January 11, 2013

Bentuk peninggalan hasil Percampuran Kebudayaan Hindu–Buddha dan Islam

Sejak masuknya agama dan kebudayaan Islam, kebudayaan Indonesia mengalami pergeseran. Namun, seperti halnya kebudayaan Hindu, kebudayaan Islam yang masuk akhirnya berbaur dengan kebudayaan yang sudah ada di Indonesia.
Pada waktu kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, pengaruh unsur kebudayaan Hindu–Buddha masih cukup kuat. Akibatnya, kebudayaan Islam masih terpengaruh unsur kebudayaan Hindu–Buddha. Percampuran kebudayaan lokal, Hindu–Buddha, dan Islam dapat dilihat dalam bentuk peninggalan fisik dan nonfisik........

1. Peninggalan Fisik
Peninggalan fisik masa pertumbuhan kerajaan Islam yang merupakan hasil perpaduan dengan budaya setempat, antara lain sebagai berikut.

a. Seni Bangunan
Bentuk bagunan yang merupakan hasil perpaduan Islam dengan budaya setempat, antara lain sebagai berikut.
1) Makam
Di beberapa daerah di Indonesia, upacara kematian menurut agama Islam ternyata masih dipengaruhi unsur-unsur kebudayaan Hindu. Untuk orang yang sudah meninggal diadakan upacara peringatan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1.000 yang merupakan wujud lain upacara Sraddha pada agama Hindu. Pada upacara peringatan kematian terakhir (hari ke-1.000), makam diabadikan dengan bangunan batu yang disebut jirat atau kijing. Keluarga yang mampu adakalanya mendirikan bangunan rumah di atas jirat yang disebut cungkup atau kubah.

Pengabadian makam berwujud cungkup dalam zaman Islam tidak berbeda dengan pengabadian makam berwujud candi dalam zaman Hindu. Pada zaman Hindu dan Islam makam dianggap tempat tinggal terakhir yang abadi. Oleh karena itu, makam dibangun sesuai dengan kedudukan orang yang dimakamkan semasa hidupnya. Makam raja pun dibangun seperti istana. Dalam perkembangan Islam, pada umumnya makam dibangun di atas bukit. Makam raja, wali, dan tokoh penting masyarakat lain disusun berundak-undak. Makin tinggi kedudukan seseorang makin tinggi juga tempat pemakamannya. Makam orang tertinggi atau terpenting berada di tempat tertinggi. Makam demikian itu mengingatkan kita pada punden berundak zaman Prasejarah dan bangunan candi pada zaman Hindu.

Makam raja atau wali pada umumnya merupakan sebuah kompleks pemakaman yang sangat luas. Kompleks pemakaman tersebut seringkali dikelilingi oleh dinding tembok. Menariknya, dinding-dinding kompleks makam tersebut masih dihiasi dengan ukiran atau pahatan bercorak Hindu. Hal itu terlihat terutama pada gapura yang berbentuk candi bentar atau kori agung. Bahkan, cara penempatannya masih seperti penempatan gapura pada candi atau pura di Bali, yakni kori agung untuk pintu terpenting menuju ke belakang dan candi bentar untuk bagian luar.

Bentuk cungkup bervariasi, ada yang berbentuk rumah biasa, joglo tanpa dinding, dan rumah adat daerah. Di Sulawesi Selatan, makam raja-raja Gowa dan Tallo diberi cungkup yang disebut kubang berbentuk jirat yang kadangkala lengkap dengan nisannya. Kubang kadang-kadang dibuat bersusun dengan alas berbentuk kubus. Bagian depannya diberi lubang yang hanya cukup untuk orang merangkak. Di dalam kubang itu barulah terdapat jirat dengan batu nisannya. Cungkup berbentuk seperti jirat itu yang disebut jirat semu.

Dalam agama Islam dikenal kunjungan ke makam yang disebut ziarah. Kunjungan ini untuk mensyukuri kebesaran Tuhan dan mengingatkan kita pada akhirat. Namun, di Indonesia ziarah juga dilakukan untuk pemujaan roh nenek moyang. Pemujaan roh nenek moyang dalam ziarah itu jelas merupakan kebiasaan yang berlaku dalam kebudayaan Indonesia–Hindu. Pemujaan roh nenek moyang dilakukan di makam keluarga. Makam wali, makam tokoh penting agama, makam raja, dan makam tokoh masyarakat lainnya menjadi tempat ziarah istimewa. Ada juga orang berziarah ke makam untuk minta berkah, kekayaan, kenaikan pangkat, dan keberuntungan lainnya. Makam demikian itu disebut makam keramat.

Seseorang yang berziarah ke makam keramat wajib menuruti peraturan tertentu, berbeda dengan peraturan berziarah di makam umum. Di makam keramat, peziarah tidak boleh berbicara sembarangan, bertingkah tidak sopan, dan melakukan perbuatan terlarang. Semua harus berjalan tertib. Kekeliruan atau kesalahan yang dilakukan oleh peziarah akan mendatangkan kutukan dan
malapetaka baginya.

Melanjutkan tradisi kebudayaan Hindu, desa tempat makam keramat dibebaskan dari pajak. Namun, penduduk desa berkewajiban merawat makam keramat tersebut. Desa semacam itu disebut desa perdikan, desa pekuncen, atau tanah perdikan. Pengurus dan perawat makam raja-raja keturunan Raja Mataram Islam di Imogiri, Yogyakarta yang jumlahnya cukup banyak dijadikan pegawai keraton
dan mendapat gaji.

Jirat yang ditemukan di Indonesia terdiri atas buatan Indonesia dan buatan luar negeri. Jirat yang didatangkan dari luar negeri diduga berasal dari Gujarat, India. Jirat dari Gujarat banyak ditemukan di Aceh. Pada sisi belakang beberapa jirat terpahat relief yang sama dengan relief pada candi-candi Hindu di Gujarat. Agaknya jirat juga merupakan barang dagangan dari India dan Asia Barat. Makam-makam zaman perkembangan Islam di Indonesia, antara lain Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, makam raja-raja Samudera Pasai di Aceh, Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat, Makam Sunan Tembayat di Klaten, Jawa Tengah, makam raja-raja keturunan Mataram di Imogiri, Yogyakarta, Kompleks Makam Sultan Hasanuddin di Gowa, Sulawesi Selatan, makam para wali yang tersebar di berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

2) Masjid
Masjid adalah tempat ibadah umat Islam. Bangunan tempat ibadah yang lebih kecil dan sederhana disebut langgar atau surau. Ruang utama masjid atau surau pada umumnya berbentuk bujur sangkar dengan sebuah serambi yang cukup luas. Akan tetapi, seringkali serambi dibangun pula di kiri–kanan ruang utama. Di dinding sisi barat, dibuat sebuah ceruk cukup lebar dan tinggi yang disebut mihrab, tempat imam memimpin salat. Mihrab di Indonesia selalu terdapat di sebelah barat karena bangunan masjid selalu menghadap ke timur.

Bangunan masjid di Indonesia pada zaman Madya mempunyai ciri khusus pada atapnya. Atap masjid pada zaman Madya umumnya bertingkat dengan jumlah gasal, tiga, atau lima. Atap bertingkat itu disebut atap tumpang. Atap semacam itu mengingatkan kita pada bangunan meru di Bali, tempat suci pada pura. Pada relief-relief candi Jawa Timur pun terdapat gambar-gambar atap tumpang, walaupun sampai kini, bangunan atap tumpang yang dibuat pada zaman Kuno belum ditemukan. Mungkin bangunan dengan atap tumpang tersebut dibuat dari kayu atau bambu yang mudah hancur.

Pada surau tidak ada atap tumpang, tetapi berbentuk limas yang bagian atasnya sangat lancip. Kadang-kadang pada puncaknya diberi penutup kecil dari tanah bakar atau benda-benda lain. Penutup puncak surau itu disebut mustaka. Pada zaman Madya, tidak banyak masjid yang mempunyai menara sebagai tempat muadzin menyerukan azan. Di zaman Madya, masjid bermenara hanya ada dua buah, yaitu Masjid Kudus dan Masjid Banten. Menara Masjid Kudus
berbentuk candi gaya Jawa Timur dan atapnya berbentuk tumpang. Menara Masjid Banten bergaya Eropa dan mirip mercusuar.

b. Seni Rupa
Di dalam ajaran Islam terdapat larangan melukiskan makhluk hidup. Hal ini ditaati benar di Indonesia. Dalam seni rupa Indonesia zaman Madya, hampir tidak ada seni pahat patung seperti yang telah berkembang pada zaman Kuno. Ragam hias pada zaman Madya terpengaruh oleh ragam hias zaman Kuno. Hampir semua pola ragam hias zaman Kuno digunakan untuk ragam hias bangunan zaman Madya.

Ragam hias zaman Madya terdiri atas pola daun-daun, bunga (terutama teratai), sulur-suluran, pemandangan, dan geometris. Bahkan, sering dijumpai pola kalamakara. Kadangkala kepala makara diganti pola kepala kijang yang disebut kalamarga. Walau tidak sesuai dengan peraturan agama Islam, ternyata pola naga dan ular masih dijumpai dalam ragam hias zaman Madya. Pola binatang dan manusia ternyata tidak lenyap sama sekali. Namun, dalam pemahatannya, pola binatang dan manusia disamarkan sedemikian rupa di sekitar ragam hias yang lain sehingga tidak khusus menggambarkan binatang atau manusia dengan nyata.

Sesuai dengan peraturan agama Islam, masjid pada zaman Madya dibuat sederhana, hampir tidak ada hiasan sama sekali. Hanya mimbarnya saja yang diukir indah. Hanya ada satu masjid yang dihias dengan berukir bunga, daun, dan sulur-sulur, yaitu Masjid Mantingan di Jepara, Jawa Tengah. Apabila kita mengunjungi sebuah keraton, kita akan melihat seni ukir yang sangat indah. Pada umumnya, seni ukir di keraton kita dapatkan pada bangunan yang dibuat dari kayu, walaupun bangunan dari bata pun sebagian dipahat dengan gambar berbagai macam bentuk. Ukiran pada tiang, atap, dan dinding kayu bergambar bunga, daun, awan, dan sulur-sulur dan biasanya diberi warna kuning emas, merah, dan hijau. Pahatan pada dinding bata bergambar bunga, daun, sulur-suluran, dan awan. Di atas gapura beberapa keraton sering dijumpai pahatan kala atau ular naga, disertai huruf Jawa Kuno yang menerangkan tahun pembuatan keraton itu. Pahatan dinding ada yang diberi tata warna indah, tetapi ada pula yang tidak diberi tata warna sama sekali.

Walaupun di keraton kita dapatkan seni hias yang indah, ternyata ragam hias yang paling menonjol pada zaman Madya terdapat dalam bangunan makam. Rupa-rupanya pada bangunan makam bakat seni masyarakat zaman Madya tertuang dengan bebas. Seni hias pada makam tidak hanya terdapat pada jirat dan nisannya, tetapi juga pada cungkup, bahkan pada pintu masuk ke makam.

Selain ragam hias, biasanya pada batu nisan makam dipahatkan pula tulisan dan angka tahun sebagai peringatan orang yang dimakamkan. Bahkan, seringkali terdapat kata-kata atau syair yang indah. Contoh syair yang indah terdapat pada nisan makam di Minye Tujoh, Aceh, berangka tahun 1380. Makam ini adalah makam seorang putri yang tidak dicantumkan namanya. Pada beberapa makam raja atau wali, jirat dikelilingi penyekat kayu yang disebut rana dengan diukir indah sepenuh bidang. Ukirannya ada yang berlubang-lubang. Ukiran yang berlubang-lubang disebut ukiran kerawang. Selain di dalam makam, rana dari batu kita temukan di depan makam tanpa cungkup, atau di balik gapura masuk ke makam atau kompleks makam. Rana batu ini ada yang tanpa pahatan, ada yang dipahat penuh, dan ada pula yang dipahat kerawang. Di Madura, rana batu di depan makam disebut gunungan, berbentuk seperti gunungan pada wayang kulit.

Ukiran rana, tiang, dan atap makam biasanya juga diberi warna dengan cat kuning emas, merah, dan hijau. Gapura makam pada umumnya juga dipahat dengan berbagai gambar, ada yang sederhana, ada yang indah. Gapura Makam Sunan Tembayat di selatan kota Klaten dibangun mirip candi bentar lengkap dengan hiasan sederhana. Gapura Makam Sendang Duwur, Tuban, dibangun seperti kori agung dengan seni hias sangat indah, terdiri atas sulur-suluran, pintu gerbang tertutup, awan, sayap-sayap, kalamarga ular, dan gunung-gunung karang.

1) Relief
Telah kita ketahui bahwa di dalam ajaran Islam tidak dibenarkan menggambarkan manusia dan binatang dalam bentuk apa pun. Dengan demikian, relief yang hidup subur pada zaman Kuno, pada zaman Madya hampir tidak ada sama sekali. Gambar manusia dan binatang yang disamarkan dalam pahatan ragam hias tumbuhan atau bahkan lukisan alam apabila dapat disebut relief maka pada zaman Madya terdapat beberapa relief semacam itu.

Relief semacam itu bukan cerita, tetapi merupakan fragmen singkat sebuah cerita. Misalnya, gambar Bima bertarung melawan seekor ular di tengah laut. Relief tersebut merupakan fragmen lakon wayang Dewaruci, cerita carangan yang diambil dari kisah Mahabarata. Di Masjid Mantingan terdapat relief seekor kera yang disamarkan. Relief itu mungkin menggambarkan salah satu episode cerita Ramayana, adegan Hanoman bersembunyi di sebatang pohon di Tamansari Alengka dalam usaha menemui Dewi Sinta, istri Rama.

2) Kaligrafi
Perkembangan kebudayaan pada zaman Madya tidak begitu menonjol karena sebagian besar kebudayaannya merupakan kelanjutan kebudayaan zaman Kuno yang disesuaikan dengan kaidah-kaidah agama Islam.
Kebudayaan yang berkembang, khususnya kesenian khas zaman Madya adalah seni kaligrafi. Kata kaligrafi berasal dari bahasa Yunani “kallos” yang berarti keindahan dan “grapheir” yang berarti tulisan. Kaligrafi berarti seni menulis indah. Pada zaman Madya, kaligrafi merupakan komposisi huruf-huruf Arab yang biasanya berupa rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an sedemikian rupa hingga kalau dilihat sepintas hanya merupakan gambar atau ukiran suatu tokoh, binatang, atau bentuk-bentuk lukisan yang lain. Seringkali kaligrafi menggambarkan tokoh wayang. Kaligrafi pada zaman Madya kita temui pada beberapa nisan, dan ukirukiran kayu di beberapa keraton, misalnya Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon.

c. Seni Sastra
Hasil seni sastra zaman Madya yang sampai pada kita ternyata tidak sebanyak hasil seni sastra zaman Kuno. Mungkin karya sastra zaman itu lebih banyak daripada yang kita ketahui, tetapi karena tidak seperti seni sastra zaman Kuno yang tetap disimpan dengan baik, maka yang sampai pada generasi penerusnya sangat sedikit. Di Bali, seni sastra zaman Madya hanya sedikit saja yang masih dijumpai.

Berbeda pula dengan seni sastra zaman Kuno, angka tahun pada karya sastra zaman Madya tidak dapat dipakai sebagai patokan neriodisasi karya sastra tersebut. Karya sastra zaman Madya yang ditemukan belum dapat ditentukan apakah karya sastra itu asli atau salinan. Mungkin saja angka tahun yang tercantum adalah angka tahun saat penyalinan naskah tersebut.

Selain cerita asli Indonesia sendiri, sastrawan zaman Madya juga menyadur karya sastra negara lain. Dilihat dari karya asli atau karya saduran, karya sastra zaman Madya dapat dibagi menjadi gubahan karya sastra zaman Kuno dan saduran karya sastra Timur Tengah. Dilihat dari bentuknya, karya sastra ditulis dalam bentuk gancaran atau dalam bentuk tembang. Di daerah Melayu, gancaran disebut hikayat dan tembang disebut syair.

Permasalahan yang ditulis dalam hikayat bermacam-macam. Boleh dikatakan segala macam persoalan dapat ditulis dalam hikayat yang pada umumnya hanyalah dongeng penuh dengan keajaiban dan keanehan. Ada pula hikayat yang digubah dengan maksud sebagai cerita sejarah, walaupun isinya tidak seperti apa yang kita kenal sebagai tulisan sejarah. Gubahan semacam itu dinamakan babad. Tokoh, tempat, dan peristiwa dalam babad hampir semua ada dalam sejarah, tetapi sering digambarkan secara berlebihan. Di daerah Melayu, babad dikenal dengan nama sejarah atau tambo yang diberi judul hikayat. Seperti hikayat, syair juga mengisahkan bermacam-macam hal.

Perbedaannya, hikayat ditulis dalam bentuk prosa, sedangkan syair ditulis dalam bentuk puisi. Syair terdiri atas bait-bait dan tiap bait terdiri atas empat baris. Bentuk karya sastra yang serupa dengan syair adalah pantun. Selain hikayat dan syair, ada lagi jenis kitab yang ditulis pada zaman Madya yang disebut suluk. Kitab-kitab suluk menguraikan masalah-masalah tasawuf, paham yang dianut kaum Sufi. Kitab ini mengajarkan tentang pencapaian kesempurnaan dengan meninggalkan keduniawian dan hanya mengutamakan bersatunya manusia dengan Tuhan. Dalam mencari kesempatan itu, kadangkadang manusia mengembara tanpa menghiraukan kehidupan duniawinya. Suluk ada yang berwujud prosa dan ada pula yang berwujud puisi. Agak berlainan dengan suluk ada kitab primbon yang mengetengahkan kegaiban, penentuan hari baik dan buruk dalam hidup manusia, dan ramalan-ramalan. Seni sastra terpenting pada zaman Madya adalah sebagai berikut.

1) Babad
Babad adalah cerita sejarah yang umumnya lebih berupa cerita daripada uraian sejarah meskipun yang menjadi pola adalah memang peristiwa sejarah. Beberapa bentuk cerita babad yang dapat dijumpai, antara lain sebagai berikut.
a) Babad Tanah Jawi
Kitab ini menceritakan silsilah raja-raja Jawa, dimulai dari Nabi Adam, Nabi Sis, Nurcahya, Nurasa, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, dan Bathara Guru. Bathara Guru bertakhta di Suralaya berputra lima orang di antaranya adalah Bathara Wisnu yang kemudian turun ke dunia menjadi raja pertama di Pulau Jawa dengan gelar Prabu Set. Jadi, Bhatara Wisnu yang menurunkan raja-raja Jawa.
Selanjutnya diceritakan pula tentang Raja Jawa dan kerajaan, seperti Pajajaran, Majapahit, dan Demak. Walaupun kitab Babad Tanah Jawi dimaksud sebagai cerita sejarah, kitab itu ternyata banyak sekali mengungkapkan hal-hal yang tidak masuk akal. Namun, dalam kitab ini ada pula beberapa keterangan yang dapat kita gunakan sebagai pedoman untuk penelitian sejarah.
b) Babad Cirebon
Kitab ini dinamakan juga Daftar Sejarah Cirebon dan kitab Silsilah Segala Maulana di Tanah Jawa atau Hikayat Hasanuddin. Babad Cirebon adalah saduran dari kitab Sejarah Banten Rante-rante yang mengisahkan riwayat beberapa orang wali di Jawa, terutama Sunan Gunung Jati lengkap dengan silsilah dan kedatangan Pangeran Pajunan di Cirebon. Sunan Ampel dalam kitab ini disebut Pangeran Ampel Denta. Dalam kitab ini juga dikisahkan penyebaran agama Islam di Banten dan raja-raja Banten, sejak Sultan Hasanuddin hingga Sultan Abdul Mufakir. Kitab itu juga memuat silsilah Sultan Ahmad ‘Abd al Arifin yang berasal dari Demak. Babad Cirebon dapat kita katakan sebagai kitab sejarah.
c) Sejarah Melayu
Sejarah Melayu dinamakan juga Sulalatus Salatin, ditulis oleh Bendahara Tun Muhammad, Patih Kerajaan Johor. Kitab ini ditulis atas perintah Raja Abdullah, adik Sultan Ala’uddin Riayat Syah III. Sejarah Melayu dimulai dari riwayat Iskandar Zulkarnain dari Macedonia. Seorang keturunannya tiba di Bukit Seguntang, Palembang dan menjadi raja. Kerajaan ini kemudian berpindah ke Singapura, dan selanjutnya ke Malaka. Bagian terbesar kitab ini mengisahkan tentang raja-raja, rakyat, dan adat-istiadat di Kerajaan Malaka sampai jatuhnya ke tangan Portugis. Bagian terakhir membentangkan nasib dan usaha-usaha raja-raja Malaka dalam menegakkan kembali kerajaan lamanya di Johor.
d) Tambo Minangkabau
Kitab Tambo Minangkabau mengisahkan tentang kerajaan-kerajaan, rajaraja, dan tokoh-tokoh Minangkabau, Sumatra Barat. Seperti cerita babad, cerita tambo juga penuh dengan keajaiban, kegaiban, dan kesaktian tokoh-tokohnya.
e) Lontara Bugis
Lontara Bugis berisi kisah sejarah kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan. Seperti halnya babad dan tambo, lontara bercerita pula tentang raja-raja dan tokoh-tokoh Bugis dengan keajaiban, dan kesaktiannya.

2) Hikayat
Beberapa jenis hikayat yang dapat kita pelajari, antara lain sebagai berikut.
a) Hikayat Sri Rama
Kitab ini disadur dari kitab Ramayana. Ceritanya tentang riwayat Rama sejak lahir, kemudian peperangannya dengan Kerajaan Alengka untuk merebut istrinya, Sinta. Dalam peperangan itu Rama dibantu prajurit kera.
Dalam hikayat ini, Dewi Sinta setelah direbut dari tangan Rahwana segera dibawa kembali ke Ayodya. Namun, timbulnya desas-desus yang menyangsikan kesucian Sinta sehingga ia dikucilkan di Pertapaan Walmiki. Cerita selanjutnya sesuai dengan kitab ketujuh, Uttara Kanda.
b) Hikayat Hang Tuah
Kitab ini berisi kisah separuh tentang keperwiraan dan kesetiaan seorang Laksamana Kerajaan Malaka bernama Hang Tuah bersama empat orang sahabatnya, Hang Jebat, Hang Lekir, Hang Lekiu, dan Hang Kesturi yang berhasil menjadi orang besar. Hang Tuah begitu termashyur, tetapi tokoh itu diduga hanya berupa cerita legenda saja.
c) Hikayat Amir Hamzah
Cerita dari Timur Tengah ini di Jawa mendapat banyak tambahan dan disesuaikan dengan kebudayaan Jawa yang diberi judul Serat Menak. Tokohnya adalah Amir Hamzah yang di Jawa disebut Wong Agung Menak atau Wong Agung Jayengrono. Cerita dasarnya adalah peperangan Amir Hamzah melawan mertuanya yang masih kafir, Raja Nursewan dari Kerajaan Madayin. Peperangan itu akibat akal licik dan fitnah Patih Madayin yang bernama Patih Bastak. Peperangan itu tidak pernah berakhir karena setiap kali Nursewan kalah maka ada pihak yang membantu, begitu pula apabila Amir Hamzah yang kalah. Begitu panjangnya cerita itu hingga membosankan pembacanya.
d) Bustanus Salatin
Kitab ini ditulis Nurrudin al Din ar Raniri atas perintah Sultan Iskandar Thani dari Aceh pada tahun 1638. Bustanus Salatin terdiri atas beberapa bagian. Bagian pertama berisi penciptaan bumi dan langit serta masalah keagamaan dan kesusilaan. Bagian selanjutnya, berisi riwayat nabi-nabi agama Islam sejak Nabi Adam hingga Muhammad. Ditulis pula sejarah bangsa Arab pada saat pemerintahan beberapa khalifah, sejarah raja-raja Islam di India, Malaka, Pahang, dan Aceh. Bagian paling akhir menekankan segi moral manusia, misalnya uraian tentang perbedaan raja, pegawai, dan orang-orang yang adil, cakap, dan saleh dengan raja, pegawai, dan orang-orang yang tidak adil, tidak saleh, dan suka menipu.

3) Syair
Beberapa kesusastraan yang berbentuk syair, antara lain sebagai berikut.
a) Syair Ken Tambuhan
Menceritakan percintaan Raden Inu Kertapati, putra mahkota Kerajaan Kahuripan dengan Ken Tambuhan, seorang putri yang dijumpainya di hutan. Ken Tambuhan dibunuh atas perintah permaisuri dan mayatnya dihanyutkan ke sungai dengan rakit. Mayat itu ditemukan Inu Kertapati. Begitu sedihnya Inu Kertapati hingga akhirnya ia bunuh diri.
b) Syair Abdul Muluk
Diceritakan bahwa Raja Abdul Muluk dari Kerajaan Barbari mempunyai dua orang istri, Siti Rahmah dan Siti Rafiah. Ketika negerinya diserang Raja Hindustan, seluruh penghuni istana dapat ditawan, tetapi Siti Rafiah berhasil melarikan diri. Dengan perjuangan yang gigih akhirnya Siti Rafiah berhasil merebut kembali Kerajaan Barbari bersama sahabatnya yang bernama Dura. Siti Rafiah juga berhasil menaklukkan Kerajaan Hindustan. Beberapa contoh kesusastraan berbentuk syair lainnya adalah Syair Bidasari, Syair Yatim Nestapa, Syair Anggun cik Tunggal, Syair Si Burung Pingai, dan Syair Asrar al Arifin. Dua yang terakhir adalah berbentuk syair suluk.
c) Gurindam Dua Belas
Gurindam Dua Belas ditulis oleh Raja Ali Haji, berbentuk puisi yang aturannya sedikit lebih bebas daripada syair. Gurindam Dua Belas berisi nasihat bagi semua orang agar menjadi orang yang dihormati dan disegani. Gurindam Dua Belas juga berisi petunjuk cara orang mengekang diri dari segala macam nafsu duniawi.

4) Suluk
Beberapa kesusastraan yang berbentuk suluk, antara lain sebagai berikut.
a) Suluk Sukarsa
Suluk Sukarsa bercerita tentang Ki Sukarsa yang mencari ilmu sejati demi mencapai kesempurnaan.
b) Suluk Wijil
Suluk Wijil berisi nasihat Sunan Bonang kepada muridnya Wijil, yaitu seorang mantan abdi di Kerajaan Majapahit yang tubuhnya kerdil.

d. Wayang
Wayang merupakan warisan tradisi lokal. Wayang mendapat pengaruh Hindu–Buddha dan ketika Islam mulai berkembang masih tetap bertahan, bahkan sampai sekarang. Beberapa sumber menghubungkan kata wayang dengan hyang, artinya leluhur atau nenek moyang. Wayang disebut juga ringgit. Apa artinya? Ada yang mengatakan ringgit artinya ledhek (bahasa Jawa), yaitu penari wanita. Rassers mengatakan kata ringgit berasal dari kata rungkut (tempat tersembunyi). Sebab wayang dimainkan di tempat yang tersembunyi di hutan di bawah pepohonan. Hal ini ada hubungannya dengan upacara inisiasi. Namun, sampai sekarang belum ada keterangan yang memuaskan tentang arti dan asal kata wayang.

J.L.A. Brandes menyatakan bahwa wayang merupakan budaya asli Indonesia. Di India tidak terdapat wayang yang ada hanya permainan dengan alat boneka. Ia menambahkan bahwa banyak istilah asli dalam wayang Indonesia, misalnya kelir, kayon, dan bonang. Istilah dalam wayang yang berasal dari bahasa Sanskerta hanya cempala (pemukul kotak).

1) Wayang Beber
Beber (dibeber) berarti dibentangkan atau diceritakan. Wujudnya gambar urut yang kemudian diterangkan. Saat ini kita hanya mengenal dua wayang beber yang masih ada di Wonosari dan Pacitan. Duplikat wayang ini terdapat di Museum Radyapustaka, Surakarta.

2) Wayang Purwa
Wayang purwa disebut pula wayang kulit karena dibuat dari kulit hewan. Disebut wayang purwa sebab ceritanya mengambil dari cerita lama Ramayana dan Mahabharata. Dari wayang purwa ini diturunkan menjadi berjenis-jenis wayang, seperti wayang gedog, wayang klitik, dan wayang golek.

Wali dan Wayang Kulit
Wayang sebagai salah satu upaya sarana dalam proses Islamisasi. Menurut Prof. Mr.M.M Djoyodiguno mengatakan bahwa “Wayang kulit itu penuh dengan simbolik. Manusia mencari keinsyafan akan sangkanparannya, dan bukan manusia yang hanya hidup tidak mati “ Menurut Dr G.H.J Hazeu dan R.M Mangkudimejo mengatakan bahwa:
1. Mulai ada pertunjukan wayang masa Sang Prabu Jayabaya tahun Suryo 861.
2. Atas usul Sunan Kalijaga tahun 1443, para wali menciptakan wayang purwa dan dibuat satu-satu, terbuat dari kulit kambing. Masing-masing wayang dijapit untuk menancapkan, sedang tangannya masih diiris seperti wayang Bathara Guru.
3. Sewaktu Ratu Tunggal di Giri mewakili raja Demak tahun candra 1480, juga membuat wayang purwa dari kulit. Wujudnya diperkecil disebut wayang kidang kencono. Wayang perempuan dilengkapi dengan anting-anting, kroncong, dll, sedangkan wayang laki-laki rambutnya ada yang di konde ada yang tidak.

2. Peninggalan Nonfisik
Peninggalan nonfisik adalah peninggalan yang tidak berwujud kebendaan, tetapi berupa adat istiadat atau hal lainnya yang menjadi kebiasaan turuntemurun dan selalu dilaksanakan dalam kehidupan.

a. Sekaten
Peninggalan sejarah yang bercorak Islam dalam bentuk seni pertunjukan adalah perayaan Garebek Besar dan Garebek Maulud (perayaan Sekaten). Perayaan Garebek Besar dan Garebek Maulud dilakukan di Demak, Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, Banten, dan Aceh. Di Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon perayaan Maulud disebut Sekaten.

Istilah sekaten berasal dari kata syahadatain, pengakuan percaya kepada ajaran agama Islam, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Sekaten diperkenalkan oleh Raden Patah di Demak pada abad ke-16. Pada saat itu orang Jawa beralih memeluk agama Islam dengan mengucapkan shahadatain. Oleh karena itu, penggunaan nama sekaten pada perayaan tersebut menjadi terkenal. Perayaan Sekaten kemudian diteruskan oleh sultan-sultan berikutnya sehingga menjadi perayaan tahunan. Pada perayaan ini seluruh pusaka kerajaan Yogyakarta dan Surakarta dibersihkan dalam upacara penyucian khusus. Selain itu, sultan membagikan berkah berupa lima jenis nasi yang dibentuk seperti gunung. Kelima macam nasi tersebut mewakili jagad atau dunia orang Jawa.

b. Ziarah ke Makam
Ziarah bagi sebagian masyarakat Indonesia sudah menjadi tradisi. Ziarah berasal dari bahasa Arab, artinya mengunjungi. Istilah ziarah disebut juga dengan sowan (mengunjungi) dan nyekar (meletakkan bunga di atas makam).

Ziarah biasanya dilakukan di makam keluarga, makam wali, makam tokoh penting agama, makam raja, atau di makam tokoh penting masyarakat lainnya. Orang melakukan ziarah dengan tujuan berbeda-beda, misalnya untuk mendapatkan anugerah dengan memuja roh nenek moyang, mensyukuri kebesaran Tuhan, mengingatkan tentang akhirat, menghormati orang yang telah meninggal, atau melanggengkan hubungan antara orang hidup dan yang telah mati.

Tradisi ziarah dipengaruhi oleh kebudayaan Indonesia lama (kebudayaan lokal) dan kebudayaan Hindu–Buddha berupa tradisi pemujaan terhadap arwah nenek moyang......

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: