December 27, 2011

Hutan Hujan Tropis Indonesia


 Hutan Hujan Tropis Indonesia
Indonesia termasuk wilayah dunia yang memiliki hutan hujan tropis cukup luas. Ini tentu saja erat kaitannya dengan iklim di Indonesia yang sangat mendukung terbentuknya biom tersebut. Biom ini terbagi menjadi beberapa subbiom sebagai berikut.

1) Hutan Hujan Pegunungan Tinggi
Hutan hujan pegunungan tinggi terdapat di sebagian wilayah Sumatra, Sulawesi, Papua, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Ciri-ciri hutan hujan pegunungan tinggi sebagai berikut.
a) Terdapat pada ketinggian 1.500–2.400 m dpl (meter di atas permukaan laut).
b) Jenis tumbuhannya lebih sedikit jika dibandingkan dengan hutan hujan pegunungan rendah.
c) Biasanya pohon-pohonnya berdiameter lebih besar, daundaunnya lebih kecil, dan tidak berakar papan.
d) Pohon-pohon yang paling umum dijumpai antara lain berangan/riung, waru batu/waru teja, dan cemara.

2) Hutan Hujan Pegunungan Rendah
Ciri-ciri hutan hujan pegunungan rendah sebagai berikut.
a) Terdapat pada ketinggian 500–1.500 m dpl.
b) Tingkat variasi jenis tumbuhannya sangat kuat yang terdiri atas tiga tingkat, yaitu:
(1) tingkat pertama mencapai tinggi 30–40 m dan ada yang tingginya 50–60 m,
(2) tingkat kedua mencapai tinggi 15–20 m, serta
(3) tingkat ketiga mencapai tinggi 5–10 m.
c) Pohon-pohon riung/meranak dan petir membentuk atap hutan, sedang pohon-pohon rasamala serta cemara gunung merupakan pohon-pohon tertinggi yang menyeruak keluar dari atap hutan.

3) Hutan Tropika Dataran Rendah
Hutan tropika dataran rendah juga sering disebut hutan keruing atau hutan lagan. Jenis hutan ini mempunyai flora yang paling kaya dan beraneka ragam jika dibandingkan dengan jenis-jenis hutan lainnya di dunia. Hutan tropika dataran rendah di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu hutan tropika dataran rendah di kawasan barat Indonesia dan hutan tropika dataran rendah di kawasan timur Indonesia. Hutan tropika dataran rendah di kawasan barat Indonesia didominasi oleh suku keruing dengan banyak jenis dari marga mersawa, pohon kapur, balau, damar, meranti, dan giam. Sebanyak 70% dari jenis-jenis pohon tersebut berdiameter 40–80 cm, 25% berdiameter 80–120 cm, dan 4% berdiameter lebih dari 120 cm.

4) Hutan Subalpin
Hutan subalpin juga disebut hutan kabut atau hutan berlumut. Hutan ini banyak terdapat di Papua di mana terdapat pegunungan yang tinggi. Ciri-ciri hutan subalpin sebagai berikut.
a) Terdapat pada ketinggian 2.400–4.000 meter di atas permukaan laut.
b) Pohon-pohonnya rapat, tetapi rendah. Tinggi pohon berkisar antara 8–20 meter.
c) Jumlah jenis pohon sedikit dengan batang-batang yang membengkok dan diselimuti berjenis-jenis lumut.

5) Hutan Pantai
Juga dikenal sebagai formasi butun. Jenis hutan ini terdapat di dinding pantai di belakang pantai-pantai berpasir yang dihuni oleh biota pantai. Adapun ciri-ciri hutan pantai sebagai berikut.
a) Hutan ini dihuni oleh berbagai jenis pohon butun seperti dadap, pandan laut, dan cemara laut.
b) Susunan tumbuhan hutan pantai di daerah-daerah yang basah serupa dengan di daerah kering musiman.

6) Hutan Mangrove
Hutan mangrove juga disebut hutan bakau atau hutan air payau. Hutan bakau tumbuh subur di daerah pantai berlumpur yang terlindung, terutama pada daratan menjorok ke laut. Di hutan ini zonasi jenis-jenis pohon yang mendominasi hampir sejajar dengan garis pantai. Adapun ciri-ciri hutan bakau sebagai berikut.
a) Jenis tanahnya berlumpur, berlempung, atau berpasir dengan bahan-bahan yang berasal dari lumpur, pasir, atau pecahan karang.
b) Lahannya tergenang air laut secara berkala setiap hari sampai daerah yang hanya tergenang saat pasang purnama.
c) Mendapat cukup pasokan air tawar dari darat yang berfungsi untuk menurunkan salinitas serta menambah pasokan unsur hara dan lumpur.
d) Airnya payau dengan salinitas antara 2–22 ppm (1 ppm = 0,05%) atau asin dengan salinitas mencapai 38 ppm.

Zona atau daerah hutan mangrove yang ke arah daratan, pada umumnya bercampur dengan rawa air tawar. Daerah semacam ini diduga ada kaitannya dengan salinitas dan sifat-sifat tanah.
Zonasi hutan mangrove di Jawa, Maluku, dan kemungkinan di pulau-pulau lainnya cenderung serupa dengan zona hutan mangrove di Sumatra. Adapun hutan mangrove di Sumatra dibagi menjadi empat sebagai berikut.
a) Zona pionir, yang dirajai oleh api-api sering berasosiasi dengan perepat laut.
b) Zona burus, bakau, dan belabu/niri.
c) Zona nipah, yang juga sering berasosiasi dengan perepat laut.
d) Zona hutan rawa gambut.
Indonesia memiliki hutan bakau terluas di dunia, kemudian disusul Nigeria, Meksiko, dan Australia. Menurut perkiraan, luas hutan bakau di Indonesia mencapai 4,25 juta hektare (Giesen, 1993). Sekarang luas tersebut sudah mengalami penyusutan akibat berbagai alih fungsi lahan menjadi lahan pertambakan, pertanian, dan permukiman. Hutan bakau terluas di Indonesia terdapat di Papua (58%), Sumatra (19%), dan Kalimantan (16%).
Flora yang hidup di hutan bakau Indonesia meliputi 89 jenis pohon, 5 jenis palem, 19 jenis liana, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit, dan 1 sikas. Di hutan bakau terdapat 47 tumbuhan hutan bakau sejati, antara lain bakau, burus, palem, perepat, dan api-api.

7) Hutan Rawa
Hutan rawa adalah hutan yang tumbuh di daerah-daerah rawa. Tanah rawa terdiri atas tanah aluvial atau tanah gambut. Tanah aluvial terbentuk dari hasil endapan aliran sungai. Sedangkan tanah gambut terbentuk dari hasil pembusukan tumbuh-tumbuhan rawa yang sudah mati. Rawa dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu rawa pasang surut dan rawa nonpasang surut.
a) Rawa pasang surut adalah rawa yang terdapat di daerah pesisir yang pada umumnya dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
b) Rawa nonpasang surut adalah rawa yang terdapat di daratan yang letaknya jauh dari pantai, tetapi di dekat sungai atau lahan basah lainnya. Hutan rawa di Indonesia dikelompokkan menjadi dua sebagai berikut.

a) Hutan Rawa Gambut
Tipe hutan ini terdapat di perairan oligotrofik, yaitu perairan yang sangat rendah kandungan zat haranya untuk kehidupan binatang dan tumbuhan. Keadaan ini memungkinkan terbentuknya gambut. Lapisan gambut yang terbentuk dapat sangat dalam (mencapai 20 m) dan diameternya bisa mencapai beberapa kilometer. Hutan rawa gambut terbentuk di daerah pesisir sebagai lahan basah pesisir maupun lahan basah daratan yang mengandung kumpulan gambut dalam jumlah yang besar/tebal. Adapun ciri-ciri hutan rawa gambut sebagai berikut.
(1) Terletak di daerah pesisir sebagai lahan basah pesisir maupun lahan basah daratan di belakang hutan bakau.
(2) Lapisan gambut pada hutan rawa gambut sangat besar atau tebal.
(3) Keadaan tanahnya miskin unsur-unsur hara (mineral yang diperlukan tumbuhan).
(5) Pohon-pohonnya memiliki garis tengah yang sangat kecil.

Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan rawa gambut terluas di dunia (Sanda, 1996). Luas hutan rawa gambut di Indonesia antara 16,5–27 juta hektare (Davies dkk., 1995). Hutan rawa gambut terluas di Indonesia terdapat di pantai timur Sumatra, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan. Di Pulau Jawa hanya terdapat sedikit hutan rawa gambut, yaitu Rawa Danau di Serang (Banten).
Tumbuhan yang hidup di hutan rawa gambut adalah ramin, suntai, semarum, durian burung, terentang, dan meranti rawa. Tumbuhan tersebut memperlihatkan zonasi yang memusat. Di Kalimantan hutan rawa gambut berpusat pada suatu pulau pasir. Di Sumatra jenis tumbuhannya berpusat pada endapan gambut yang paling tebal. Semakin ke pinggir, ketebalan endapan gambut semakin berkurang.
b) Hutan Rawa Air Tawar
Hutan rawa air tawar merupakan tipe lahan basah yang biasa ditemukan pada tanah aluvial dataran rendah. Adapun ciri-ciri hutan rawa air tawar sebagai berikut.
(1) Terletak di antara dua sungai dan jauh masuk ke pedalaman atau pada dataran luas dekat pantai serta berada di antara hutan rawa gambut dan hutan dataran rendah.
(2) Digenangi air secara tetap atau musiman, baik air hujan maupun limpahan air sungai.
(3) Lapisan gambut pada hutan air tawar hanya sedikit atau tidak mengandung gambut sama sekali.
(4) Tanahnya berupa tanah aluvial yang subur dan memiliki sistem pengairan yang baik.
(5) Air yang menggenangi berasal dari air hujan, air sungai, dan air permukaan lainnya.
(6) Pohon-pohonnya memiliki garis tengah (diameter) lebih kecil jika dibandingkan pohon-pohon pada hutan dataran rendah, tetapi lebih besar jika dibandingkan pohon-pohon pada hutan rawa gambut.
(7) Pada musim kering terdapat sisa-sisa atau bekas genangan air.

Sesuai dengan ciri-ciri tersebut, maka hutan rawa air tawar terdapat sangat luas di daerah-daerah dataran rendah yang memiliki sungai-sungai yang besar, misalnya di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Hutan rawa air tawar di ketiga wilayah tersebut meliputi 95% dari seluruh hutan rawa air tawar mula-mula di Indonesia. Hutan rawa air tawar juga dapat ditemukan di Sulawesi, Jawa, dan Nusa Tenggara. Salah satu di antaranya adalah hutan rawa air tawar yang terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon yang merupakan habitat terakhir badak jawa.
Mula-mula hutan rawa air tawar di Indonesia mencapai luas ±103 juta hektare (Bappenas, 1993). Namun, sampai dengan 2006, luas hutan tersebut diperkirakan tinggal 23 juta hektare (lianaindonesia.wordpress). Diperkirakan semakin menyusut lagi karena sebagian besar telah dialihkan sebagai lahan pertanian dan perikanan. Lahan pertanian bekas hutan rawa air tawar mempunyai tanah yang subur. Unsur hara yang dikandungnya juga mendukung dikembangkan sebagai perikanan.

8) Hutan Kerangas
Hutan kerangas terdapat pada tanah-tanah podsol dari pasir kuarsa yang miskin hara dan sangat masam, serta keadaan iklim yang sama dengan hutan hujan dataran rendah. Akan tetapi, struktur fisiognomi dan floranya berbeda dari hutan hujan dataran rendah.
Adapun ciri-ciri hutan kerangas sebagai berikut.
a) Pohon-pohonnya kerdil dan jarang serta atapnya terbuka, sedangkan jenis tumbuhan di bawahnya rapat dan berkayu.
b) Tumbuhan yang dominan adalah jenis jambu. Jenis-jenis pohon utama lainnya adalah cemara, perepat darat, blangeran, giam padi, giam tembaga, gerunggang, melur, melur tali, sekel, dan damar. Jenis-jenis perdu dan herba juga terdapat pada hutan ini. Hutan kerangas terdapat di Pulau Bangka, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, dan Papua.

9) Hutan Batu Kapur
Hutan batu kapur terdapat pada areal sempit dengan habitat dan floranya yang khas. Pada hutan ini terdapat jenis-jenis flora endemik (hanya terdapat di tempat-tempat tertentu) dan langka.

10) Hutan pada Batu Ultrabasik
Terdapat di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Tanahnya berasal dari serpentinit dan mengandung unsur besi (Fe) serta magnesium (Mg) tinggi, tetapi kandungan silikonnya (Si) rendah. Selain itu, juga mengandung unsur-unsur lain yang merupakan racun bagi tanaman dalam jumlah banyak, terutama nikel, kobalt, dan kromium. Jenis tumbuhannya bervariasi, mulai dari semak-semak yang terbuka sampai pohon-pohon yang tinggi dan rapat. Susunan tumbuhannya dapat sangat lain (merambat dengan batang berkayu panjang) atau mirip dengan hutan pada tanah-tanah yang lain.

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: