January 11, 2013

Sejarah Kerajaan Singasari

Asal usul Ken Arok tidak jelas. Menurut kitab Pararaton, Ken Arok adalah anak seorang wanita tani dari Desa Pangkur (sebelah timur Gunung Kawi). Para ahli sejarah menduga ayah Ken Arok seorang pejabat kerajaan, mengingat wawasan berpikir, ambisi, dan strateginya cukup tinggi. Hal itu jarang dimiliki oleh seorang petani biasa. Banyak kisah yang menyebutkan bahwa Ken Arok ketika muda menjadi pencuri dan perampok. Berkat pengarahan dan bantuan Pendeta Lohgawe, Ken Arok bersedia mengabdikan diri kepada Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung.,,,,,,,

Ken Arok setelah mengabdi di Tumapel ingin menduduki jabatan akuwu dan sekaligus memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Dengan menggunakan tipu muslihat yang jitu, Ken Arok dapat membunuh Tunggul Ametung. Setelah itu, Ken Arok mengangkat dirinya menjadi akuwu di Tumapel dan memperistri Ken Dedes yang saat itu telah mengandung. Ken Arok kemudian mengumumkan bahwa dia adalah penjelmaan Dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Hal itu dimaksudkan agar Ken Arok dapat diterima secara sah oleh rakyat sebagai seorang pemimpin.

a. Bidang Politik
Tumapel pada waktu itu menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Kediri yang diperintah oleh Raja Kertajaya atau Dandang Gendis. Ken Arok ingin memberontak, tetapi menunggu saat yang tepat. Pada tahun 1222 datanglah beberapa pendeta dari Kediri untuk meminta perlindungan kepada Ken Arok karena tindakan yang sewenang-wenang dari Raja Kertajaya. Ken Arok menerima dengan senang hati dan mulailah menyusun barisan, menggembleng para prajurit, dan melakukan propaganda kepada rakyatnya untuk memberontak Kerajaan Kediri.

Setelah segala sesuatunya siap, berangkatlah sejumlah besar prajurit Tumapel menuju Kediri. Di daerah Ganter terjadilah peperangan dahsyat. Semua prajurit Kediri beserta rajanya dapat dibinasakan. Ken Arok disambut dengan gegap gempita oleh rakyat Tumapel dan Kediri. Selanjutnya, Ken Arok dinobatkan menjadi raja. Seluruh wilayah bekas Kerajaan Kediri disatukan dengan Tumapel yang kemudian disebut Kerajaan Singasari. Pusat kerajaan dipindahkan ke bagian timur, di sebelah Gunung Arjuna.

Setelah naik takhta, Ken Arok bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhattara Sang Amurwabhumi. Dialah pendiri Dinasti Rajasa atau Girindrawangsa. Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun, yaitu tahun 1222–1227. Pada tahun 1227, Ken Arok dibunuh oleh seorang pengalasan atas perintah Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Ken Arok didharmakan di Kagenengan.

Sepeninggal Ken Arok, Anusapati menjadi Raja Singasari. Anusapati memerintah pada tahun 1227–1248. Pada masa pemerintahannya tidak banyak hal yang dapat diketahui.
Ken Arok dengan selirnya yang bernama Ken Umang mempunyai empat orang putra, yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudhartu, Panji Wregola, dan Dewi Rambi. Akhirnya, Tohjaya mengetahui bahwa yang membunuh Ken Arok adalah Anusapati. Oleh karena itu, Tohjaya ingin membalas dendam kematian ayahnya. Pada tahun 1248, Anusapati berhasil dibunuh. Anusapati setelah wafat didharmakan di Candi Kidal.
Pada tahun 1248 itu juga Panji Tohjaya naik takhta. Baru beberapa bulan memerintah, Tohjaya dibunuh oleh Ranggawuni, putra Anusapati, di Katang Lumbang. Setelah itu, Ranggawuni menjadi raja dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Dalam masa pemerintahannya, Wisnuwardhana didampingi oleh Mahesa Campaka, anak Mahesa Wongateleng. Mahesa Wongateleng adalah anak Ken Dedes dengan Ken Arok.

Wisnuwardhana memerintah tahun 1248–1268. Selama masa pemerintahannya keadaan negara aman dan tenteram. Pada tahun 1264 Wisnuwardhana mengeluarkan sebuah prasasti dan mendirikan benteng di Canggu Lor. Raja Wisnuwardhana meninggal pada tahun 1268 dan di-dharmakan di Weleri sebagai Syiwa dan di Jayaghu (Candi Jago) sebagai Buddha Amoghapasa.

Tidak lama kemudian, Mahesa Campaka juga mangkat. Mahesa Campaka mempunyai seorang anak, yaitu Lembu Tal. Lembu Tal mempunyai anak bernama Wijaya yang nantinya mendirikan Kerajaan Majapahit. Kertanegara terkenal dengan gagasannya yang tinggi, yaitu ingin memperluas daerah kekuasaannya hingga meliputi seluruh pulau-pulau di wilayah Nusantara. Seluruh Nusantara akan disatukan di bawah panji-panji kebesaran Singasari.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Kertanegara melakukan usaha sebagai
berikut.

1) Penataan di Dalam Negeri
Penataan di dalam negeri yang dilakukan Kertanegara untuk mewujudkan cita-citanya, antara lain sebagai berikut.
a) Untuk memperlancar pemerintahannya, Kertanegara dibantu oleh tiga orang mahamenteri dengan pangkat i hino, i sirikan, dan i halu. Tugas mereka adalah mengatur dan meneruskan perintah raja melalui tiga menteri pelaksana dengan pangkat rakryan apatih, rakryan demung, dan rakryan kanuruhan.
b) Mahapatih Raganatha digantikan oleh Aragani karena dipandang kurang mendukung gagasan raja. Agar tidak kecewa, Raganatha diangkat menjadi adhyaka (wakil raja) di Tumapel.
c) Banyak Wide yang dianggap masih mempunyai hubungan erat dengan Kediri diasingkan dan diangkat menjadi Bupati Sumenep (Madura) dengan gelar Arya Wiraraja.
d) Angkatan perang, baik prajurit darat maupun armada laut diperkuat persenjataannya.
e) Pemberontakan yang terjadi di dalam negeri ditumpas, misalnya pemberontakan Bhayaraja (1270) dan pemberontakan Mahesa Rangkah (1280).
f) Lawan politiknya diajak bekerja sama, misalnya Jayakatwang, keturunan Raja Kediri, diangkat menjadi raja kecil di Kediri. Bahkan, putranya Ardharaja dijadikan menantu.
g) Raden Wijaya, keturunan Mahesa Campaka juga dijadikan menantu.
h) Untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari para pemuka agama, diangkatlah seorang pemimpin agama Buddha dan seorang pendeta mahabrahma untuk mendampingi raja.

2) Ekspansi ke Luar Negeri
Untuk mendukung terwujudnya cita-cita, Kertanegara melakukan tindakan ekspansi ke luar negeri sebagai berikut.
a) Setelah armada lautnya kuat, Kertanegara mulai melebarkan kekuasaan ke luar Jawa. Pada tahun 1275, Kertanegara mengirimkan ekspedisi ke Melayu (Pamalayu) untuk menghidupkan lagi Kerajaan Melayu (di Jambi) agar dapat menyaingi dan melemahkan Kerajaan Sriwijaya. Hal itu sebenarnya dimaksudkan untuk mencegah atau menahan gerakan ekspansi prajurit Mongol di bawah pimpinan Kaisar Kubhilai Khan.
b) Pada tahun 1284 Kertanegara mengirimkan ekspedisi ke Bali dan berhasil menanamkan pengaruh dan kekuasaannya di sana.
c) Pada tahun 1286 Kertanegara mengirimkan sebuah Patung Amoghapasa beserta 14 pengiringnya kepada Raja Melayu, yaitu Mauliwarmadewa. Hal itu dimaksudkan untuk mempererat dan memperkuat pertahanan Singasari– Melayu.
d) Pada tahun 1289 Jawa Barat berhasil ditundukkan, menyusul Pahang di Malaya dan Tanjungpura di Kalimantan yang berhasil dikuasai. Daerah itu sangat strategis untuk menghadang ekspansi tentara Mongol.
e) Menjalin persahabatan dengan raja-raja di Semenanjung Malaka dan Indocina dengan cara menikahkan putri Kertanegara dengan raja di Indocina. Dengan cara itu, kukuhlah persahabatan Singasari–Indocina.

b. Bidang Sosial Budaya
Peninggalan kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain berupa prasasti, candi, dan patung. Candi peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Candi Jago, Candi Kidal, dan Candi Singasari. Adapun patung-patung yang berhasil ditemukan sebagai hasil kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita lambang dewi kesuburan dan Patung Kertanegara sebagai Amoghapasa.
Rakyat Singasari mengalami pasang surut kehidupan sejak zaman Ken Arok sampai masa pemerintahan Wisnuwardhana. Pada masa-masa pemerintahan Ken Arok, kehidupan sosial masyarakat sangat terjamin. Kemakmuran dan keteraturan kehidupan sosial masyarakat Singasari kemungkinan yang menyebabkan para brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok atas kekejaman rajanya.

Akan tetapi, pada masa pemerintahan Anusapati kehidupan masyarakat mulai terabaikan. Hal itu disebabkan raja sangat gemar menyabung ayam hingga melupakan pembangunan kerajaan.
Keadaan rakyat Singasari mulai berangsur-angsur membaik setelah Wisnuwardhana naik takhta Singasari. Kemakmuran makin dapat dirasakan rakyat Singasari setelah Kertanegara menjadi raja. Pada masa pemerintahan Kertanegara, kerajaan dibangun dengan baik. Dengan demikian, rakyat dapat hidup aman dan sejahtera.
Dengan kerja keras dan usaha yang tidak henti-henti, cita-cita Kertanegara ingin menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah naungan Singasari tercapai juga walaupun belum sempurna. Daerah kekuasaannya, meliputi Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Melayu, Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Sebagai ahli agama, Kertanegara tetap mengkhawatirkan daya sakti pemecah Empu Bharada pada zaman Airlangga. Untuk menangkis daya sakti pemecah itu, Kertanegara mendirikan patung perwujudan dirinya sebagai Dhyani Buddha di tempat tinggal Empu Bharada (di Wurare). Patung itu sampai sekarang masih dapat dilihat di Surabaya dan lazim disebut sebagai Patung Joko Dolok. Bersamaan dengan usaha Kertanegara untuk memperluas daerah kekuasaan, Kekaisaran Mongol yang dipimpin oleh Kubhilai Khan juga sedang melakukan ekspansi ke arah selatan, yaitu ke kawasan Asia Tenggara. Kubhilai Khan mengirimkan beberapa kali utusan ke Singasari untuk meminta Raja Kertanegara mengakui kekuasaannya. Hal itu terjadi pada tahun 1280, 1281, 1286, dan terakhir pada tahun 1289 yang dipimpin oleh Meng Ch’i. Kertanegara merasa kesal sehingga utusan itu dianiaya hingga cacat dan disuruh pulang. Utusan itu begitu tiba di negerinya menceritakan segala perlakuan Raja Kertanegara kepada Kubhilai Khan. Akibatnya, Kubhilai Khan marah sekali. Kubhilai Khan menyiapkan pasukannya untuk menghukum Kertanegara. Akan tetapi, ketika pasukan itu tiba di Jawa pada tahun 1293 Raja Kertanegara telah mangkat.

Sebenarnya, Jayakatwang sebagai raja kecil di Kediri selalu tunduk dan taat kepada Raja Kertanegara. Akan tetapi, Jayakatwang telah dihasut oleh patihnya untuk membalas kematian buyutnya (Kertajaya) yang dibunuh oleh buyut Kertanegara (Ken Arok). Di samping itu, Jayakatwang juga dibujuk oleh Arya Wiraraja dari Madura untuk memberontak terhadap Singasari agar dapat membangun kembali Kerajaan Kediri seperti dahulu. Hasutan dan bujukan itu akhirnya termakan juga oleh Jayakatwang. Oleh karena itu, Jayakatwang segera mempersiapkan sejumlah besar prajurit dan persenjataannya.

Saat yang tepat untuk menaklukkan Singasari tiba. Pada saat itu sebagian besar prajurit Singasari dikirim ke luar Jawa sehingga pertahanan di istana lemah. Selain itu, Kertanegara juga sedang berkonflik dengan Khubilai Khan. Oleh karena itu, tepatlah saatnya untuk menyerbu Singasari. Kerajaan Singasari diserbu dari dua jurusan (utara dan selatan) sehingga tidak mampu menanggulanginya. Akhirnya, seluruh prajurit dan Raja Kertanegara gugur dalam pertempuran itu. Kertanegara setelah gugur didharmakan sebagai Syiwa Buddha di Candi Jawi. Di Sagala, Kertanegara bersama permaisurinya diwujudkan sebagai Wairocana Locana dan di Candi Singasari dilukiskan sebagai Bairawa (Batara Kala).

c. Bidang Ekonomi
Tidak banyak sumber prasasti dan berita dari negeri asing yang dapat memberi keterangan secara jelas kehidupan perekonomian rakyat Singasari. Akan tetapi, berdasarkan analisis bahwa pusat Kerajaan Singasari berada di sekitar Lembah Sungai Brantas dapat diduga bahwa rakyat Singasari banyak menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Keadaan itu juga didukung oleh hasil bumi yang melimpah sehingga menyebabkan Raja Kertanegara memperluas wilayah terutama tempat-tempat yang strategis untuk lalu lintas perdagangan.
Keberadaan Sungai Brantas dapat juga digunakan sebagai sarana lalu lintas perdagangan dari wilayah pedalaman dengan dunia luar. Dengan demikian, perdagangan juga menjadi andalan bagi pengembangan perekonomian Kerajaan Singasari......

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: