November 13, 2011

kebudayaan suku bangsa jawa : studi etnografi

MENGENAL KEBUDAYAAN SUKU BANGSA JAWA
Suku bangsa Jawa mendiami Pulau Jawa bagian tengah dan timur. Sungguhpun demikian, ada daerah-daerah yang disebut kejawen sebelum terjadi perubahan seperti sekarang ini. Daerah itu adalah Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang, dan Kediri. Daerah-daerah lainnya dinamakan pesisir dan ujung timur. Daerah yang merupakan pusat kebudayaan Jawa adalah dua daerah yang luas bekas kerajaan Mataram, yaitu Yogyakarta dan Surakarta yang terpecah pada tahun 1755. Pada sekian banyak daerah tempat kediaman orang Jawa, terdapat berbagai variasi dan perbedaan-perbedaan yang bersifat lokal. Perbedaan tersebut meliputi beberapa unsur kebudayaan seperti perbedaan mengenai berbagai istilah teknis dan dialek bahasa.

Sistem Religi dan Kepercayaan Kebudayaan suku bangsa Jawa

Agama Islam merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat suku bangsa Jawa. Hal tersebut tampak nyata dari banyaknya bangunan tempat beribadah bagi orang-orang Islam di seluruh daerah. Di samping agama Islam, terdapat juga agama Nasrani dan agama yang lain. Pada suku bangsa Jawa, tidak semua orang melakukan ibadah sesuai dengan kriteria Islam. Di pedesaan, kita temukan adanya dua golongan Islam, yaitu golongan santri dan kejawen.
1) Golongan Islam santri ialah golongan yang menjalankan ibadahnya sesuai dengan ajaran Islam, melaksanakan lima ajaran agama Islam serta syariat-syariatnya.
2) Golongan Islam kejawen ialah golongan yang percaya pada ajaran Islam, tetapi tidak secara patuh menjalankan rukun Islam, misalnya tidak salat, tidak berpuasa, dan tidak berniat untuk melakukan ibadah haji.
Orang Jawa mengaitkan upacara-upacara keagamaan dengan “selamatan”, antara lain sebagai berikut.
a.Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti:
1) Tujuh bulan kehamilan
2) Kelahiran
3) Potong rambut yang pertama
4) Upacara turun tanah yang pertama
5) Menusuk telinga / nindik (untuk anak perempuan)
6) Upacara perkawinan
7) Upacara kematian, serta upacara berkala setelah kematian.

b.Selamatan yang bertalian dengan kehidupan desa seperti:
1) Bersih desa
2) Penggarapan tanah pertanian
3) Masa tanam dan masa panen
c. Selamatan untuk memperingati hari-hari serta bulan-bulan besar Islam.
d. Selamatan pada saat-saat yang tidak menentu berkenaan dengan kejadian-kejadian seperti:
1) Melakukan perjalanan jauh,
2) Menempati rumah baru,
3) Menolak bahaya (ngruwat)
4) Janji ketika sembuh dari sakit (kaul)

Sistem Kekerabatan Kebudayaan suku bangsa Jawa

Sistem kekerabatan pada masyarakat Jawa didasarkan pada prinsip keturunan bilateral atau parental, sedangkan sistem klasifikasi dilakukan menurut angkatan-angkatan. Semua kakak laki-laki serta kakak perempuan beserta semua suami dan istri dari ayah dan ibu diklasifkasikan menjadi satu dengan sebutan siwa atau wa. Adapun adik-adik dari ayah dan ibu, yang laki-laki disebut paman dan yang perempuan disebut bibi.
Pada masyarakat Jawa, dilarang melakukan perkawinan dengan saudara misan atau saudara sepupu. Perkawinan menimbulkan terjadinya keluarga batih, keluarga inti, atau keluarga somah, yaitu kelompok keluarga yang merupakan kelompok sosial yang berdiri sendiri. Kelompok keluarga tersebut memegang peranan dalam proses sosialisasi anak-anak yang menjadi anggotanya.
Bentuk kekerabatan yang lain adalah nakdulur atau sanak sadulur. Kelompok kekerabatan ini terdiri atas orang-orang kerabat atau keturunan seorang nenek moyang sampai derajat ketiga. Kelompok kekerabatan ini mempunyai tradisi tolong-menolong jika ada peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga. Ada upcara-upacara dan perayaan yang berkaitan dengan pernikahan, kematian, khitanan, ulang tahun, dan sebagainya. Mereka juga akan berkumpul pada hari lebaran, suran, dan sebagainya.
Pada umunya suku bangsa Jawa tidak mempersoalkan tempat tinggal menetap setelah pernikahan. Mereka bebas memilih apakah menetap di sekitar tempat mempelai wanita (uxorilokal) atau di sekitar kediaman mempelai laki-laki (utrolokal). Umumnya mereka akan merasa bangga apabila setelah pernikahan mereka tinggal di tempat yang baru. Sistem tempat tinggal semacam itu disebut neolokal.

Sistem Kesenian Kebudayaan suku bangsa Jawa

Berdasarkan lokasi, sistem kesenian masyarakat Jawa mempunyai dua tipe, yaitu tipe Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daerah sistem kesenian tipe Jawa Tengah meliputi Banyumas sampai Kediri, tipe Jawa Timur daerahnya meliputi bagian timur sampai Banyuwangi dan Madura.

1) Kesenian Tipe Jawa Tengah
Wujud kesenian tipe Jawa Tengah bermacam-macam, misalnya sebagai berikut.
a) Seni Tari
Contoh seni tari tipe Jawa tengah adalah tari Srimpi dan tari Bambang Cakil. Tari Srimpi merupakan sebuah tarian kraton masa silam dengan suasana lembut, agung, dan menawan. Tari Bambang Cakil mengisahkan perjuangan Arjuna melawan Buto Cakil (raksasa), sebuah perlambang penumpasan angkara murka.
b) Seni Tembang
Seni tembang berupa lagu-lagu daerah Jawa, misalnya lagu-lagu dolanan Suwe Ora Jamu, Gek Kepiye, dan Pitik Tukung. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan diiringi gamelan.
c) Seni Pewayangan
Seni pewayangan merupakan wujud seni teater tradisional di Jawa Tengah. Bentuknya antara lain wayang kulit, wayang orang, dan wayang purwa.
d) Seni Teater Tradisional
Wujud seni teater tradisional di Jawa Tengah antara lain adalah ketoprak.

2) Kesenian Tipe Jawa Timur
Wujud kesenian dari pesisir dan ujung timur serta Madura juga bermacam-macam, misalnya sebagai berikut.
a) Seni Tari dan Teater
Wujud seni tari dan teater tradisional di Jawa Timur antara lain tari Ngremo, tari Tayuban, tari Kuda Lumping, Reog (Ponorogo), dan tari Langger (Banyuwangi).
b) Seni Pewayangan
Wujud seni pewayangan di Jawa Timur antara lain wayang Beber. Wayang beber merupakan cerita gambar yang dilukiskan berwarnawarni pada segulung kertas. Dalang menceritakan kisahnya dengan menunjuk pada gambar yang bersangkutan. Jadi, wayang beber merupakan satu pertunjukan gambar yang sederhana sekali. Wayang beber ini kini terdapat di daerah Pacitan (Jawa Timur) dan Wonosari (Jawa Tengah).
c) Seni Suara
Wujud seni suara di Jawa Timur antara lain berupa lagu-lagu daerah seperti Tanduk Majeng (dari Madura) dan Ngindung (dari Surabaya).
d) Seni Teater Tradisional
Wujud seni teater tradisional di Jawa Timur antara lain Ludruk dan Kentrung.

3) Rumah Adat Tipe Jawa
Rumah adat tipe Jawa Tengah bermacam-macam coraknya, antara lain corak limasan dan Joglo. Rumah penduduk dan keraton di Jawa Tengah umumnya terdiri atas tiga ruangan, yaitu pendopo, pringgitan, dan dalem. Pendopo merupakan tempat menerima tamu, upacara adat, dan kesenian. Pringgitan merupakan tempat untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang. Dalem merupakan tempat singgasana raja. Bagi rumah penduduk, dalem berarti ruangan utama tempat tinggal keluarga. Rumah Situbondo merupakan model rumah adat Jawa Timur yang mendapat pengaruh dari rumah Madura. Rumah ini tidak mempunyai pintu belakang dan tanpa kamar-kamar. Serambi depan adalah tempat menerima tamu laki-laki, sedangkan tamu perempuan diterima di serambi belakang. Mereka masuk dari samping rumah.

4) Pakaian Adat Daerah Jawa
Pakaian untuk pria Jawa Tengah ialah penutup kepala yang disebut kuluk, berbaju jas sikepan, korset, dan keris yang terselip di pinggang. Di samping itu juga memakai kain batik dengan pola dan corak yang sama dengan wanitanya. Adapun wanitanya memakai kain kebaya panjang motif batik. Perhiasannya berupa subang, kalung, gelang, dan cincin. Sanggulnya disebut ‘bakor mengkurep’ yang diisi dengan daun pandan wangi.
Pria Yogyakarta memakai pakaian adat berupa tutup kepala (destar), baju dari jas dengan leher tertutup (jas tutup), dan keris yang terselip di pinggang bagian belakang. Ia juga mengenakan kain batik yang bercorak sama dengan wanitanya. Adapun wanitanya memakai kebaya dan kain batik. Perhiasannya berupa anting-anting, kalung, dan cincin.
Pria Jawa Timur memakai pakaian adat berupa tutup kepala (destar), baju lengan panjang tanpa leher dengan baju dalam bergaris-garis lebar. Sepotong kain tersampir di bahunya dan memakai celana sebatas lutut dengan ikat pinggang besar. Kaum wanitanya memakai baju kebaya pendek dengan kain sebatas lutut. Perhiasan yang dipakai adalah kalung bersusun dan gelang kaki (binggel).

Sistem Kemasyarakatan dan Politik Kebudayaan suku bangsa Jawa

Dalam kesehariannya, masyarakat Jawa masih membedakan antara golongan priyayi dan orang kebanyakan. Golongan priyayi atau bendara terdiri atas pegawai negeri dan kaum terpelajar. Orang kebanyakan disebut juga ‘wong cilik’ seperti petani, tukang, dan pekerja kasar lainnya. Priyayi dan bendara merupakan lapisan atas, sedangkan wong cilik merupakan lapisan bawah.
Secara administratif, suatu desa di Jawa biasanya disebut kelurahan yang dikepalai oleh seorang lurah. Sebutan lurah untuk tiap daerah berbeda-beda misalnya petinggi, bekel, gelondong. Dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, seorang kepala desa dengan semua pembantunya disebut pamong desa. Pamong desa mempunyai dua tugas pokok, yaitu tugas kesejahteraan desa dan tugas kepolisian untuk keamanan dan ketertiban desa.
Adapun pembantu-pembantu lurah dipilih sendiri oleh lurah. Pembantu-pembantu lurah terdiri atas:
1) Carik, bertugas sebagai pembantu umum dan penulis desa;
2) Jawatirta atau ulu-ulu, bertugas mengatur air ke sawah-sawah penduduk.
3) Jagabaya, bertugas menjaga keamanan desa. Pada masa sekarang ini, pemegang tugas keamanan desa adalah hansip.

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: