February 26, 2012

Keragaman Suku Bangsa Indonesia di Bagian Barat, Tengah, & Timur


Keragaman Suku Bangsa Indonesia di Bagian Barat, Tengah, & Timur
Sebagai bangsa yang majemuk, bangsa Indonesia memiliki puluhan, bahkan ratusan suku bangsa. Suku-suku bangsa tersebut tersebar di seluruh Indonesia. Keberagaman suku bangsa menjadi karakteristik tersendiri bagi Indonesia. Misalnya, di Kepulauan Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa berbagai macam aneka tradisi dan karya budaya tumbuh dan berkembang seperti aneka tarian, arsitektur, rumah adat, candi, kerajinan tangan, dan jenis makanan. Kesemua itu menjadi berbeda di setiap suku bangsanya. Melihat realitas ini dapat dibayangkan betapa kaya dan indahnya kebudayaan Indonesia. Nah, kali ini kita akan mengkaji lebih dalam tentang kekayaan kultur Indonesia dari barat sampai ke timur.

1. Suku Bangsa Mentawai
Orang Mentawai bertempat tinggal di Kepulauan Mentawai, yaitu di pulau-pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Umumnya, mereka masih tinggal di daerah-daerah hutan tropik. Desa-desa yang ada biasanya terletak di muara sungai, jaraknya lima kilometer dari pantai. Mata pencaharian suku Mentawai adalah berkebun dengan cara membuka sebidang tanah di hutan dengan cara memotong belukar dan menebang pohon-pohon yang kecil. Selain berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, orang Mentawai juga menangkap ikan dan berburu di hutan. Umumnya orang Mentawai telah menganut agama. Agama yang ada adalah Kristen, Katolik, dan Islam, walaupun nilainilai tradisi masih melekat dengan kuat.

2. Suku Bangsa Nias
Pulau Nias merupakan pulau terbesar di sebelah barat Sumatra. Orang Nias mendiami Kabupaten Nias yang terdiri atas satu pulau besar utama dan beberapa pulau kecil, seperti Pulau Hikano di Karat, Senau dan Lafau di utara dan Pulau Batu di selatan. Bahasa yang berkembang pada suku Nias mempunyai dua logat, yaitu logat di Nias Utara dan Nias Selatan atau Tello. Logat yang pertama digunakan di Nias bagian utara, timur, dan barat. Sedangkan yang kedua digunakan di Nias bagian tengah, selatan, dan Kepulauan Batu. Umumnya mata pencaharian orang Nias adalah bercocok tanam dan berladang. Sedangkan mata pencaharian tambahan adalah berburu, menangkap ikan, beternak, dan pertukangan. Sistem religi yang berkembang pada orang Nias sudah sangat beragam. Menurut catatan tahun 1967, jumlah pemeluk agama di Nias yaitu Kristen Protestan 295.244 jiwa, Islam 30.163 jiwa, Katolik 24.485 jiwa, Pelega 2.658 jiwa, dan Buddha 288 jiwa.

Lompat Batu di Nias
Di Nias Selatan, para pemuda dilatih melompati dinding batu kiri dan kanan, latihan untuk menyiapkan mereka menghadapi perang. Kini, melompati batu digelar untuk hiburan wisatawan. Tiang batu, yang disebut hambo batu, tempat para pemuda latihan melompat masih dapat dijumpai di banyak desa di Nias. Apabila loncatan berhasil, satu kepala harus dikuburkan di dalamnya. Tetapi apabila seseorang gagal dalam loncatan, salah satu anggota dewan tua-tua, warga desa, rakyat biasa menjejakkan kakinya pada batu tersebut (bawah kanan), untuk memohon kepada roh dari kepala yang dikubur agar pelompat muda itu diizinkan menyelesaikan tugasnya pada usahanya yang kedua.
Sumber: Indonesian Heritage, halaman 17

3. Suku Bangsa Minangkabau
Mayoritas suku Minang bertempat tinggal di Sumatra Barat. Suku Minang hidup dengan budaya matriarkal. Budaya matriarkal menyentuh sendi kehidupan suku Minang, di mana garis keturunan mereka ditentukan oleh garis keturunan ibu, yang dikenal dengan budaya Bundo Kanduang. Namun demikian, budaya matriarkal tidak menyentuh pada lembaga pemerintahan, karena di dalam memerintah laki-laki masih mendominasi kekuasaan dibandingkan kaum perempuan. Hal ini dikarenakan pengaruh agama Islam yang kuat di kalangan suku Minang. Umumnya orang Minang menggunakan bahasa mereka sendiri, yaitu bahasa Minangkabau. Bahasa ini erat kaitannya dengan bahasa Melayu. Pada dasarnya antara bahasa Melayu dengan Minangkabau memiliki banyak kesamaan. Berbicara tentang mata pencaharian hidup, sebagian besar suku Minang hidup dengan bercocok tanam. Mereka mengusahakan sawah di daerah yang tinggi untuk menanam sayursayuran. Di daerah kurang subur, mereka menanam pisang, ubi jalar, dan sebagainya. Sementara di daerah pesisir, mereka hidup dari hasil kelapa dan menangkap ikan.

4. Suku Bangsa Batak
Sebagian besar suku bangsa Batak mendiami daerah pegunungan Sumatra Utara, mulai dari perbatasan Daerah Istimewa Aceh di utara sampai ke perbatasan Riau dan Sumatra Barat sebelah selatan. Selain itu, orang Batak juga mendiami tanah datar yang berada di antara daerah pegunungan pantai timur Sumatra Utara dan pantai barat Sumatra Utara. Dengan demikian, suku Batak mendiami Dataran Tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Dairi, Toba, Humbang, Silindung, Angkola, Mandailing, dan Kabupaten Tapanuli Tengah.
Suku bangsa Batak terdiri atas beberapa subsuku antara lain suku Karo (mendiami di Dataran Tinggi Karo, Langkat, Hulu, Serdang Hulu, dan Deli Hulu), suku Simalungun (mendiami di daerah Simalungun), suku Pakpak (mendiami daerah Dairi), suku Toba (mendiami suatu daerah induk yang meliputi daerah tepi Danau Toba, Pulau Samosir, Dataran Tinggi Toba, daerah Asahan, Silindung, daerah antara Barus dan Sibolga), suku Angkola (mendiami daerah induk Angkola dan Sipirok, sebagian dari Sibolga dan Batang Toru dan sebagian utara dari Padang Lawas), serta suku Mandailing (mendiami daerah induk Mandailing, Ulu, Pakatan, dan bagian selatan dari Padang Lawas). Dikenal beberapa logat bahasa yang berkembang di suku Batak. Logat-logat tersebut antara lain, logat Karo yang dipakai oleh orang Karo, logat Pakpak dipakai oleh orang Pakpak, logat Simalungun dipakai oleh orang Simalungun, dan logat Toba dipakai oleh orang Toba, Angkola, serta Mandailing.
Sejak permulaan abad XIX Batak mengenal beberapa agama baru yaitu agama Islam, Kristen Protestan, dan Katolik. Walaupun begitu masih banyak kepercayaan-kepercayaan yang hidup, terutama di antara penduduk pedesaan.

5. Suku Bangsa Jawa
Suku bangsa Jawa tinggal dan menetap di Pulau Jawa. Namun, tidak semua wilayah di Pulau Jawa dihuni oleh suku Jawa. Di Pulau Jawa bagian barat dihuni oleh suku Sunda dan di ujung timur dihuni oleh suku Madura. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa yang mengenal akan tingkatan-tingkatan, yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Krama. Bahasa Jawa Ngoko digunakan untuk orang yang usianya lebih muda, untuk orang yang status sosialnya lebih rendah dan untuk orang yang sudah sangat akrab. Bahasa Jawa Ngoko memiliki dua tingkatan lagi apabila dilihat dari penggunaannya, yaitu Ngoko Lugu dan Ngoko Andap. Sedang bahasa Jawa Krama dipergunakan untuk berbicara dengan orang yang statusnya lebih tinggi dan usianya lebih tua.
Sebagian besar suku Jawa bermata pencaharian sebagai petani, selain itu ada pula pegawai negeri, pedagang, nelayan, dan pertukangan. Sistem kepercayaan suku Jawa pun sangat beragam selain lima agama resmi (Islam, Kristen Protestan, Katolik, Buddha, dan Hindu) terdapat pula kepercayaan lain yang berkembang.

6. Suku Bangsa Dayak
Suku bangsa Dayak sebagian besar hidup di Pulau Kalimantan. Suku Dayak terdiri atas beberapa macam subsuku seperti Dayak Ngaju, Dayak Punan, Dayak Maanyan, Lawangan, Katingan, dan Dayak Ot. Dalam Dayak Ot masih terdapat sub-subsuku, yaitu Ot-Siauw, Ot-Paridan, Ot-Danum, Ot-Olong-olong, dan sebagainya. Suku Dayak Ngaju menempati sepanjang sungai-sungai besar di Kalimantan Tengah seperti Kapuas, Kahayan, Rungan-Manuhin, Barito, dan Katingan. Suku Ot-Danum menempati sepanjang hulu sungai-sungai besar seperti Kahayan, Rungan, Barito, dan Kapuas dan di hulu anak Sungai Kapuas. Sedangkan bangsa Maanyan tersebar di berbagai bagian Kabupaten Barito Selatan, yaitu di tepi timur Sungai Barito. Umumnya sebagian besar masyarakat Dayak menggunakan bahasa yang disebut keluarga bahasa Barito. Selain itu, sebagian besar masyarakat suku Dayak bermata pencaharian berladang dan berburu. Dalam masyarakat suku Dayak berkembang empat kepercayaan atau religi, yaitu agama Islam, pribumi, Katolik, dan Kristen Protestan. Agama pribumi sering disebut dengan Kaharingan. Kaharingan memercayai bahwa alam sekitarnya penuh dengan makhluk halus atau rohroh yang biasanya menempati tiang rumah, batu besar, pohon besar, hutan belukar, air, dan sebagainya.

7. Suku Bangsa Minahasa
Suku bangsa Minahasa sebagian besar mendiami Sulawesi Utara. Sebelah utara Minahasa adalah orang Sangir-Talaud, sedangkan di sebelah selatan orang Bolaang-Mongondow. Oleh karena letak geografisnya yang luas, maka dalam suku Minahasa berkembang cukup banyak dialek atau bahasa yang digunakan. Dialek-dialek tersebut antara lain:
a. Tonsea dengan dialek Tonsea yang mendiami daerah sekitar bagian timur laut.
b. Tombalu dengan dialek Tombalu yang mendiami daerah sekitar barat laut Danau Tondano.
c. Tontemboan dengan dialek Tontemboan yang mendiami daerah sekitar barat daya dan selatan Danau Tondano atau bagian barat daya daerah Minahasa.
d. Toulour dengan dialek Toulour yang mendiami daerah bagian timur dan pesisir Danau Tondano.
e. Tonsawang atau Tonsini dengan dialek Tonsawang yang mendiami daerah bagian tengah Minahasa Selatan atau daerah Tombatu.
f. Ratahan
g. Ponosakan, orang Ratahan, dan Ponosakan mendiami daerah bagian tenggara Minahasa.
h. Batik, bahasa Ratasan dan Batik berbeda dengan dialek-dialek Minahasa, tetapi memiliki banyak unsur yang sama dengan bahasa Sangir.

Sebagian besar masyarakat suku Minahasa bermata pencaharian sebagai petani ladang dan nelayan. Selain itu, ada pula yang menjadi seorang pengrajin tikar, aneka wadah yang terbuat dari kaukur, silar, kulit, dan isi dari sejenis bambu yang tipis. Sementara itu, 90% suku Minahasa memeluk agama Kristen dan Katolik. Sedangkan sisanya 7% adalah pemeluk agama Islam dan 3% penganut Buddha. Agama pribumi sendiri sudah tidak banyak dianut oleh masyarakat.

8. Suku Bangsa Bugis-Makassar
Provinsi Sulawesi Selatan dihuni empat suku bangsa besar, yaitu Bugis, Toraja, Makassar, dan Mandar. Suku Bugis mendiami Kabupaten Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Didenreng-Rappang, Pinreng, Polewali-Mamasa, Enrekeng, Luwu, Pare-Pare, Barru, Pangkajemen Kepulauan, dan Maros. Sedang orang Makassar mendiami kabupaten-kabupaten Gowa, Takalar, Jenepoto, Bantaeng, Maros, Pangkajene. Daerah peralihan Bugis-Makassar yaitu penduduk Kepulauan Selayar. Umumnya orang Bugis menggunakan bahasa Ugi dan orang Makassar menggunakan bahasa Mangasara.
Keberadaan suku Bugis-Makassar di Indonesia terkenal sebagai pelaut yang tangguh. Perahu-perahu mereka yang bertipe Pinisi dan Lamb telah mengarungi Nusantara sampai ke Sri Lanka dan Filipina. Selain itu, suku Bugis-Makassar mampu mengembangkan teknik dan sistem pelayaran. Bahkan, telah memiliki hukum hingga dalam pelayaran yang dinamakan Ade’ Allopoloping Bicaranna Pabbalu’e. Sebagian masyarakat Bugis dan Makassar masih menganut sistem adat yang sakral.

9. Suku Bangsa Flores
Suku Flores mendiami kelompok kepulauan yang terdiri atas Pulau Komodo, Rinca, Ende, Solor, Adonarai, Lomblem, dan lain-lain. Suku bangsa Flores terdiri atas sub-subsuku antara lain Manggarai, Orang Riuna, Orang Ngada, Orang Nage-keo, Orang Ende, Orang Lio, Orang Sikka, dan Orang Larantuka.
Umumnya suku Flores bermata pencaharian sebagai petani ladang. Kaum laki-laki bekerja sama membuka hutan, memotong, dan membersihkan belukar, membakar daun-daunan, batang-batang, dan cabang-cabang yang telah ditebang. Sebagian besar suku Manggarai adalah penganut agama Katolik. Namun, ada juga yang beragama Kristen Protestan. Selain itu, kepercayaan terhadap roh nenek moyang pun masih tumbuh dan berkembang.

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: