August 30, 2011

Tipe Kebudayaan Yang Berkembang Di Indonesia Berdasarkan Ekosistemnya


Menurut Clifford Geertz yang dikutip oleh Zulyani Hidayah (1999:X-XI), aneka ragam kebudayaan yang berkembang di Indonesia dapat dibagi menjadi dua tipe berdasarkan ekosistemnya, yaitu:

1. Kebudayaan yang berkembang di "Indonesia dalam" (Jawa, Bali)
Kebudayaan yang berkembang di "Indonesia dalam" ditandai oleh tingginya intensitas pengolahan tanah secara teratur dan telah menggunakan sistem pengairan dan menghasilkan pangan padi yang ditanam di sawah. Dengan demikian, kebudayaan di Jawa yang menggunakan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar disertai peralatan yang relatif lebih kompleks itu merupakan perwujudan upaya manusia yang secara lebih berani merubah ekosistemnya untuk kepentingan masyarakat yang bersangkutan.

2. Kebudayaan yang berkembang di "Indonesia luar" (di luar pulau Jawa dan Bali)
Kebudayaan di luar Jawa, kecuali di sekitar Danau Toba, dataran tinggi Sumatra Barat dan Sulawesi Barat Daya, berkembang atas dasar pertanian perladangan yang ditandai dengan jarangnya penduduk yang pada umumnya baru beranjak dari kebiasaan hidup berburu ke arah hidup bertani. Oleh karena itu, mereka cenderung untuk menyesuaikan diri mereka dengan ekosistem yang ada, demi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan, kebudayaan pantai yang diwarnai kebudayaan alam, dan kebudayaan masyarakat peladang serta pemburu yang masih sering berpindah tempat. Adapun yang dimaksud dengan kebudayaan masyarakat petani berpengairan adalah seperti yang berkembang di Pulau Jawa dan Bali.

3. Aneka ragam kebudayaan yang tidak termasuk ke dalam dua ketergori terdahulu.
H. Geertz yang dikutip oleh Zulyani Hidayah (1999:XI) melengkapi dua ketergori di atas dengan katergori ketiga, yaitu aneka ragam kebudayaan yang tidak termasuk ke dalam dua ketegori terdahulu. Kategori ketiga ini meliputi kebudayaan orang Toraja di Sulawesi Selatan, orang Dayak di pedalaman Kalimantan, orang Halmahera, suku-suku di pedalaman Seram, di kepulauan Nusa Tenggara, orang Gayo di Aceh, orang Rejang di Bengkulu dan Lampung di Sumatra Selatan. Pada umumnya kebudayaan mereka itu berkembang di atas sistem pencaharian perladangan ataupun penanam padi di ladang, sagu, jagung maupun akar-akaran.

Pada zaman Hindia-Belanda masyarakat Indonesia digolongkan menjadi tiga golongan yaitu golongan penjajah Belanda yang menempati tingkat pertama, kedua adalah golongan minoritas Cina, dan ketiga adalah golongan pribumi. Hasil penelitian C. Van Vollenhoven menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 19 lingkungan adat yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang kemudian diperbaharui oleh B. Ter Haar menjadi 24 lingkungan adat. Di seluruh Indonesia tercatat kurang lebih ada 656 suku bangsa dengan bahasa lokal sekitar 300 macam. Nasikun mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pluralisme masyarakat Indonesia:

1. Keadaan geografis yang membagi wilayah Indonesia atas 13.667 pulau yang terserak di suatu daerah ekuator sepanjang kurang lebih 3.000 mil dari timur ke barat dan lebih dari 1.000 mil dari utara ke selatan. Faktor ini merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap terciptanya pluralistis suku bangsa di Indonesia.

2. Kenyataan bahwa Indonesia terletak di antara Samudera Indonesia dan Samudera pasifik. Kenyataan letak yang demikian ini sangat mempengaruhi terciptanya pluralistis agama di dalam masyarakat Indonesia melalui pengaruh kebudayaan bangsa lain, yang menyentuh masyarakat Indonesia.

3. Iklim yang berbeda dan struktur tanah yang tidak sama di antara berbagai daerah di kepulauan nusantara ini merupakan faktor yang menciptakan pluralistis regional di Indonesia. Perbedaan curah hujan dan kesuburan tanah merupakan kondisi yang dapat menciptakan lingkungan ekologis yang berbeda di Indonesia, yakni daerah pertanian sawah (wet rice cultivation). Perbedaan antara Jawa dan luar Jawa di dalam bidang kependudukan, ekonomi dan sosial budaya. (Suriakusumah, 1999:718)

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: