March 25, 2012

Perkembangan Tari Tunggal Nusantara


Perkembangan Tari Tunggal Nusantara
Perkembangan tari Nusantara akan lebih mudah jika dikelompokkan berdasarkan periode masuknya penyebaran agama ke Indonesia atau berdasarkan perubahan sejarah. Jika Anda tinggal di Medan, mungkin Anda pernah menonton pergelaran tari yang berjudul Tari Zapin. Tari ini salah satu tarian yang mendapat pengaruh dari bangsa Arab. Kata Zapin diambil dari kata al-zafin yang artinya gerak kaki. Adapun secara koreografi, perkembangan Tari Zapin tetap menampilkan motif-motif gerak tari Melayu dan tidak menghilangkan ciri khas gerak berirama dari tari-tarian Melayu. Dahulu Tari Zapin sering ditarikan hanya oleh seorang penari (tunggal), tetapi sekarang kadang-kadang dibawakan oleh sepasang laki-laki atau perempuan dengan laki-laki.

Busana khas Tari Zapin yang unik, demikian pula jenis tari lainnya yang berasal dari Sumatra, mendapat pengaruh dari masuknya Islam ke Sumatra, seperti yang dikenakan oleh kebanyakan para penarinya, yaitu ‘serba tertutup’. Busana wanita terdiri atas kebaya labuh berlengan panjang, atau baju kurung, dan kain songket panjang atau celana panjang. Adapun penari laki-laki mengenakan busana kecak musang dan baju kurung teluk belanga. Baju ini biasa dipakai lakilaki ketika pergi ke masjid untuk shalat. Bagian depannya terdapat belahan yang berkancing, di sampingnya dibelah kiri d n kanan, seperti yang Anda kenal sebagai baju koko. Mereka juga memakai songkok atau peci.

Demikian pula jika Anda perhatikan syair lagu yang Mengiringi Tari Zapin, sangat kental dengan pepatah bersumber dari agama Islam, seperti lagu “Bismilah”, lagu “Pulut Hitam”, lagu “Sayang Serawak”, atau lagu “Lancang Kuning”, yang bertempo rentak (rancak, dinamis). Musiknya berirama gambus dengan iringan alat musik biola, gendang, gong, dan akordeon. Dalam setiap selingan alunan lagunya diselingi paduan balas pantun. Bagi Anda yang tinggal di Pulau Jawa, sedikit banyak tidak akan asing mendengar sebuah tari yang diberi nama Tari Golek. Di Yogyakarta maupun Surakarta, tari ini kerap dikenal sebagi tari tunggal yang terinspirasi dari boneka kayu yang dinamakan golek. Tarian ini biasanya ditarikan pada pertunjukan wayang kulit di akhir lakonnya. Sinopsis atau gambaran dari Tari Golek menggambarkan seorang gadis remaja yang sedang menghias diri.

Pernahkah Anda mendengar, bahkan mungkin menonton, Tari Gambyong? Tarian ini merupakan jenis tari rakyat yang sifatnya menghibur. Gambyong itu sendiri adalah nama dari bagian pertunjukan tayuban, yaitu ketika penari perempuan yang disebut ledhek/tledhek menari sendiri, Kemudian, ia berduet dengan penari laki-laki yang mengajaknya menari bersama. Ketika penari laki-laki telah ikut serta menari, maka tari itu disebut tayuban atau menari bersama.

Mengamati busana Tari Gambyong, berkesan bahwa tarian ini adalah tarian rakyat jelata. Perhatikan gambat di samping. Busana yang dikenakan berupa kain batik, angkin atau penutup torso (bustier), bahu terbuka, selendang (sondher), dan rambut disanggul alakadarnya. Pada masa kerajaan, di hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa terdapat cara berpakaian yang berbeda antara para bangsawan keraton dengan rakyat biasa. Perbedaan tersebut jelas diwujudkan pada Tari Gambyong ini.

Selain itu, tari tunggal di Indonesia pada saat tumbuh kembangnya memiliki perbedaan. Tari-tarian di luar Pulau Jawa pada zaman sebelum kemerdekaan sangatlah jarang menyuguhkan tari tunggal. Selain karena faktor sumber daya manusia atau seniman kreator yang masih sedikit, juga karena kebutuhan masyarakatnya lebih cenderung pada tari-tarian ritual atau upacara oleh sekelompok orang di sebuah kampung, Kebutuhan masyarakat juga cenderung pada jenis tari pergaulan yang sifatnya menghibur. Jelas tari pergaulan melibatkan banyak orang, bukan? Maka tari-tarian tunggal yang tumbuh di luar Pulau Jawa sangatlah sedikit.

Meskipun demikian, tari tunggal yang berasal dari Pulau Sumatra tidak dikhususkan untuk disajikan oleh seorang penari. Uniknya adalah tarian tunggal dari Sumatra ini bisa dibawakan oleh penari wanita atau laki-laki karena motif geraknya yang memang dapat dilakukan oleh pria dan wanita. Contohnya, Tari Rantak. Tari Rantak bisa dibawakan oleh pria dan wanita. Tari Rantak juga dapat ditarikan secara tunggal ataupun berpasangan, disesuaikan menurut kebutuhan pentas. Tari Lenggang Patah Sembilan merupakan tari Melayu yang bertempo lambat. Karena bertempo lambat, pepatah Melayu mengatakan “semut jika dipijak pun takkan mati saking lambatnya tarian ini”.

Dalam Tari Lenggang Patah Sembilan, seorang penari melenggang di tempat, bertumpu pada sebelah kaki, silih berganti. Akan tetapi, sebenarnya tarian ini bertenaga. Tarian ini diiringi lagu “Kuala Deli” sehingga orang boleh menyebutnya Tari Kuala Deli. Namun, sebenarnya tarian ini merupakan tari pergaulan muda-mudi yang tidak memandang usia, bergantung tempat tarian ini disajikan. Mengidentifikasi tari-tarian tunggal dari Pulau Jawa lebih mudah. Hal ini didasarkan oleh banyaknya cerita perwayangan dan sumber cerita lainnya yang diangkat menjadi sebuah tari yang menggambarkan tokoh-tokoh tertentu dari sumber cerita, baik perwayangan maupun cerita rakyat lainnya. Selain itu, juga setelah zaman kemerdekaan, kebebasan untuk mewujudkan kreasi seni lebih terbuka. Selanjutnya, kebutuhan akan hiburan yang lebih berkelas mendorong para seniman tari untuk menciptakan tari-tarian tradisi dengan gaya masing-masing.

Perhatikan busana Tari Gawil pada gambar di samping. Baju prangwadana merupakan baju yang dipakai oleh menak (bangsawan) Sunda pada zaman dahulu. Kain lereng dengan motif parang rusak besar menunjukkan bahwa Tari Gawil berkarakter monggawa. Selendang berwarna merah atau kuning menunjukkan karakter agung, dihormati sebagai seorang menak (bangsawan). Keris adalah senjata para menak zaman dulu. Dalam keadaan darurat, keris merupakan senjata untuk membela diri. Dasi kupu-kupu merupakan akulturasi dari pergaulan menak Sunda dengan para kaum feodal. Pada jenis tari-tarian upacara ritual ataupun kemasyarakatan, umumnya para penari tidak memakai riasan wajah. Riasan hanya yang dipakai sehari-hari tanpa mengesankan karakter tertentu. Tentu saja kesederhanaan rias itu merupakan kebiasaan yang tidak memerlukan penilaian dari pihak lain (penonton), seperti rias Tari Tarawangsa.

Pada beberapa tarian, rias wajah menjadi ‘harus‘ untuk menunjukkan kekhasan, dengan menambahkan garis kumis menjadi lebih tebal, garis jambang, garis alis seperti pada penari Reog Ponorogo, ataupun Tari Jatilan yang kadang kadang dibawakan oleh penari perempuan (travesti). Riasan ini jelas menunjukkan kesan akan sebuah karakter yang gagah, disegani, kuat. Demikian halnya dengan rias pada penari laki-laki dalam Tari Ketuk Tilu. Untuk menunjukkan kesan seorang jawara, garis rias menjadi lebih tebal.

Bentuk garis rias lainnya menunjukkan sebuah kesan karakter lucu, periang, yang kadang-kadang disimbolkan pada topeng penutup muka dengan mimik yang lucu sehingga bagaimanapun gerakannya, kesan tari komedi, jenaka tetap ditangkap penonton sepanjang tarian. Dari berbagai penjelasan tadi, jelaslah bahwa ketika tari disajikan oleh seorang penari, disebut tari tunggal. Ketika tarian telah diikuti oleh penari lain, bisa jadi tarian itu menjadi sebuah tari kelompok.

Sekarang, dapatkah Anda membedakan tari tunggal yang ada di luar Pulau Jawa dengan yang berada di Pulau Jawa? Kekuatan tari tunggal terletak pada hal-hal berikut:
1. Pengolahan ruang gerak tarian Tari tunggal meskipun dibawakan oleh seorang penari, tetapi mampu mengisi ruang pentas yang besar. Gambaran estetisnya adalah ketika penari tunggal bergerak di tempat, maka mata yang berekspresi menatap ruang di depannya merupakan bentuk estetis yang bisa ditangkap oleh mata secara visual. Adapun secara imajinatif, titik pandang mata penari tunggal merupakan gambaran apa yang sedang dirasakan atau yang sedang terjadi di sekelingnya adalah wujud imajinatif yang ditangkap penonton terhadap tarian.
2. Unsur tenaga dan waktu Pengaturan tenaga pada tari tunggal, tersusun sedemikian rupa berdasarkan latar belakang cerita yang sedang dibawakan. Misalnya, di awal sajiannya tari tunggal ini didominasi penggunaan tenaga yang sedang pada gerakannya menunjukkan kegembiraan dan keadaan yang ringan, kemudian ada adegan berikutnya. Perubahan terasa ketika irama pengiring lebih cepat atau lebih nyaring dengan volume yang tinggi, menunjukkan emosi tokoh tarian sedang konflik, kemudian bisa jadi pada beberapa tari tunggal. Setelah puncak, adegan kembali ke suasana riang dengan tenaga yang sedang, atau ke suasana tragis dengan tenaga yang lemah dan tempo lambat.
3. Unsur estetis yang dimaksud adalah daya imajinasi Anda. Anda ditarik oleh sebuah rangsang pertama, yaitu judul tari yang menunjukkan tokoh tertentu. Dengan demikian, jika sebelumnya Anda mengimajinasikan tokoh Sangkuriang itu adalah seperti yang Anda bayangkan, maka ketika melihat sebuah tari tunggal yang dilatarbelakangi cerita Sangkuriang, mungkin saja pandangan Anda berubah, bukan?
4. Rias busana dan iringan pada tari tunggal lebih kuat menunjukkan identitas tarian, cerita yang melatarbelakanginya, karakter tokohnya, dan suasana kejadian yang membantu menggambarkan emosi tokoh cerita yang dibawakan.

Untuk mewujudkan komunikasi yang positif, dalam arti bahwa karya seni itu walaupun berisi hal-hal yang kurang disukai dapat diterima baik oleh masyarakat atau penonton tertentu, kesenian dapat memanfaatkan suatu proses atau cara yang bersifat mengubah sikap menolak itu menjadi sikap menerima. Proses ini disebut sublimasi.

Tahukah Anda, tari-tarian berikut ini merupakan tari tunggal dengan jenis yang berbeda?
1. Tari Tunggal Berpola Tradisi
Contohnya, Tari Calon Arang, Tari Baris Tunggal, Tari Sanghyang Jaran (Bali), Tari Ngremo (Pulau Madura, Surabaya, dan Banyuwangi), Tari Antareja, Tari Arimbi, Tari Golek Tari Gambyong, Tari Topeng Klana (tarian dari Jawa dan Yogyakarta).
2. Tari Tunggal Jenis Kreasi Berpola Tradisi
Contohnya, Tari Topeng Kencana Wungu, Tari Ratu Graeni (Jawa Barat), Tari Kebyar Duduk, Tari tenun (Bali), Tari Zapin, Tari Lenggang Patah Sembilan (Melayu Riau, Medan), dan Tari Rantak (Minang).

Anda bayangkan saja tokoh Hanoman. Pasti Anda dapat mendeskripsikan busana yang pantas dikenakanya, juga irama iringan tariannya. Pembentukan karakter pada jenis tari tunggal bergantung kepada siapa tokoh atau lakon yang sedang digambarkan, pada bagian suasana yang mana tarian ini akan ditonjolkan menjadi sentral atau klimaks tarian. Karakter tari dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu sebagai berikut.
a. Tari yang berkarakter penuh khidmat: pada gambaran suasana yang serius, untuk ujian, resital, test/asessment, ritual, dan magis.
b. Tari dengan karakter penuh kegembiraan: gembira karena senang, riang karena lucu/mengundang tawa, komedi.
c. Tari dengan karakter kemarahan: kegagahan, keperkasaan, dan kekuatan.

Sentuhan estetik pada sebuah tarian bisa berupa teknis menyajikan dan sentuhan yang bertitik tolak pada kaidah seni bernilai estetik. Menerjemahkan sentuhan estetis dari sebuah karya seni tari agak sulit dalam bentuk teoretis. Hal itu hanya dapat dirasakan dan ditangkap bukan hanya dengan wujud visual, tetapi dirasakan dengan jujur oleh apresiator (sebagai penonton) dan oleh pelaku (penari).

Hal yang terpenting berarti unsur estetis yang sulit ditangkap kontak fisik hanya dapat diungkapkan oleh batin penikmat seninya. Nikmat bagi apresiator adalah ketika bisa menikmati sajian, larut dalam imajinasi yang dibawakan. Kemampuan pelaku atau penari ketika menarikannya dengan sempurna ditunjukkan dengan kelenturan, keseimbangan, tenaga sang penari, maupun ekspresi penari yang menunjukkan karakter tokoh tari yang dibawakannya, seperti menjelma pada diri penari, dan apresiator menangkap hal itu. Pendalaman atau penjiwaan tarian hanya dapat terbentuk apabila penari telah melalui berbagai tahap pembentukan.

Tahap pembentukan kesiapan mental dan fisik yang terbentuk karena penari telah menguasai tubuhnya dengan sering mengolah tubuh agar lentur, memiliki keseimbangan tubuh ketika bergerak, kekuatan tubuh untuk menari berjam-jam, mengendalikan emosi, mengontrol napas agar tidak kelihatan terengah-engah ketika menari, kemudian mengendalikan sikap tubuh yang dikoordinasikan dengan penguasaan jiwa. Tahapan pembentukan roh/jiwa tarian yang dibawakan hal ini hanya dapat dirasakan oleh penari ketika jiwanya merasakan kebutuhan untuk selalu bersentuhan dengan seni yang digelutinya melalui kontak fisik dan sering menonton dan menari setiap hari hingga menemukan gaya dan teknik yang membuatnya nyaman untuk bergerak.

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: