Latest News

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Fraktur

A. Anatomi Fisiologi Sistem Muskuloskeletal
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang tubuh dan mengurus pergerakan komponen utama dari tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen, bursae dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini.
1. Tulang
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh. Ruang ditengan tulang-tulang berisi jaringan hematopoletik yang membentuk berbagai sel darah. Tulang juga merupakan tempat primer untuk menyimpan da mengatur kalsium dan fosfat.
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis sel yaitu :

a. Osteoblas
Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid.
b. Osteosit
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertularan kimiawi melalui tulang yang padat.
c. Osteoklas
Osteoklas merupakan sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diarsopsi.

Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas mengikis tulang. Sel-sel ini menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang, sehingga kalsium dan fosfat terlepas kedalam.
Dilihat dari bentuknya tulang terbagi menjadi beberapa bentuk yaitu tulang panjang, tulang pendek, tulang ceper dan tulang tidak beraturan.
Tulang panjang terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :
a. Diafisis atau korpus
Merupakan bagian tengah tulang yang berbentuk silinder, bagian ini terdiri atas korteks tulang yang mempunyai kekuatan yang sangat besar.


b. Metafisis
Merupakan bagian yang melebar dekat ujung tulang, daerah ini sangat besar terdiri dari trabekula tulang atau tulang spongiosa dan mengandung sumsum tulang. Sumsum ini terdapat pula dibagian epifisis dan diafisis tulang. Bagian ini juga menyangga sendi dan merupakan tempat perlekatan tendon dan ligamen, lempeng epifisis merupakan daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak, bagian ini akan hilang pada kematangan tulang.
c. Epifisis
Merupakan bagian yang terletak pada sendi tulang panjang yang bersatu dengan metafisi sehingga pertumbuhan tulang memanjang terhenti. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum yang mengandng sel-sel dapat berfoliferasi yang berperan pada proses pertumbuhan tranversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteri dan nutrisi. Lokasi dan potensi pembuluh-pembuluh inilah yang menunjukan juga berhasil tidaknya proses penyembuhan tulang setelah fraktur.
Proses pembentukan tulang terdiri dari :
a. Ossifikasi intra membranosa.
Perubahan dari jaringan ikat (mesenchym) misalnya pada tulang tengkorak mandibula dan clavicula.

b. Ossifikasi intrakartiloginossa atau endochondral
Perubahan dari tulang rawan (rangka primodial) misalnya klasifikasi pada tulang.
Metabolisme tulang diatur oleh beberapa hormon. Suatu peningkatan kadar hormon paratiroid mempunyai efek langsung dan segera pada mineral tulang, menyebabkan kalsium dan fosfat diabsorbsi dan bergerak memasuki serum. Disamping itu, peningkatan kadar hormon paratiroid secara perlahan-lahan menyebabkan peningkatan jumlah dan aktivitas osteoklas, absorbsi tulang. Vitamin D dalam jumlah besar dapat menyebabkan absorpsi tulang seperti yang terlihat pada kadar hormon paratiroid yang tinggi. Bila tidak ada vitamin D, hormon paratiroid tidak akan menyebabkan absorbsi tulang. Estrogen menstimulasi osteoblas, penurunan estrogen adalah menopause mengurangi aktivitas osteoblas, menyebabkan penurunan matriks organik tulang, umumnya klasifikasi tulang tidak terpengaruh pada osteoporosis pada wanita sebelum usia 65 tahun, namun berkurangnya matriks yang merupakan penyebab dari osteoporosis.

2. Otot
Otot adalah organ yang bila berkontraksi akan menimbulkan gerakan pada organisme. Otot dibagi kedalam tiga kelompok utama menurut fungsi kontraksi dan hasil gerakan dari seluruh bagian tubuh. Pengelompokkannya adalah otot rangka, otot viseral (otot plos) dan otot jantung.

3. Kartilago (Tulang Rawan)
Kartilago terdiri dari serat-serat yang dilekatkan pada suatu gelatin yang kuat, tetapi fleksibel tidak memiliki vaskuler. Nutrisi mencapai kartilago memlalui difusi sel atau perekat dari kapiler yang berada pada perichondrium melalui cairan sinovial. Jumlah serabut kolagen yang terdapat pada kartilago menentukan bentuk fibrosa, hyalin atau elastisitas fibrosa memliki paling banyak serabut dan karena itu memiliki kekuatan meregang. Fibro kartilago menyusun diskus intervertebralis artikuler (hyalin) kartilago halus, mengkilap dan kenyal membungkus permukaan persendian dari tulang dan berfungsi sebagai bantalan.

4. Ligamen
Ligamen adalah suatu susunan serabut yang terdiri dari jaringan ikat keadaannya kenyal dan fleksibel. Ligamen mempertemukan kedua ujung tulang dan mempertahankan stabilitas, ligamen pada daerah tertentu melekat kepada jaringan lunak untuk mempertahankan struktur.

5. Tendon
Tendon adalah ikatan jaringan fibrosa yang padat yang ujung dari otot dan menempael kepada tulang. Tendon merupakan ekstensi dari selaput fibrosa yang membungkus otot dan bersambung dengan periosteoum. Selaput tendon berbentuk selubung dari jaringan ikat yang menyelubungi tendon tertentu, terutama pada pergelangan tangan dan tumit. Selubung ini bersamung dengan membran synovia yang menjamin pelumasan sehingga musah bergerak.

6. Fascia
Fascia adalah suatu permukaan jaringan penyambung longgar yang didapatkan langsung dibawah kulit, sebagai superficial atau sebagai pembungkus tebal, jaringan penyambung fibrosa yang membungkus otot, saraf dan pembuluh darah. Bagian akhir diketahui sebagai fascia dalam.

7. Bursae
Bursae adalah kantong kecil dari jaringan ikat disuatu tempat dimana digunakan diatas bagian yang bergerak, misalnya terjadi antara tulang dan kulit antara tulang dan tendon atau diantara otot-otot. Bursae dibatasi oleh membran sinovial. Bursae merupakan bantalan diantara bagian-bagian yang bergerak seperti pada olekranon bursae, terletak antara prosesus olekranon dan kulit.
8. Sendi
Pergerakan tidak mungkin terjadi bila kelenturan dalam rangka tulang tidak ada, kemungkinan karena adanya persendian atau letak dimana tulang-tulang berada bersama-sama. Bentuk dari persendian dibedakan berdasarkan jumlah dan tipe pergerakan yang memungkinkan dan klasifikasi didasarkan pada jumlah pergerakan yang dilakukan.
Berdasarkan klasifikasinya persendian terbagi menjadi 3 kelas utama yaitu :
a. Synarthrosis (sendi yang tidak bergerak).
b. Sendi amphiarthrosis (persendian yang dapat bergerak sedikit).
c. Diarthrosis (pergerakan sendi bebas).

B. Konsep Dasar Fraktur
1. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontuinitas jaringan tulang / tulang rawan yang biasanya disebabkan oleh ruda paksa (Arif Mansjoer. 2000:306)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau tulang rawan sendi (Soelarto Reksoprojo, 1995:502).
2. Etilologi
a. Trauma
1) Langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur ditempat itu.
2) Tidak langsung bilamana titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan (Soeharto Reksoprojo, 1995: 503).
b. Patologis
Keadaan umum kelainan patologi adalah dengan trauma ringan sudah dapat terjadi fraktur dikarenakan tulang yang patologik, misalnya defesiensi vitamin D, osteoporosis, osteomalica, osteosarcoma.
c. Degenerasi
Terjadi akibat proses penuaan
d. Spontan
Terjadi tarikan otot yang sangat kuat.

3. Patofisiologi
Trauma yang terjadi pada tulang dapat menyebabkan fraktur yang dapat mengakibatkan seseorang memiliki keterbatas gerak, ketidakseimbangan dan nyeri pergerakkan. Jaringan lunak yang terdapat disekitar fraktur seperti pembuluh darah, saraf, otot serta organ lain yang berdekatan dapat rusak pada waktu trauma ataupun karena mencuatnya tulang yang patah. Apabila kulit sampai robek hal ini akan menjadikan luka yang terbuka dan menyebabkan resiko infeksi.
Tulang banyak memiliki pembuluh darah, akibat dari fraktur atau luka yang berat banyak darah yang keluar dari pembuluh darah ke dalam jaringan lunak atau pada luka yang terbuka. Luka dan keluarnya darah tersebut dapat mempercepat pertumbuhan bakteri. Kejang otot pada daerah fraktur dapat menyebabkan tertariknya segmen tulang, sehingga menyebabkan disposisi pada tulang karena tulang berada pada posisi yang kaku. Otot rangka juga dapat cedera oleh trauma. Otot rangka berdegenerasi tetapi apabila kerusakan sudah parah maka serabut otot tersebut terbuka akan diganti oleh jaringan parut (Marylin Vormer Bayne, 1991 : 780).

4. Deskripsi Fraktur
a. Menurut jumlah garis patah
1) Fraktur kominutif
Garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2) Fraktur segmental
Garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan, bila dua garis patah tersebut disebut fraktur bifokal.
3) Faktur multipel
Garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya, misalnya fraktur femur, fraktur crucis, dan fraktur tulang belakang (Arif Mansjoer. 2000: 347)

b. Komplit-tidak komplit
1) Fraktur komplit
Garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua tulang seperti terlihat pada foto.
2) Fraktur tidak komplit
Garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti :
a) Hairline
Merupakan patah seperti retak rambut.
b) Buckle fraktur atau tonus fraktur
Terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya. Fraktur ini umumnya terjadi pada distal radius anak-anak.
c) Greenstick fraktur
Fraktur tangkai dahan muda (Soelarto Reksoprodjo, 1995 : 503-504).

c. Bentuk garis patah dan hubungannya dengann mekanisme trauma.
1) Garis patah melintang
Contohnya Trauma angulasi atau langsung
2) Garis patah oblique
Contohnya Trauma angulasi

3) Garis patah spiral
Contohnya Trauma rotasi
4) Fraktur kompresi
Contohnya Trauma axial-flexi pada tulang spongiosa
5) Fraktur avulasi
Contohnya Trauma tarikan atau traksi otot pada tulang, misalnya fraktur patella (Arif Mansjoer, 2000 : 347)

d. Bergeser-tidak bergeser
1) Fraktur undisplaced (tidak bergeser)
Garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser,
periosteumnya masih utuh.
2) Fraktru displaced (bergeser)
Terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut dislokasi fragmen, terbagi menjadi :
a) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum
Pergesaran searah sumbu dan overlapping
b) Dislokasi ad axim
Pergesaran yang membentuk sudut
c) Dislokasi ad latus
Pergeseren dimana kedua fragmen saling menjauhi
(Soelarto Reksopardjo, 1995 : 507)
e. Terbuka-tertutup
1) Fraktur terbuka (open / compound)
Bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya pertukaran di kulit. Fraktur terbuka dibagi atas tiga derajat (R.Gustilo. 1998 : 203)
a) Derajat I
Luka kurang 1 cm, kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda luka remuk, fraktur sederhana, transversal, oblique atau mominutif ringan, dan kontaminasi minimal.
b) Derajat II
Laserasi lebih 1 cm, kerusakan jaringan lunak tidak luas, flap atau avulasi, fraktur kominutif sedang dan kontaminasi sedang.
c) Derajat III
Luka lebih luas kira-kira 6-8 cm, terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur derajat II terbagi atas :
1) Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat laserasi luas / flap / avulsi atau fraktur segmental atau sangat komunitif yang disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran luka.
2) Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur yang terpapar atau kontaminasi masif.
3) Luka pada pembuluh arteri atau saraf perifer yng harus diperbaiki tanpa melihat kerusakan jaringan lunak.

2) Fraktur tertutup (simple)
Bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dengan dunia luar (Arif Mansjoer. 2000 : 346)

f. Berdasarkan lokasi
1) Fraktur Coles
Fraktur dimana radius distal patah dalam 1 inchi dari permukaan sendi.
2) Fraktur Pott
Terjadi pada ujung distal dari tibula dan selalu bersamaan dengan ruptur pada ligamen internal atau pecahan medial maleolus atau keduanya menyebabkan sendi tibiofibular rusak.
3) Fraktur Artikulasi (fraktur sendi)
Fraktur meliputi permukaan sendi.
4) Fraktur Intrakapsular
Fraktur yang terjadi dalam kapsul sendi
5) Fraktur ekstarkapsular
Fraktur yang terjadi dekat sendi tetapi tidak masuk kedalam kapsul sendi.
6) Fraktur Epiphyseal
Fraktur meliputi pusat tulang pada ekstrimitas tulang panjang.

5. Manifestasi klinis
a. Derfomitas (perubahan bentuk)
b. Bengkak, edema tampak dengan cepat disekitar fraktur dan banyaknya keluar darah disekitar jaringan.
c. Ekhymosis, perdarahan subkutan
d. Spasme otot karena kontraksi involunter disekitar fraktur
e. Tenderness (nyeri tekan pada daerah fraktur)
f. Nyeri, karena kerusakan jaringan sisi-sisi fraktur dan pergerakan bagian fraktur.
g. Gangguan sensai, terjadinya kerusakan atau terjepitnya saraf akibat dari edema, perdarahan atau fragmen tulang.
h. Kehilangan fungsi normal, akibat dari ketidakstabilan tulang yang mengalami fraktur, nyeri spasme otot, paralysis dapat terjadi disebabkan oleh kerusakan saraf.
i. Mobilisasi abnormal
j. Krepitasi yang dapat dirasakan atau didengar jika fraktur digerakkan.
k. Syok hipovolemik, akibat dari banyaknya darah yang keluar.
(Bernard Bloch, 1986:4).

6. Fase penyembuhan fraktur
a. Tahap I : Formasi hematoma dan proliferasi periosteal
Trauma merusak periosteum dan pembuluh darah sehingga menyebabkan perdarahan. Hematoma akan terbentuk di daerah fraktur setelah lebih dari 24 jam, menyebabkan bengkak dan nyeri. Selama seminggu pertama, sel darah putih terutama netrofil dan kapiler-kapiler baru akan menyerbu bekuan pada daerah tersebut yang akan membentuk jaringan granulasi menggantikan hematoma . Pada saat yang sama, masuk juga fibroblast dan osteoblast yang berasal dari lapisan dalam periosteum dan endosteum. Proliferasi terjadi disekitar fraktur dan lapisan fibrous periosteal dan pembentukan granulasi jaringan membentuk pita yang menglilingi ujung fragmen.
b. Tahap II : Formulasi Kalus
Fibrolast pada jaringan granulasi berdiferensiasi menjadi kartilago hyaline, fibri kartilago dan jaringan yang disebut kalus yang menghubungkan fraktur. Proses ini berlangsung hingga akhir minggu kedua.
c. Tahap III : Ossifikasi
Osteoblast membentuk trabekula yang melekat pada tulang dan meluas kepecahan tulang lainnya. Pada tulang panjang dewasa proses ini berlangsung sekitar 3-6 bulan atau lebih.

d. Tahap IV : Konsulidasi atau remodeling
Kalus tebal diabsorpsi oleh aktivitas osteoklas dan osteoblast akan membentuk tulang baru sehingga akan terbentuk tulang yang menyerupai keadaan tulang aslinya. Remodeling berlangsung empat sampai delapan bulan.

7. Faktor-Faktor yang mempengaruhi fraktur.
a. Faktor lokal
Sifat luka atau berat trauma, derajat pembentukan formasi selama penyembuhan, jumlah tulang yang hilang, tipe tulang, tipe tulang cedera, derajat immobilisasi yang terkena, infeksi lokal yang dapat memperlambat penyembuhan dan nekrosis yang menghalangi alirah darah ke fraktur.
b. Faktor klien
Usia klien, pengobatan yang sedang dijalani misalnya kortikosteroid, sistem sirkulasi, gizi dan penyakit.

8. Komplikasi
Komplikasi fraktur terdiri dari :
a. Komplikasi umum
Adapun komplikasi dari fraktur adalah Crush syndrome, syok, trombosis vena, emboli paru, tetanus, gas ganggren dan emboli lemak.

b. Komplikasi lokal
1) Komplikasi dini terdiri infeksi, pelepuhan dam borok akibat gips, otot dan tendon robek, cedera vaskuler, sindroma kompartemen, cedera saraf, cedera viseral, hemartrosis, dan cedera ligamen.
2) Komplikasi lanjutan terdiri dari nekrosis avaskuler, delayed union, non union, mal union, ulkus dekubitus, miositis osifikans, tendinitis, kompresi saraf, kontraktur volkman, ketidakstabilan dan kekakuan sendi serta algodistrofi.

9. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan labolatorium
Hb, fosfat serum, dan kalsium serum
b. Radiologi
X-Ray, CT-Scan
c. Pemeriksaan Diagnostik lain
Bone scan, MRI

10. Penanganan
Adapun dasar pertimbangan pada saat menangani fraktur adalah :



a. Rekognisi
Riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, jenis kekuatan yang berperan, dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi untuk menentukan adanya kemungkinan fraktur.
b. Reduksi
Usaha dan tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak asalnya.

c. Retensi
Menyatakan cara-cara yang dilakukan untuk menahan fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan.
d. Rehabilitasi
Pencapaian kembali fungsionalnya.

11. Pengobatan
a. Terapi konservatif, terdiri dari :
1) Proteksi saja, misalnya mitela untuk fraktur collum chirurgicum humeri dengan kedudukan baik.
2) Immobilisasi saja tanpa reposisi, misalnya pemasangan gips pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan kedudukan baik.
3) Reposisi tertutup dan fiksasi gips, misalnya pada fraktur suprakondilus, fraktur colles, fraktur smith. Reposisi dapat dalam anastesi umum atau lokal.
4) Traksi, untuk reposisi secara perlahan. Pada anak-anak dipakai traksi kulit (traksi Hamilton Russel, traksi Bryant) Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban kurang 5 kg. Untuk traksi dewasa atau traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction.
b. Teori operatif, fiksasi interna
1) Reposisi terbuka, fiksasi interna.
2) Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna.
Terapi operatif dengan reposisi anatomis diikuti dengan fiksasi interna (open reduction and internal fixation), atroplasti eksisional, eksisi fragmen dan pemasangan endoprostesis.
(Arif Mansjoer, 2000 : 348-349)

C. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Fraktur
Untuk melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur digunakan suatu pendekatan yang sistemik yaitu pendekatan proses keperawatan. Pendekatan ini digunakan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapi klien dengan fraktur yang untuk memenuhi kebutuhan klien dalam penyembuhan penyakitnya, pemilihan dan peningkatan kesehatan. Teori dan konsep keperawatan di implementasikan secara terpadu dalam tahapan yang teorganisasi meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, tindakan dan evaluasi. Untuk lebih jelas mengenai asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap utama proses keperawatan yang merupakan dasar dari kegiatan-kegiatan asuhan keperawatan berikutnya. Pengkajian terhadap klien dengan gangguan muskuloskeletasl anamnasa, observasi, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang meliputi data objectif dan subjective. Dalam pengumpulan data sumber data dapat berupa klien sendiri, keluarganya, perawat, dokter ataupun dari catatan medis.
Pengumpulan data meliputi :
a. Identifikasi klien
Nama, jenis kelamin, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku, alamat, penaggung jawab.
b. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Menceritakan kapan gejala klien mengalami fraktur, dimana dan bagaimana proses terjadinya, anggota gerak mana yang terkena, apakah ada trauma pada bagian tubuh yang lain serta tindakan apa yang sudah dilakukan untuk menangani fraktur tersebut. Klien yang fraktur biasanya akan mengeluh nyeri pada daerah tulang yang patah yang pada jaringan yang lunak yang mengalami luka sehingga menyebabkan klien tidak dapat menggerakkan anggota badannya yang terkena fraktur. Nyeri dirasakan biasa pada saat bergerak saja atau terus menerus. Akibat dari tidak bisa bergerak yang disebabkan karena nyari akan menyebabkan klien tidak dapat memenuhi ADL nya secara maksimal.
2) Riwayat kesehatan dahulu
Kaji adanya riwayat penyakit yang berat atau terkena penyakit tertentu seperti yang memungkinkan akan berpengaruh pada keadaan sekarang, malnutrisi, penyakit tulang, penmgobatan kortikosteroid dan alkohol.
Riwayat kesehatan keluarga.
Riwayat penyakit keturunan atau penyakit-penyakit karena lingkungan yang kurang sehat, maupun kebiasaan buruk yang berdampak negatif pada seluruh anggota keluarga termasuk klien sehingga memungkinkan untuk memperberat penyakitnya.
c. Pengkajian psikososial
Perlu dikaji mengenai konsep diri yaitu gambaran diri, ideal diri, harga diri dan peran diri, pada klien yang fraktur dan immobilisasi, biasanya terjadi perubahan pada konsep diri secara perlahan-lahan yang mana dapat dikenali melalui observasi terhadap adanya perubahan yang kurang wajar dalam status emosional. Perubahan tingkah laku dan menurunya kemampuan dalam pemecahan masalah.
d. Pola aktivitas sehari-sehari
Perlu dikaji adalah meliputi nutrisi (frekuensi makan, jenis makanan, porsi makanan, kesulitan saat makan), cairan (jenis dan kuantitas minum), eliminasi yang meliputi buang air besar (frekuensi kesulitan saat buang air besar jumlah dan karakteristik urine). Personl hygiene (frekuensi mandi, gosok gigi, mencuci rambut, gosok gigi), olah raga (frekuensi dan jenis) serta rekreasi (frekuensi dan tempat rekreasi).

e. Pemeriksaan fisik
Dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi terhadap berbagai sistem tubuh :
1) Keadaan umum
Pada klien yang diimmobilisasi akibat fraktur perlu diperhatikan dalam hal keadaan umumnya meliputi penampilan, postur tubuh (kiposis, skoliosis, lordosis), kesadaran dan gaya bicara karena klien yang di immobilisasi biasanya akan mengalami kelemahan, kebersihan diri kurang, bentuk tubuh kurus akibat adanya penurunan berat badan, gaya bicara masih normal, kesadaran composmentis.
2) Sistem pernapasan
Perlu dikaji mulai dari bentuk hidung, ada tidaknya sekret pada lubang hidung, pergerakan cuping hidung saat bernapas, kesimetrisan gerakan dada saat bernapas. Auskultasi bunyi napas, apakah bersih atau ada ronchi, serta frekuensi nafas, hal ini penting karena immobilisasi berpengaruh pada pengembangan paru dan immobilisasi sekret pada jalan napas.
3) Sistem kardiovaskuler
Mulai dikaji dari melihat warna konjungtiva, warna bibir, ada tidaknya peninggian vena jugularis dengan palpasi dapat dihitung frekuensi denyut nadi dan intensitasnya, kemudian auskultasi bunyi jantung pada daerah dada dan pengukuran tekanan darah.
4) Sistem pencernaan
Perlu dikajai keadaan mulut, gigi, bibir, lidah, peristaltik usus apakah ada teraba massa.
5) Sistem genitourinaria
Dapat dikaji dari ada atau tidaknya pembengkakan dan nyeri pada daerah pinggang. Apakah ada kelainan alat-alat genitourinaria, bagian luar, nyeri tekan atau benjolan, palpasi abdomen bawah untuk mengetahui adanya retensi urine.
6) Sistem muskuluskletal
Perlu dikaji pada sistem ini yaitu derajat ROM dari pergerakan sendi mulai kepala sampai anggota gerak bawah adanya deformitas, spasme, bengkak, echymosis, penurunan fungsi, krepitasi nyeri saat bergerak maupun diam, toleransi, toleransi klien saat bergerak dan observasi adanya luka yang mengenai otot akibat fraktur terbuka, selain ROM, kekuatan otot perlu dikaji karena pada klien yang immobilisasi biasanya kekuatan otot akan menurun.
7) Sistem integumen
Perlu dikaji keadaan kulit, rambut, dan akut dan kuku, pemeriksaan kulit meliputi tekstur, kelembapan, turgor, warna dan fungsi perabaan.
8) Sistem neurosensori
Perlu dikaji sensori motorik, reflek, capila refil.

f. Pemeriksaan diagnostik
1) Tes labolatorium
Hb, LED, fosfat serum dan kalsium magnesium.
2) Tes radiologi
X-ray, CT Scan
3) Tes diagnostik lain
Bone scan, MRI

2. Diagnosa Keperawatan
Adapun rumusan diagnosa secara umum pada klien dengsn fraktur (Ignatavicus, 1993 hal : 789).
a. Nyeri berhubungan dengan fraktur tulang, spasme otot, edema dan kerusakan jaringan.
b. Gangguan Perfusi jaringan (perifer) berhubungan dengan perdarahan akibat injuri.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma tulang dan kerusakan jaringan.
d. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri dan perawatan fraktur.
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tambahan kebutuhan metabolik untuk penyembuhan tulang dan jaringan lunak.
f. Cemas berhubungan dengan nyeri, ketidakmampuan dan melemahnya mobilitas.
3. Perencanaan
a. Nyeri
Tujuan :
Nyeri berkurang atau hilang, klien mendemonstrasikan teknik relaksasi dengan tepat, ekspresi wajah tenang dan klien dapat mengungkapkan perasaan lebih santai.
Intervensi :
1) Observasi intensitas, letak, dan tipe nyeri : gunakan skala nyeri, selidiki adanya keluhan nyeri yang tidak biasa atau tiba-tiba atau dalam, lokasi progresif atau buruk tidak hilang dengan analgetik.
2) Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi.
3) Tinggikan dan dukung ekstrimitas yang terkena.
4) Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif atau aktif.
5) Dorong menggunakan teknik manajemen stress, contoh relaksasi progresif, latihan napas dalam, imajinasi visulasisasi, sentuhan terapeutik.
6) Ganti posisi dengan bantuan sesuai toleransi
7) Berikan analgetik sesuai program
b. Gangguan perfusi jaringan (perifer)
Tujuan :
Klien dapat mempertahankan jaringan yang dibuktikan oleh terabanya nadi distal pada fraktur, kulit kepala hangat, pengisian kapiler normal ( 2 sampai 4 detik).
Intervensi :
1) Pantau nadi distal dari fraktur setiap 1 jam dan 2 jam dan observasi terhadap warna, suhu dan sensi.
2) Kaji pengisian kapiler, laporkan temuan normal dan bandingkan dengan ekstrimitas sebelahnya.
3) Selidiki tanda iskemia ekstrimitas secara tiba-tiba, contoh penurunan suhu kulit, dan peningkatan nyeri.
4) Dorong pasien untuk secara rutin bertahap latihan jari atau sendi distal yang cedera, ambulasi sesegera mungkin sesuai kemampuan.
5) Berikan suplemen vitamin dan zat besi.
c. Resiko tinggi infeksi
Tujuan :
Infeksi tidak terjadi
Intervensi :
1) Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas.
2) Gunakan teknik aseptik dan antiseptik.
3) Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warnam kulit kecoklatan, bau drainase yang tidak enak atau asam.
4) Kolaborasi dalam pemberian antibiotik
5) Kolaborasi dalam pemeriksaan labolatorium seperti hidung darah lengkap, LED, kultur dari sensitivitas luka atau serum atau tulang.
d. Gangguan mobilisasi fisik
Tujuan :
Klien dapat mempertahankan posisi yang fungsional, meningkatkan kekuatan atau fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh serta menunjukan teknik melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Intervensi :
1) Kaji derajat immobilitas yang dihasilkan oleh cedera atau pengoabatan dan perhatikan persepsi terhadap immobilisasi.
2) Pertahankan tirah baring dalam posisi yang dipesankan untuk meningkatkan penyembuhan.
3) Instruksikan pasien untuk atau bantu dalam rentang gerak pasien atau aktif pada ekstrimitas yang sakit dan yang tidak sakit.
4) Beri penyangga pada ekstrimitas yang diatas dan dibawah fraktur ketika bergerak, berbalik, dan mengikat.
5) Awasi TD dengan melakukan aktivitas perhatikan keluhan pusing.
6) Dorong untuk melakukan aktivitas sehari-hari dalam lingkup keterbatasan, berikan bantuan, sesuai kebutuhan
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Tujuan :
Klien dapat mempertahankan intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan dan mencegah komplikasi.
Intervensi :
1) Kaji makanan yang disenangi dan tidak disenangi
2) Anjurkan klien untuk makanan yang mengandung vitamin A, B,.C, K, kalsium, protein dan zat besi untuk membantu dalam proses penyembuhan.
3) Anjurkan klien untuk makan dalam porsi kecil tapi sering.
4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk rencana mengolah makanan yang menarik dan bergizi.

f. Cemas
Tujuan :
Rasa cemas berkurang, klien mendemonstrasikan teknik relaksasi dengan tepat, ekspresi wajah tenang dan relaks klien mengungkapkan perasaan lebih santai dan menghargai.
Intervensi :
1) Pantau tingkat ansietas pasien.
2) Berikan dan luangkan waktu untuk mengungkapkan perasaan.
3) Ajarkan dan bantu dalam teknik penatalaksanaan sterss.

0 Response to "Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Fraktur"

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Klik salah satu Link di Bawah ini, untuk menutup BANNER ini...