March 29, 2012

Unsur Pendukung Tari dari Cabang Seni lainnya


Unsur Pendukung Tari dari Cabang Seni lainnya
Setiap cabang seni menggunakan media ungkap yang berbeda. Karya seni tari menggunakan media gerak sebagai substansi bakunya. Elemen kedua setelah gerak adalah ritme. Ritme pada sebuah tarian ditimbulkan oleh irama yang keluar dari alat musik ritme yang keluar dari dalam hati penari ketika menari. Oleh karena itu, ritme merupakan unsur seni musik atau karawitan musik tradisional. Kedudukan ritme menjadi unsur lain yang mewujudkan sebuah tarian. Ritme dihasilkan oleh bunyi alat musik yang dimainkan dan dihasilkan oleh irama gerakan tubuh ketika menari. Jika gerak tari tidak diiringi musik atau karawitan pun, di dalamnya tetap menggunakan unsur ritme, yaitu irama gerak tubuh penari tadi. Selain itu, cabang seni lain yang menjadi bagian dari pembentuk tari adalah seni rupa, seni peran, dan penataan pentas artistiknya.

1. Iringan sebagai Pendukung Seni Karawitan pada Tari
Jenis alat musik tradisional di Indonesia sangat banyak jumlahnya. Alat musik tradisional merupakan jenis pengiring tari tradisonal yang khas dari tiap daerah. Selain menggunakan alat musik tradisional untuk mengiringi tarian, ada pula tarian yang mengandalkan nyanyian sebagai pengiring tariannya (internal). Tarian yang ada di luar Pulau Jawa banyak yang menggunakan musik internal sebagai pengiring tari.
Alat musik tradisional dari daerah Jawa dan Sumatra memang ada yang mirip bentuknya. Di Jawa Barat terdapat gamelan berlaras pelog/salendro. Bentuk sebuah alat musik yang dinamakan penclon (Sunda) yang merupakan salah satu nama waditra bonang. Rincik bentuknya mirip dengan alat musik talempong (Sumatra). Gendang/kendang bentuknya sama, tetapi cara menabuhnya berbeda, misalnya antargendang Cirebon, Jawa, dan Bali. Bentuk yang lain lagi dari sebuah gendang adalah tifa, yaitu alat pukul dari Maluku dan Irian.

a. Iringan Eksternal
Tarian umumnya diiringi permainan alat musik tradisional atau diiringi nyanyian orang lain. Nyanyian yang mengiringi tarian diiringi permainan alat musik yang kemudian digunakan sebagai pengiring tarian. Cara mengiringi tarian dengan alat musik dan nyanyian dari orang lain inilah yang disebut iringan eksternal.
Iringan musik eksternal merupakan pedoman ritme yang di- gunakan penari untuk bergerak sehingga iringan pada tarian dapat difungsikan sebagai ilustrasi pendukung suasana (karakter tari) dan juga difungsikan sebagai patokan bagi penari untuk bergerak. Iringan eksternal harus dapat mewujudkan karakter tokoh tarian dan identitas kultur tarian. Tari dari daerah Betawi yang khas dengan bunyi gesekan biola, tanjidor yang unik dengan terompet besar, dan suara rebana/terbang hanya akan berkesan harmoni dan utuh apabila digunakan untuk mengiringi tarian berlatar belakang lagu “Sirih Kuning”, “Jali-Jali”, dan lagu khas Betawi lainnya.

b. Iringan Internal
Tari Kecak dari Bali hanya mengandalkan suara penari berbentuk nada sebagai pedoman ritme tarian. Ketika Rama Shinta menari di tengah Tarian Kecak, vokal penari Cak diatur sedemikian rupa dengan pola tertentu. Dengan demikian, ada saatnya penari Shinta menyanyi sendiri sambil menari, sementara suara penari Cak laki-laki dibuat sayup-sayup. Perbedaan vokal yang dibunyikan merupakan tanda perubahan gerakan dari penari Rama/Shinta yang berad di tengah arena. Penari Kecak dengan posisi duduk melingkar, tangan di atas, tanpa mengenakan busana bagian atas, bertelanjang dada, ditarikan oleh puluhan pria dan menggunakan kain catur khas bali, menyusun pola nada Cak atau Sir, dengan tempo dan dinamika yang berbeda.
Gerakan saja sebagai transisi (perpindahan) dari gerak ke gerak berikutnya, tanpa diiringi vokal, juga merupakan bentuk iringan internal. Tari Saman pada beberapa transisi (perpindahan pola gerak) memiliki saat hening tanpa suara, tanpa nyanyian. Namun, tetap menimbulkan efek suara ketika menepukkan tangan ke badannya, sementara gerakan berlangsung membentuk ritme.

c. Iringan Kontras
Iringan tari harus kontras dengan gerakan. Misalnya, gerakan lemah dan gerakan bervolume kecil diiringi dengan ilustrasi iringan yang ramai bergemuruh. Jika diterjemahkan, kontrasnya dua elemen dasar tari ini ketika dipadukan dapat menunjukkan penggambaran tokohnya memiliki karakter yang lembut dan sederhana, tetapi mampu menahan amarah atau emosi seburuk apa pun. Gambaran emosi ditunjukkan oleh iringan yang keras. Adapun karakter tokoh digambarkan dengan gerakan yang lemah dan lembut bervolume kecil. Tarian seperti ini sangat khas diungkapkan oleh Tari Topeng Panji dari Cirebon (Jawa Barat) yang termasuk ke dalam tari tunggal.

d. Iringan Harmoni
Dukungan ilustrasi musik pada sebuah tarian tidak harus paralel. Jika gerakan menangis, suasana sedih akan lebih terasa jika dilatarbelakangi iringan yang mengalun dan tempo lambat. Misalnya, dengan suara suling yang mendayu-dayu. Suasana gembira diiringi dengan irama yang ritmis energik dengan melodi yang mengundang orang untuk ikut mengetukngetukkan kakinya. Ada saat lain iringan berbanding terbalik dengan gerakan. Misalnya, untuk menunjukkan kemarahan, orang bisa mengekspresikannya dengan berdiri diam, membuka kaki menatap ke arah depan, dengan dada membusung, napas agak berat turun naik, tetapi musik bergemuruh, ramai riuh rendah dengan tabuhan yang stacatto. Pada Tari Topeng Panji dari Cirebon, adegan seperti itu memang menjadi keunikan tersendiri. Penari topeng berwarna putih diam dalam posisi adeg-adeg kaki dibuka lebar, dan sedikit menggerakkan pergelangan tangannya, sementara suara gamelan dan tabuhan gendang sangat keras.
Tari Kecak dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Informasi tentang Tari Kecak dapat Anda temukan lebih lengkap di  http://id.wikipedia.org

2. Rias Busana sebagai Unsur Pendukung Cabang Seni Rupa
Penggunaan garis rias, warna, dan desain busana pada tari merupakan perwujudan ilmu seni rupa. Rias dan busana pada tari menjadi penegas karakter tokoh pada tari tunggal dapat divisualisasikan dengan garis rias wajah. Garis dasar wajah yang menunjukkan karakter/watak tokoh pada tarian terdiri atas garis alis, bibir, dan mata. Jika secara visual tokoh yang berkarakter gagah ditunjukkan dengan langkah yang besar, gerak tangan yang bervolume besar dan tenaga yang kuat, pada rias wajah, kekuatan karakter ditunjukkan oleh berbagai macam garis alis. Semakin tegas garisnya, semakin kuat karakternya. Pada garis mata disimbolisasikan dengan garis pada kelopak mata dan penggunaan warna yang tegas. Keindahan pada tarian tidak akan lengkap secara visual sebelum diwujudkan dengan dukungan rias dan busananya.
Bagaimana sosok seorang putri nan cantik dalam imajinasi Anda menjelma pada penari yang membawakan tarian tentang seorang ratu dengan busana. Kesan pertama tentang siapa tokoh tari akan diceritakan oleh busana. Karakter tokoh yang dimainkan pada tari tunggal selain oleh bentuk gerak, juga diwujudkan oleh garis dan desain busana. Selain itu, sebuah identitas kultur juga akan terbaca dari busana tarinya karena Indonesia khas dengan multietniknya. Keindahan busana Tari Klasik dari Jawa ditunjukkan dengan desain busana wanita dan pria yang khas. Wanita mengenakan busana sebatas dada dan kain yang dililit membentuk tubuh penari dan identik dengan putri kerajaan zaman dulu. Mereka mengenakan sanggul atau konde dengan berbagai bentuk dan menunjukkan dari mana kultur tari tersebut berasal.
Jika Anda memperhatikan tari-tarian dari Sumatra Barat atau Aceh, bagian yang terbuka pada penari wanita hampir tidak ada. Hal tersebut berkaitan dengan kultur dan kebiasaan yang lekat pula dengan kehidupan beragama bagi mereka. Para penari wanita mengenakan sarung pada bagian bawah dan baju kurung pada bagian atasnya, juga menutup kepala dengan kain. Para penari pria mengenakan celana panjang bernama galembong dan tutup kepala dengan desain ciri khas aceh, ikek atau ikat pinggang, dan sisampiang kain yang diikat di pinggang sebatas paha, sedikit di atas lutut. Karakter tokoh ditunjukkan pula oleh garis rias wajah. Tarian dari Pulau Jawa pada genre atau kelompok tertentu menggunakan rias karakter yang tegas. Seperti pada garis alis untuk wanita dengan karakter lincah (ladak) berbeda dengan karakter wanita halus (alus).

a. Jenis Properti Tari sebagai Bagian dari Unsur Seni Rupa
Sebagian besar tarian menggunakan alat bantu yang disebut properti. Desain dan bentuk sebuah properti jelas mendapat sentuhan ide dan tangan perupa. Properti dimainkan menjadi bagian dari gerak dan membentuk pola gerak. Pola gerak properti yang satu akan berbeda dengan pola gerak properti lainnya. Ketika properti digunakan, gerak dapat menjadi lebih hidup. Gerakan dapat ditangkap maksudnya karena permainan properti. Berbagai jenis properti digunakan di setiap daerah, wujud fisik properti dan fungsinya, serta cara memainkannya bergantung kepada kultur daerah setempat.
Alat apa yang sering Anda lihat dalam sebuah sajian tari? Ketika Anda akan berlatih tari, yang biasanya langsung Anda siapkan adalah sebuah selendang, bukan? Itulah salah satu properti tari. Makna dan fungsinya di masyarakat sangat beragam terkait dengan kebiasaan dalam setiap kelompok masyarakat. Ulos (selendang dari Batak) merupakan properti yang paling lekat dengan sebuah karya tari di daerah Batak.
Jenis properti lain yaitu sebagai berikut:
• Keris digunakan pada tari-tarian dari Jawa
• Busur dan panah (gondewa = Sunda) digunakan pada hampir semua tarian di seluruh wilayah Indonesia karena kaitannya dengan kultur simbolisasi perang atau berburu sebagai mata pencarian.
• Tombak Contohnya, tombak digunakan oleh tarian yang berasal dari Papua.
• Kipas, payung, dan sapu tangan Umumnya properti ini digunakan sebagai properti pada tari kreasi di seluruh wilayah Indonesia dengan desain yang berbeda.
• Alat musik tradisional sering kali digunakan pula sebagai properti. Misalnya, rebana, tamborin, kendang, angklung.

b. Jenis Aksesori Tari
Busana tarian selain berfungsi sebagai penegas karakter, juga sebagai penutup tubuh yang dapat memberi kesan mewah, glamour, suci, sederhana, cantik, anggun, gagah, dan menunjukkan latar belakang. Busana Betawi akan berbeda dengan busana dari Papua, Kalimantan Timur berbeda dengan Kalimantan Barat pada motif bunga/hiasan pakaiannya. Status menunjukkan dari mana tarian ini tumbuh dan berasal, dari rakyat jelata, bangsawan, mewakili masyarakat umum. Jenis tarian dan busana menunjukkan kelompok tarian.
Bagian dari busana yang dapat memberi kesan lebih kuat lagi adalah aksesori. Selain itu, aksesoris juga ada yang digunakan untuk menutupi kekurangan kekosongan wilayah busana yang, kadang-kadang digunakan sebagai properti. Tusuk konde/sanggul hanya digunakan sebagai hiasan sanggul, dan kini pada beberapa garapan tari sering digunakan sebagai properti sebagai senjata dan pamungkas terakhir bagi wanita.
Aksesori yang berfungsi untuk memberikan kesan cantik dan glamour, misalnya tekes/sobrah, yaitu tutup kepala pada Tari Topeng Cirebon yang merupakan properti sekaligus aksesori. Kacamata hitam pada Tari Dolalak mungkin dipengaruhi budaya luar atau hanya andaflase kebebasan penari agar dapat melihat sekelilingnya dengan bebas. Seperti aksesori kuku tangan penari Sriwijaya dari Palembang pada tarian persembahan, mendapat pengaruh dari tari negara Burma. Aksesori juga dapat digunakan sebagai properti. Kedudukan properti sebelum digunakan dalam gerakan bisa berfungsi sebagai aksesori.

3. Karakter Tarian sebagai Unsur Pendukung Seni Peran
Beragam sifat dan karakter manusia digambarkan pada tari-tarian di Indonesia disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan diungkapkannya sebuah tarian. Karakter dan sifat yang dibawa manusia sejak lahir akan menunjukkan dua sisi mata uang yang berbeda.
• Sifat periang dengan tipe sifat penyendiri
• Karakter yang lembut dengan karakter yang kasar
• Karakter yang angkuh/sombong dengan rendah hati
• Karakter pemalu dengan pemberani, dan lain sebagainya

Sentuhan estetik pada sebuah tarian bisa berupa teknis menyajikan sebuah tarian dan sentuhan estetik yang dirasakan jiwa penari yang bertitik tolak pada kaidah seni. Menerjemahkan sentuhan estetis dari sebuah karya seni tari agak sulit dalam bentuk teoretis. Hal tersebut hanya dapat dirasakan dan ditangkap bukan hanya dengan wujud visual, tetapi dirasakan dengan jujur oleh apresiator (sebagai penonton) dan oleh pelaku (penari).
Hal yang terpenting berarti bahwa unsur estetis yang sulit ditangkap kontak fisik hanya dapat diungkapkan oleh batin penikmat seninya. Nikmat bagi apresiator adalah ketika bisa menikmati kemampuan pelaku atau penari ketika menarikannya dengan sempurna. Teknik gerakan yang baik ditunjukkan dengan  elenturan, keseimbangan, tenaga sang penari, maupun ekspresi penari yang menunjukkan karakter tokoh tari yang dibawakannya seperti menjelma dalam tokoh tari tersebut. Pendalaman atau penjiwaan tarian hanya dapat terbentuk apabila penari telah melalui berbagai tahap pembentukan. Tahap menguasai tubuhnya dengan sering mengolah tubuh agar lentur memiliki keseimbangan tubuh ketika bergerak, kekuatan tubuh untuk menari berjam-jam, kontrol emosi, mengendalikan napas, kemudian mengendalikan sikap tubuh yang dikoordinasikan dengan penguasaan jiwa yang memiliki karakter sesuai dengan tarian.

4. Penataan Pentas sebagai Unsur Pendukung Pada Tari
Pada tari pertunjukan, penataan pentas sangatlah erat dengan keberhasilan dan kesuksesan sebuah perwujudan penataan tari. Tarian yang telah diaransemen untuk suguhan yang menghibur penontonnya dengan segala aspek yang membuat penonton puas. Bayangkan saja apabila pada sebuah tari pertunjukan tidak mendapat penataan pentas? Bagaimana mengatur keluar masuknya kelompok penari pada saat akan menyajikan atau keluar setelah menari bebas mengambil jalan keluar? Betapa kisruhnya pentas dan membuat mata jadi lelah. Atau tarian hanya diterangi oleh cahaya yang tidak dapat menerangi seluruh gerakan penari sehingga penonton tidak akan menangkap wujud utuh sebuah tarian. Masih banyak lagi ilmu tata pentas yang menjadi pendukung penting pada sebuah karya tari yang harus dipersiapkan. Dari paparan ini, yang terpenting adalah bukan menghafal semua unsur seni, tetapi memahami apa saja yang membuat sebuah karya seni tari memiliki nilai estetis, artistik, dan bahkan nilai filosofi yang terkandung dalam makna yang terkandung dalam tari.

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: