistem Arah Angin
Sejak abad ke-7 agama dan kebudayaan Islam masuk di wilayah Indonesia. Agama Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh pedagang dari Gujarat (India). Pelayaran pada saat itu sangat dipengaruhi oleh arah angin. Mereka telah memanfaatkan angin muson barat untuk berlayar ke wilayah timur dan memanfaatkan angin muson timur untuk berlayar ke arah barat. Angin muson tersebut berganti arah setiap setengah tahun sekali. Oleh karena itu, sambil menunggu arah angin yang tepat dan sesuai dengan tujuan, mereka tinggal beberapa saat di suatu wilayah di Nusantara. Ramainya perdagangan di wilayah Nusantara menjadikan kota-kota pelabuhan berkembang di sepanjang pantai sebagai jalur perdagangan di Indonesia.

3. Perdagangan dan Pelayaran
Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan yang jumlahnya sangat banyak. Antara pulau satu dan lainnya dipisahkan oleh laut dan selat yang pada umumnya tidak begitu dalam. Bangsa Indonesia sejak dahulu terkenal sebagai pelaut ulung. Pelayaran bangsa Indonesia telah dibuktikan sejak zaman Prasejarah, yaitu sejak terjadi perpindahan penduduk dari daerah Yunan atau daerah sekitar Teluk Tonkin menyebar ke daerah pulau-pulau di sebelah selatan daratan Asia sekitar tahun 2000–300 SM. Dengan menggunakan perahu bercadik, mereka mampu mengarungi perairan laut yang sangat luas hingga sampai ke wilayah Indonesia. Mereka itulah yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia. Bahkan, mereka juga berlayar sampai ke Pulau Madagaskar, sebelah timur Afrika.

Di wilayah Nusantara yang sangat luas terdapat perbedaan iklim. Wilayah Indonesia bagian barat lebih banyak turun hujan, sedangkan di bagian timur agak kering. Perbedaan iklim di berbagai wilayah tersebut mengakibatkan perbedaan hasil kekayaan alam. Karena perbedaan itu, sejak dahulu di wilayah Indonesia telah berkembang pelayaran dan perdagangan antarpulau dan antardaerah. Perdagangan dan pelayaran antarpulau dan antardaerah makin berkembang setelah di Indonesia berdiri kerajaan kuno sekitar abad ke-5, lebih-lebih pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7.

Pada saat para pedagang Islam singgah di kota-kota pelabuhan, terjadi interaksi dengan penduduk setempat. Pedagang Islam tersebut, selain berdagang juga menyiarkan agama Islam. Hal itu menyebabkan penduduk setempat terpengaruh oleh ajaran dan kebudayaan Islam. Dari daerah sekitar pelabuhan perdagangan, agama Islam menyebar ke daerah pedalaman. Masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan Islam di Indonesia berpengaruh besar terhadap kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Indonesia.

Ajaran Islam menganjurkan setiap muslim untuk tolong-menolong, hormatmenghormati, tidak saling menyakiti, dan tidak saling menyerang. Islam menjunjung tinggi semangat persatuan dan persaudaraan. Melalui ajaran Islam tertanam perasaan senasib dan sepenanggungan, setanah air, sebangsa, dan seagama. Islam juga tidak mengenal diskriminasi dalam segala bentuk sehingga memungkinkan terjadinya integrasi masyarakat Indonesia. Di samping itu, Islam juga membenci adanya praktik imperialisme dan kolonialisme. Semangat persatuan dan persaudaraan di kalangan umat Islam menjadi modal dasar dalam proses integrasi masyarakat Indonesia pada masa selanjutnya.

Pada masa perkembangan Islam di Indonesia abad ke-15 dan ke-16, para pedagang Islam mempunyai peranan yang besar dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran antarpulau di wilayah Indonesia. Para pedagang Islam telah melakukan hubungan perdagangan dan pelayaran di sepanjang jalur perdagangan dan pelayaran dari Selat Malaka sampai ke Maluku. Selain berdagang, mereka juga aktif menyebarkan agama Islam di daerah-daerah pelabuhan yang disinggahi sehingga Islam segera menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Ramainya perdagangan dan pelayaran antarpulau di wilayah Indonesia yang banyak dilakukan oleh pedagang Islam mendorong tumbuhnya kota-kota pelabuhan di sepanjang jalur pelayaran dari Selat Malaka sampai Maluku. Pelabuhan tersebut, antara lain Pasai, Pedir, Malaka, Jambi, Palembang, Banten, Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, Banjarmasin, Gowa (Makassar), Ternate, dan Tidore.

4. Bahasa
Bahasa yang digunakan di Nusantara pada masa sebelum dan sesudah kedatangan penyebaran Islam bermacam-macam. Di Pulau Jawa bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa Kuno dan Sunda Kuno. Di daerah Sumatra dan Semenanjung Melayu digunakan bahasa Melayu. Di samping itu, masih banyak bahasa daerah lain yang digunakan, misalnya bahasa Batak, Nias, Kubu, Padang, dan Minangkabau. Di Kalimantan terdapat bahasa Banjar, Melayu, dan Dayak. Di Sulawesi terdapat bahasa Bugis dan Makassar. Di Kepulauan Maluku juga terdapat banyak sekali bahasa daerah.
Banyaknya bahasa daerah sering menimbulkan kesulitan dalam menjalin komunikasi. Antonio Galvao yang menjadi Gubernur Portugis di Maluku pada pertengahan abad ke-16 menceritakan bahwa di daerah Maluku masyarakat yang bertetangga jarang sekali berkomunikasi. Hal itu disebabkan di antara mereka berbeda bahasa. Di samping itu, raja-raja, para bangsawan, dan kerabat keraton mempunyai gaya bicara yang tidak dimengerti oleh orang lain.

Sebelum kedatangan Islam, bahasa Sanskerta yang berasal dari India juga digunakan oleh golongan kecil kaum Brahmana dan raja-raja dalam menulis prasasti. Namun, sejak kedatangan Islam bahasa Sanskerta sudah tidak digunakan lagi.

Penggunaan bahasa Melayu telah diketahui sejak zaman Sriwijaya dalam prasastinya. Bahasa Melayu makin lama makin berkembang dan tersebar ke beberapa daerah pesisir Kepulauan Indonesia. Penyebaran bahasa Melayu disebabkan hubungan lalu lintas perdagangan dan pelayaran yang ramai pada saat itu. Sebelum itu mereka menggunakan bahasa daerah yang mereka miliki. Bahasa Melayu banyak digunakan oleh para pedagang dari berbagai daerah sehingga mempermudah komunikasi antarsesama pedagang dari berbagai daerah.

Ramainya perdagangan di sekitar Selat Malaka yang merupakan pusat kebudayaan dan bahasa Melayu mempercepat proses penyebaran bahasa Melayu ke berbagai penjuru Tanah Air. Pusat perdagangan yang terletak di daerah pesisir mulai mengenal bahasa Melayu, bahkan makin meluas ke daerah pedalaman. Akibatnya, bahasa Melayu menjadi alat komunikasi antarsuku bangsa. Bahasa Melayu makin meluas penggunaannya sebagai alat komunikasi antarkerajaan di Indonesia. Melalui perdagangan itulah, bahasa Melayu yang sekarang kita kenal sebagai bahasa Indonesia meluas menjadi bahasa umum yang dipakai sebagai bahasa pergaulan (lingua franca).

Bangsa Indonesia yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan mulai menyadari bahwa mereka dahulu berasal dari satu nenek moyang. Nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa Austronesia. Kebudayaan yang dibawa bangsa Austronesia ke Indonesia dinamakan kebudayaan Indonesia yang menjadi dasar perkembangan kebudayaan selanjutnya sampai dewasa ini.........

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: