January 11, 2013

Sejarah Kerajaan Bali

Kerajaan Bali terletak di Pulau Bali yang berada di sebelah timur Provinsi Jawa Timur sekarang ini. Kerajaan Bali mempunyai hubungan sejarah yang tinggi dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa......
a. Bidang Politik
Berdasarkan Prasasti Blanjong yang berangka tahun 914, Raja Bali pertama adalah Khesari Warmadewa. Istananya berada di Singhadwalawa. Raja berikutnya adalah Sang Ratu Sri Ugrasena. Ia memerintah tahun 915–942, istananya berada di Singhamandawa. Kemungkinan Singhamandawa terletak antara Kintamani (Danau Batur) dan Pantai Sanur (Blanjong), kira-kira di sekitar Tampaksiring dan Pejeng atau di antara aliran Sungai Patanu dan Pakerisan. Masa pemerintahannya sezaman dengan Empu Sindok di Jawa Timur. Sang Ratu Sri Ugrasena meninggalkan sembilan prasasti. Pada umumnya, prasasti itu berisi tentang pembebasan pajak pada daerah-daerah tertentu. Selain itu, ada juga prasasti yang memberitakan tentang pembangunan tempat-tempat suci. Setelah wafat, Sang Ratu Sri Ugrasena didharmakan di Air Mandatu. Pengganti Sang Ratu Sri Ugrasena adalah raja-raja yang memakai gelar Warmadewa. Raja yang pertama adalah Sang Ratu Aji Tabanendra Warmadewa. Ia memerintah bersama permaisurinya, Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Dharmadewi. Raja ini yang memerintah tahun 955–967 M.

Pengganti berikutnya adalah Jayasingha Warmadewa. Ada yang menduga bahwa Jayasingha Warmadewa bukan keturunan Tabanendra karena pada tahun 960 M (bersamaan dengan pemerintahaan Tabanendra) Jayasingha Warmadewa sudah menjadi raja. Akan tetapi, mungkin juga ia adalah putra mahkota yang telah diangkat menjadi raja sebelum ayahnya turun takhta. Raja Jayasingha telah membuat telaga (pemandian) dari sumber suci di Desa Manukraya. Pemandian itu disebut Tirta Empul yang terletak di dekat Tampaksiring. Raja Jayasingha Warmadewa memerintah sampai tahun 975 Masehi.

Raja Jayasingha digantikan oleh Janasadhu Warmadewa. Ia memerintah tahun 975–983. Tidak ada keterangan lain yang dapat diperoleh dari raja ini kecuali tentang anugerah raja kepada Desa Julah. Pada tahun 983 M muncul seorang raja wanita, yaitu Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Menurut Stein Callenfels, ratu itu berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Namun, Damais menduga bahwa ratu itu adalah putri Empu Sindok (Jawa Timur). Hal ini didasarkan atas nama-nama jabatan dalam Prasasti Ratu Wijaya sendiri yang sudah lazim disebut dalam prasasti di Jawa, tetapi tidak dikenal di Bali, seperti makudur, madihati, dan pangkaja.

Pengganti Ratu Sri Wijaya Mahadewi adalah raja dari keluarga Warmadewa, bernama Dharma Udayana Warmadewa. Ia memerintah bersama permaisurinya, yaitu Gunapriya dharmapatni atau lebih dikenal sebagai Mahendradatta, anak dari Raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur. Sebelum naik takhta diperkirakan Udayana berada di Jawa Timur sebab namanya tercantum dalam Prasasti Jalatunda.

Setelah pernikahan itu, pengaruh kebudayaan Jawa di Bali makin berkembang. Misalnya, bahasa Jawa Kuno mulai digunakan untuk penulisan prasasti dan pembentuk dewan penasihat seperti di pemerintahan kerajaankerajaan Jawa mulai dilakukan.

Udayana memerintah bersama permaisurinya hingga tahun 1001 M karena pada tahun itu Gunapriya mangkat dan didharmakan di Burwan. Udayana meneruskan pemerintahannya hingga tahun 1011 M. Setelah mangkat, ia dicandikan di Banuwka. Hal ini didasarkan pada Prasasti Air Hwang (1011) yang hanya menyebut nama Udayana sendiri. Menurut Prasasti Ujung (Hyang), Udayana setelah mangkat dikenal sebagai Batara Lumah di Banuwka. Raja Udayana mempunyai tiga orang putra, yaitu Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga tidak pernah memerintah di Bali karena menjadi  menantu Dharmawangsa di Jawa Timur. Oleh karena itu, pengganti Raja Udayana dan Gunapriya ialah Marakata. Setelah naik takhta, Marakata bergelar Dharmawangsawardhana Marakata Pangkajasthana Uttunggadewa. Marakata memerintah dari tahun 1011 hingga 1022. Masa pemerintahan Marakata sezaman dengan Airlangga.

Karena persamaan unsur nama dan masa pemerintahannya, Stutterheim berpendapat bahwa Marakata sebenarnya adalah Airlangga. Apalagi jika dilihat dari kepribadian dan cara memimpin yang memiliki kesamaan. Marakata dipandang sebagai sumber kebenaran hukum yang selalu melindungi dan memperhatikan rakyat. Oleh karena itu, Marakata disegani dan ditaati oleh rakyatnya. Selain itu, Marakata juga turut membangun sebuah presada atau candi di Gunung Kawi di daerah Tampaksiring, Bali.

Setelah pemerintahannya berakhir, Marakata digantikan oleh Raja Anak Wungsu. Ia bergelar Paduka Haji Anak Wungsu Nira Kalih Bhatari Lumah i Burwan Bhatara Lumah i Banu Wka. Anak Wungsu adalah Raja Bali Kuno yang paling banyak meninggalkan prasasti (lebih dari 28 prasasti) yang tersebar di Bali Utara, Bali Tengah, dan Bali Selatan. Anak Wungsu memerintah selama 28 tahun dari tahun 1049–1077. Anak Wungsu dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan. Baginda mangkat pada tahun 1077 dan dimakamkan di Gunung Kawi (dekat Tampaksiring). Setelah berakhirnya Dinasti Warmadewa, Bali diperintah oleh beberapa orang raja secara silih berganti. Raja yang pernah memerintah Bali, antara lain sebagai berikut.

1) Jayasakti
Jayasakti memerintah dari tahun 1133–1150 M dan sezaman dengan pemerintahan Jayabaya di Kediri. Dalam menjalankan pemerintahannya, Jayasakti dibantu oleh penasihat pusat yang terdiri atas para senapati dan pimpinan keagamaan baik dari Hindu maupun Buddha. Kitab undang-undang yang digunakan adalah kitab Utara Widdhi Balawan dan kitab Rajawacana.
2) Ragajaya
Ragajaya mulai memerintah tahun 1155 M. Kapan berakhir masa pemerintahannya belum dapat diketahui karena tidak ada sumber tertulis yang menjelaskannya.
3) Jayapangus
Raja Jayapangus dianggap penyelamat rakyat yang terkena malapetaka akibat lalai menjalankan ibadah. Jayapangus menerima wahyu dari dewa untuk mengajak rakyat kembali melakukan upacara agama yang sampai sekarang dikenal dan diperingati sebagai upacara Galungan. Kitab undang-undang yang digunakan adalah kitab Mana Wakamandaka. Raja Jayapangus memerintah pada tahun 1172–1176.
4) Ekajalancana
Ekajalancana memerintah sekitar tahun 1200–1204 Masehi. Dalam memerintah, Ekajalacana dibantu oleh ibunya yang bernama Sri Maharaja Aryadegjaya.
5) Sri Astasura Ratna Bumi Banten
Sri Astasura Ratna Bumi Banten adalah Raja Bali yang terakhir. Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada dan menjadi wilayah taklukan Kerajaan Majapahit.

b. Bidang Sosial Budaya
Struktur masyarakat yang berkembang pada masa Kerajaan Bali Kuno didasarkan pada hal sebagai berikut.
1) Sistem Kasta (Caturwarna)
Sesuai dengan kebudayaan Hindu di India, pada awal perkembangan Hindu di Bali sistem kemasyarakatannya juga dibedakan dalam beberapa kasta. Namun, untuk masyarakat yang berada di luar kasta disebut budak atau njaba.
2) Sistem Hak Waris
Pewarisan harta benda dalam suatu keluarga dibedakan atas anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki memiliki hak waris lebih besar dibandingkan anak perempuan.
3) Sistem Kesenian
Kesenian yang berkembang pada masyarakat Bali Kuno dibedakan atas sistem kesenian keraton dan sistem kesenian rakyat.
4) Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Bali Kuno meskipun sangat terbuka dalam menerima pengaruh dari luar, mereka tetap mempertahankan tradisi kepercayaan nenek moyangnya. Dengan demikian, di Bali dikenal ada penganut agama Hindu, Buddha, dan kepercayaan animisme.

Masyarakat Bali Kuno juga hidup dalam keteraturan dan taat menjalankan hukum. Hal itu juga disebabkan oleh keteladanan para pemimpin negara yang taat hukum. Bahkan, pada masa pemerintahan Raja Sri Jayaksati yang sezaman dengan masa pemerintahan raja Jayabaya dari Kediri, raja sangat patuh pada hukum yang berlaku, Raja melaksanakan pemerintahan berdasarkan kitab Undang-Undang Uttara Widdhi Balawan dan Rajawacana.

Ada hal yang menarik dalam sistem keluarga Bali yang berkaitan dengan pemberian nama anak, misalnya Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Untuk anak pertama golongan brahmana dan ksatria disebut Putu. Diperkirakan pemberian nama seperti itu dimulai pada zaman Raja Anak Wungsu dan ada kaitannya dengan upaya pengendalian jumlah penduduk. Kehidupan sosial dalam masyarakat Bali, yaitu masyarakat terbagi dalam kasta-kasta yang disebut caturwarna. Ketika Kerajaan Majapahit berhasil menguasai Bali, terbentuklah golongan masyarakat baru yang disebut Wong Majapahit. Wong Majapahit adalah orang-orang keturunan penguasa dan penduduk Kerajaan Majapahit.

Masuknya pengaruh kebudayaan Hindu sangat besar sekali pada masyarakat Bali. Bahkan, sampai sekarang dapat dikatakan bahwa mayoritas penduduk Bali adalah penganut agama Hindu. Agama Buddha juga berkembang di Bali meskipun tidak sepesat perkembangan agama Hindu. Bahkan, pada masa pemerintahan Raja Udayana, agama Buddha juga mendapat tempat sejajar dalam kehidupan kerajaan. Hal itu tentu saja menunjukkan betapa toleransinya rakyat Bali pada agama yang lain.

Seperti telah disebutkan di depan bahwa kesenian Bali juga mengalami perkembangan pesat, meskipun dibedakan atas kesenian rakyat dan kesenian keraton. Hal ini bukan berarti rakyat tidak bisa menikmati bentuk kesenian keraton. Prasasti Julah (987 Saka/1065 Masehi) memberi keterangan adanya kesenian untuk raja (ihaji) dan kesenian yang melakukan pertunjukkan berkeliling (ambaran).

Seni sastra tradisional juga berkembang dan digemari rakyat Bali. Karya sastra Bali pada awalnya merupakan teks sastra kuno yang dikarang di Jawa berdasarkan cerita Ramayana dan Mahabarata. Syair dan tulisan prosa tentang berbagai hal yang berhubungan dengan agama dan sejarah lokal yang dibuat di Jawa pada abad ke-10 sampai dengan ke-16 dialihkan ke Bali. Mulai abad ke- 16, orang Bali mulai menciptakan sastra mereka sendiri berdasarkan cerita klasik Jawa Kuno. Penggunaan bahasa Bali sebagai bahasa sastra baru digunakan pada akhir abad ke-18 untuk cerita rakyat, terjemahan karya klasik, dan syair yang dibuat di Bali.

Kehidupan kebudayaan lain yang juga sampai pada kita sekarang adalah peninggalan berupa candi, prasasti, dan pura. Contoh prasasti peninggalan Kerajaan Bali, antara lain Prasasti Blanjong (tahun 914 M) dan Prasasti Air Hwang (1011). Peninggalan kebudayaan Kerajaan Bali yang lain adalah kelompok Candi Padas di Gunung Kawi dan Pura Agung Besakih.

c. Bidang Ekonomi
Kegiatan ekonomi masyarakat Bali dititikberatkan pada sektor pertanian. Hal itu didasarkan pada beberapa prasasti Bali yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bercocok tanam. Beberapa istilah itu, antara lain sawah, parlak (sawah kering), kebwan (kebun), gaga (ladang), dan kasuwakan (irigasi).

Di luar kegiatan pertanian pada masyarakat Bali juga ditemukan kehidupan sebagai berikut.
1) Pande (Pandai = Perajin)
Mereka mempunyai kepandaian membuat kerajaan perhiasan dari bahan emas dan perak, membuat peralatan rumah tangga, alat-alat pertanian, dan senjata.
2) Undagi
Mereka mempunyai kepandaian memahat, melukis, dan membuat bangunan.
3) Pedagang
Pedagang pada masa Bali Kuno dibedakan atas pedagang laki-laki (wanigrama) dan pedagang perempuan (wanigrami). Mereka sudah melakukan perdagangan antarpulau (Prasasti Banwa Bharu).......

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: