November 16, 2011

anatomi fisiologi sistem urinaria / perkemihan & struktur fungsinya

Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan / Urinaria
Sistem perkemihan adalah suatu sistem yang di dalam nya terjadi proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak di pergunakan oleh tubuh. Zat yang tidak di pergunakan oleh tubuh akan larut dalam air dan di keluarkan berupa urine dan zat yang di perlukan oleh tubuh beredar kembali dalam tubuh melalui pembuluh kapiler darah ginjal, masuk kedalam pembuluh darah dan selanjut nya beredar ke seluruh tubuh. Sistem perkemihan ini merupakan suatu rangkaian organ yang terdiri dari ginjal, ureter, vesika urinaria dan uretra.

1.    Ginjal
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak dirongga retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap kemedial. Pada sisi ini terdapat hilus ginjal yaitu tempat struktur – struktur pembuluh darah, system limfatik, system saraf dan ureter menuju dan meninggalkan ginjal.
Kedua ginjal terletak di kavitas abdominalis bagian atas, di kanan dan kiri kolumna vertebralis di belakang peritoneum (retroperitoneal). Bagian atas ginjal menempel pada permukaan bawah diafragma dan dilindungi oleh rangka iga. Ginjal tertanam pada jaringan lemak yang berfungsi sebagai bantalan dan diselimuti oleh membran jaringan ikat fibrosa yang disebut fascia renalis (Valerie c. Scanlon, 2007, hlm. 390).
Saluran kemih terdiri dari ginjal yang terus menerus-menerus menghasilkan urine, dan berbagai saluran dan reservor yang dibutuhkan untuk membawa urine keluar tubuh. Ginjal juga merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak dikedua sisi kolumna vertebralis, adapun  ginjal kanan sedikit lebih rendah di bandingkan ginjal kiri karena tertekan kebawah oleh hati (Sylia A. Price, 2006, hlm. 867).
a.    Struktur ginjal
Pada korona atau bagian depan ginjal, tiga area dapat dibedakan. Daerah terluar disebut korteks renalis. Disusun oleh korpuskulum renalis dan tubulus kontortus (Keduanya adalah bagian nefron). Daerah tengah adalah medula renalis, yang disusun oleh lengkung henle dan tubulus kolektivus (juga merupakan bagian nefron). Daerah ketiga adalah pelvis renalis daerah ini tidak berbentuk selapis jaringan, tetapi merupakan sebuah rongga yang dibentuk oleh perluasan ureter dalam ginjal pada hilus (Valerie c. Scanlon, 2007, hlm. 390).
Secara anatomis, ukuran ginjal ± panjang 11,25 cm, lebar 5 cm, tebal 2,5 cm. Posisi di Toracal ke 12 Lumbal ke 3 dibelakang abdomen, posisi ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri karena terdesak oleh hepar (Suyono, 2001). Lapisan- lapisan pembungkus ginjal:
1)    Bagian dalam: capsula renalis yang berlanjut dengan lapisan permukaan ureter
2)    Bagian tengah: capsula adiposa yang merupakan jaringan lemak untuk melindungi ginjal dari trauma
3)    Bagian luar: Fascia renalis ( jaringan ikat) yang membungkus ginjal dan menghubungkannya dengan dinding abdomen posterior. Jaringan flexibel memungkinkan ginjal bergerak dengan lembut saat diafragma bergerak waktu bernafas, mencegah penyebaran infeksi dari ginjal ke yang lain.

Anatomi dalam ginjal
Dari dalam keluar: Renal Pelvis, Medulla dan Korteks
1)    Renal pelvis merupakan ruang penampung yang besar yang menghubungkan medula dengan ureter.
2)    Medulla renalis merupakan bagian tengah ginjal, terdiri dari 8- 18 piramida. Bagian apeks dari piramida adalah papilla. Tubulus pada piramida berperan dalam reabsorpsi zat- zat yang terfiltrasi.
3)    Cortex renalis: paling luar dari ginjal terdiri dari area kortikal dan area juxtamedullari. Mempunyai kapiler- kapiler menembus medula melalui piramid membentuk renal kolum. Lihat gambar 2.2: anatomi ginjal.
Secara anatomis ginjal di bagi menjadi 2 bagian yaitu korteks dan medulla ginjal. Didalam korteks terdapat berjuta-juta nefron sedangkan di dalam medulla banyak terdapat duktuli ginjal. Peran ginjal dalam begitu banyak fungsinya seperti penyaringan tidak terlepas dari kerja nefron.
1)   Nefron
Nefron merupakan satuan fungsional ginjal. Setiap ginjal mengandung kira-kira 1,3 juta nefron dan tiap nefron dapat membentuk urina sendiri. Selama 24 jam dapat nefron dapat menyaring 170 liter darah. Nefron merupakan unit fungsional pada ginjal. Masing- masing ginjal memiliki sekitar 1 juta nefron, nefron terdiri lima komponen:
1)    Kapsula bowman dan glomerulus merupakan tempat terjadinya filtrasi
2)    Tubulus proksimal: tempat reabsorpsi dan beberapa sekresi.
3)    Lengkung henle: tempat pengenceran dan pemekatan urin terjadi
4)    Tubulus distal: reabsorpsi dan lebih banyak sekresi.
5)    Duktus kolektifus: pemekatan urin dan menyalurkan urin ke renal pelvis.
Secara garis besar dikatakan bahwa nefron terdiri atas dua komponen yaitu komponen tubular yang terdiri dari glomerulus sampai dengan tubulus exretori dan komponen vascular yang terdiri dari kapiler glomerulus dan kapiler (Suyono, 2001).
Pada dasarnya nefron terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :
a)    Glomerulus
Bagian ini mengandung anyaman kapiler yang terletak didalam kapsul bowman dan menerima darah dari arteriola afferen. Glomerulus berdiameter 200 mm, dibentuk oleh invagiansi suatu anyaman kapiler yang menempati kapsula bowmen dimana cairan difiltrasikan.
Jumlah filtrat glomerulus yang dibentuk setiap menit dalam semua nefron kedua ginjal disebut Laju Filtrasi Glomerulus (LFR / GFR).
GFR dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu ; tekanan arteri, efek kontriksi arteri dan arteriol afferen, dan efek aliran darah glomerulus atau laju filtrasi gomerulus.
GFR didapatkan melalui hasil perkalian antara Tekanan Filtrasi dengan Koefisien Filtrasi. Tekanan filtrasi adalah tekanan netto yang memaksa cairan keluar melalui membran glomerulus,dan ini sama dengan tekanan glomerulus dikurangi jumlah tekanan osmotic koloid glomerulus dan tekanan kapsula sehingga tekanan filtrasi normal sekitar 10 mmHg. Sedangkan Koefisien filtrasi adalah (Kf) merupakan konstantadan merupakan laju filtrasi glomerulus untuk kedua ginjal per mmHg.
GFR = Tekanan Filtrasi x Kf
Pada orang normal, GFR mencapai 125 ml/menit, tetapi dalam berbagai keadaan dapat berubah sampai 200 ml/menit. Dengan kata lain dalam sehari sekitar 180 liter cairan tersaring, dan lebih dari 99% filtrat tersebut biasanya direarbsorsi didalam tubulus dan sisanya dikeluarkan dalam bentuk urine.
Filtrasi glomerulus merupakan proses yang pasif, tidak selektif, dimana cairan dan zat- zat terlarutnya terdorong melalui membran semipermeabel melalui tekanan hidrostatik. Sejumlah volume cairan yang terfiltrasi dari darah ke dalam kapsula bowman dalam setiap menitnya disebut dengan Glomerular Filtration Rate (GFR).
GFR dipengaruhi oleh tiga faktor:
a)    Total permukaan yang memungkinkan untuk proses filtrasi
b)    Permeabilitas membran filtrasi
c)    Total tekanan filtrasi
Tekanan filtrasi ditentukan oleh kekuatan tekanan yaitu tekanan hidrostatik yang mendorong dan tekanan osmotik yang menarik. Perbedaan kedua tekanan tersebut yang menentukan tekanan total dari tekanan filtrasi.
GFR normal pada orang dewasa adalah 120- 125 ml/ menit. Keadaan tersebut dipertahankan tetap oleh kontrol intrinsik yang disebut dengan autoregulasi renal. Autoregulasi dicapai dengan beberapa mekanisme yaitu: mekanisme myogenik yang mengontrol diameter arteriol afferen yang berespon terhadap perubahan tekanan pada pembuluh darah. Tekanan darah yang meningkat menyebabkan pembuluh darah renal kontriksi. Kontrol intrinsik yang lain adalah mekanisme renin- angiotensin. Sel khusus yang disebut dengan aparatus jukstaglomerullus yang berada di tubulus distal. Renin dikeluarkan oleh sel jukstaglomerulus kebanyakan dipacu oleh adanya penurunan tekanan dalam sistem sirkulasi.

b)    Tubulus
Tubulus merupakan bagian dari nefron ginjal. Didalam tubulus zat yang masuk dari glomerulus kedalam tubulus ginjal di rearbsorbsi dan di sekresi secara selektif  oleh epitel tubulus, dan cairan yang dihasilkan memasuki pelvis ginjal sebagai urine.
Sekresi sangat penting dalam menentukan ion kalium, hydrogen, dan beberapa zat lain didalam urine. Tubulus menskresikan kelebihan jumlah cairan kedalam urin bila cairan tubuh terlalu encer dan banyak, dan mensekresikan kelebihan jumlah solut bila cairan tersebut terlalu pekat. Ini dilakukan tubulus dalam menjalankan salah satu fungsi ginjal, yaitu mengatur osmolaritas cairan tubuh.
1)    Reabsorpsi Tubulus
Reabsorpsi tubulus berlangsung dari tubulus renalis ke kapiler peritubuler. Dalam waktu 24 jam ginjal membentuk 150 sampai 180 liter filtrat, dan haluaran urine normal selama waktu itu adalah 1-2 liter (Valarie c.scalon, 2007, hlm. 395).
Pada ginjal yang sehat, nutrien organik seperti asam amino dan glukosa direabsorpsi. Kecepatan dan banyaknya air yang direabsorpsi tergantung dari respon ginjal terhadap hormon-hormon yang berperan. Proses reabsorpsi berbagai zat dapat berlangsung secara aktif diantaranya adalah glukosa, asam amino, laktat, vitamin, sebagian besar ion.
2)    Sekresi Tubulus
Banyak zat seperti hidrogen, kalium kreatinin, amonia, dan asam organik berpindah dari darah di kapiler peritubular kedalam tubulus sebagai filtrat. Zat lain yang disekrsikan juga seperti obat-obatan dan zat- zat lain yang tidak dibutuhkan ole tubuh. Proses sekresi ini juga penting dalam mengatur keseimbangan asam basa.
Mekanisme ini juga mengubah komposisi urine. Dalam sekresi tubulus, zat-zat secara aktif di sekresikan dari daerah di kapiler peritubular ke dalam filtrat di tubulus renalis. Zat-zat sisa, seperti amonia dan sejumlah kreatinin, serta produk metabolik obat disekresikan ke dalam fitrat untuk dikeluarkan ke dalam urine (Valarie c.scalon, 2007, hlm.395).
Proses mempertahankan komposisi dan volume urin normal terjadi melalui tahap- tahap sebagai berikut:
a)    Bagian desenden lengkung henle lebih permeabel terhadap air, natrium dan klorida, masuk melalui proses diffusi. Bagian interstisial yang hiperosmotik menyebabkan air bergerak keluar dari bagian desenden sehingga filtrat menjadi lebih pekat.
b)    Lumen bagian asenden lengkung henle impermeabel terhadap air, tetapi dapat dilewati oleh natrium dan klorida masuk ke interstisial di medula. Dengan demikian filtrat di medula menjadi hipoosmotik dan interstisial menjadi hiperosmotik. bagian dalam medula.
c)    Saat filtrat melewati bagian asenden lengkung henle dan memasuki tubulus distal, natrium dan klorida dikeluarkan/ berpindah sedangkan air ditahan sehingga filtrat menjadi lebih encer.
Kadar natrium dan volume air diatur oleh 3 hormon yaitu:
(1)    ADH
ADH disekresi dari hipofisis anterior sebagai respon dari adanya peningkatan osmolaritas plasma.
(2)    Aldosteron
Aldosteron dan kontrol kadar kalium, kalium terfiltrasi secara bebas di glomerulus dan 65% direabsorpsi di tubulus proksimal. Sekresi kalium juga dikaitkan dengan natrium dan ion hidrogen. Peran hormon paratiroid, vitamin D dan kalsitonin dalam pengaturan keseimbangan kalsium dan posfat di ginjal. Dua pengatur utama keseimbangan kalisum dan posfat adalah hormon paratiroid dan vitamin D.
(3)    Atrial Natriuretic peptide
Pembersihan produk- produk buangan, ginjal mampu mengeluarkan produk buangan yang larut dalam air dan beberapa zat kimia dari tubuh. Peptida ini disekresikan dari sel natrium jantung sebagai respon dari peningkatan regangan pada atrium. Peptida ini memiliki 5 efek, antara lain:
(a)    Menghambat sekresi aldosteron
(b)    Mengurangi pelepasan renin oleh ginjal
(c)    Mengurangi pelepasan ADH oleh hipofisis posterior
(d)    Vasodilatasi
(e)    Natriuresis dan diuresis.

b.    Vaskularisasi ginjal
Ginjal mendapatkan aliran darah dari arteri renalis yang merupakan cabang langsung dari aorta abdominalis, sedangkan darah vena di alirkan melalui vena renalis yang bermuara kedalam vena kava inferior. Sistem arteri ginjal adalah end arteries yaitu arteri yang tidak mempunyai anatomis dengan cabang-cabang dari arteri lain, sehingga jika terdapat kerusakan pada salah satu cabang arteri ini, berakibat timbul nya iskemia/nekrosis pada daerah yang dialirinya.

c.    Fisiologi Ginjal antara lain adalah sebagai berikut :.
1)    Mengatur volume air (cairan) dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh dieksresikan oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar. Kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang diekskresi berkurang dan konsentrasi nya lebih pekat sehingga susunanan volume cairan tubuh dapat dipertahankan dan relatif normal.
2)    Mengatur keseimbangan osmotik dan mempertahankan keseimbangan ion yang optimal dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi pemasukan atau pengeluaran yang abnormal, akibatnya pemasukan garam yang berlebihan. Pada penyakit perdarahan, diare dan muntah ginjal akan meningkatkan eksresi ion – ion yang penting, misalnya Na, K, Cl, Ca dan fosfat.
3)    Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh bergantung pada apa yang dimakan. Campuran makanan (mixed diet) menghasilkan urine yang bersifat agak asam. pH kurang dari 6 ini disebabkan hasil akhir metabolisme protein. Apabila banyak makan sayur – sayuran maka urineakan bersifat basa. PH urine bervariasi antara 4,8 – 8,2. Ginjal menyekresikan urine sesuai dengan perubahan pH darah.
4)    Ekskresi sisa – sisa hasil metabolisme (ureum, asam urat, kreatinin) zat – zat toksik, obat – obatan, hasil metabolisme hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida)
5)    Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresikan hormone rennin yang mempunyai peranan penting dalam mengatur tekanan darah (system rennin angiotensin aldesteron) dan membentuk eritropoiesis yang mempunyai peranan penting dalam pembentukan sel darah merah (eritropoiesis). Disamping itu, ginjal juga membentuk hormone dihidroksi kolekalsiferol (vitamin D aktif) yang diperlukan untuk absorpsi ion Ca di usus.
Menurut Evelyn C. Pearce (2006, hlm. 248), fungsi ginjal sebagai berikut
1)  Pengaturan cairan tubuh dan mengontrol keseimbangan asam basa.
2)  Ekskresi produk akhir metabolisme.
3)  Memproduksi hormon.
4) Mengatur keseimbanggan osmotik dan mempertahankan keseimbangan ion yang optimal dalam plasma.

d.    Persarafan pada ginjal
Ginjal mendapat persarafan dari fleksus renalis (vasomotor). Saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ginjal. Dari plexus renalis susunan saraf otonom masuk lewat hillus dan melakukan Innervasi pada otot polos di afferen dan efferen arteriol. Suplai vasomotor ini lebih untuk vasoconstriktor. Pada umumnya afferen lebih sering kontraksi daripada efferen. Perubahan posisi fisik, stress meningkatkan vasomotor. Syaraf vasomotor membantu untuk kontrol fungsi ginjal dengan mengatur tekanan darah di glomerulus. Pada laki-laki syaraf di ginjal berhubungan/ berkomunikasi dengan syaraf di testis sehingga gangguan pada ginjal dapat menyebabkan gangguan dengan terasa nyeri diatas testis.

e.    Hormon dan Nutrien di Ginjal
1)    Vitamin D penting dalam proses reabsorpsi kalsium dan fosfat di usus halus. Vitamin D memasuki tubuh dalam bentuk inaktif dari diet atau dari perubahan kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet di kulit. Aktivasi vitamin ini terjadi melalui dua tahap: yang pertama di hati dan yang kedua di ginjal. Pada tahapan yang terjadi di ginjal distimulasi oleh hormon paratiroid sebagai respon dari penurunan kadar kalisum plasma. Hormon paratiroid merangsang ginjal agar organ ini memainkan perannya dalam mengaktifkan vitamin D. Hormon paratiroid dikeluarkan oleh kelenjar paratiroid sebagai respons terhadap penurunan kalsium plasma (Elizabeth, 2009. 703).
2)    Eritropoietin yang merangsang sumsum tulang memproduksi sel darah merah sebagai respon adanya hipoksia jaringan. Proses yang merangsang pengeluaran eritropoietin di ginjal adalah penurunan kadar oksigen sel ginjal.
Eritropoietin adalah suatu hormon yang merangsang sumsum tulang untuk meningkatkan pembentukan eritrosit (sel darah merah). Sel-sel di ginjal yang membentuk dan melepaskan eritropoietin berespon terhadap hipoksia ginjal. Orang yang menderita ginjal sering memperlihatkan anemia kronis dan berat (Elizabeth, 2009, hlm. 703).

f.    Suplai darah dalam ginjal
Ginjal diperfusi oleh sekitar 1200 ml darah/ menit. Suatu volume yang sama dengan 20% sampai 25% curah jantung (5000ml per menit). Aliran darah ke ginjal berlangsung melalui arteri renalis. Lebih dari 90% darah yang masuk ke ginjal didistribusikan ke korteks, sedangkan sisanya didistrbusikan ke korteks, sedangkan sisanya didistribusikan ke medula (Sylvia A. Price, 2006, hlm. 870).

2.    Ureter

Ureter memiliki panjang sekitar 25- 30 cm. Ureter berfungsi mentransport urin dari ginjal ke kandung kemih. Terdiri dari tiga lapis yaitu epitel mukosa pada bagian dalam, otot polos pada bagian tengah dan jaringan ikat pada bagian luar.
Ureter adalah organ yang berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan urine dari pielum ginjal kedalam buli – buli. Pada orang dewasa panjangnya kurang lebih 25- 30 cm. Dinding terdiri atas mukosa yang dilapisi oleh sel – sel tradisional, otot polos sirkulair dan longitudinal yang dapat melakukan peristaltic (kontraksi) guna mengeluarkan urine ke buli – buli.
Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian dalam rongga velvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:
a.    Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b.    Lapisan tengah lapisan otot polos
c.    Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Jika karena suatu sebab terjadi sumbatan pada aliran urine, terjadi kontraksi otot polos yang berlebihan yang bertujuan untuk mendorong atau mengeluarkan sumbatan itu dari saluran kemih.
Kontraksi itu dirassakan sebagai nyeri kolik yang datang secara berkala sesuai dengan irama kontraksi ureter. Sepanjang perjalanan ureter dari pielum menuju buli – buli secara anatomis beberapa tempat yang diameternya relatif lebih sempit dari pada tempat lain, sehingga batu atau benda lain yang berasal dari ginjal sering tersangkut ditempat itu. Tempat penyempitan antara lain adalah :
a.    Pada perbatasan antara pelvis renalis dan ureter atau pelvi ureter junction.
b.    Tempat ureter menyilang arteri iliaka rongga pelvis.
c.    Pada saat ureter masuk kebuli – buli.
Ureter masuk kebuli dalam posisi miring dan berada didalam otot buli – buli (intra mural). Keadaan ini dapat mencegah terjadinya  aliran balik urine dari buli – buli keureter atau refluk vesiko ureter pada saat buli – buli berkontraksi.
Untuk kepentingan radiology dan kepentingan pembedahan, ureter dibagi 2 bagian yaitu ureter pars abdominalis yaitu yang berada dari pelvis renalis sampai menyilang vasa iliaka dan ureter pars pelvika, yaitu mulai dari persilangan dengan vasa iliaka sampai masuk buli – buli.

3.    Vesika Urinaria / Kandung kemih ( buli-buli )
Menurut Dr. Nursalam (2010, hlm. 51) kandung kencing bekerja sebagai penampung urine. Organ ini berbentuk buh pir (kendi). letaknya didalam panggul besar.
Kandung kencing/ kandung kemih terletak dibelakang simpisis pubis, berfungsi menampung urin untuk sementara waktu. Terdapat segitiga bayangan yang terdiri atas 3 lubang yaitu 2 lubang ureter dan satu lubang uretra pada dasar kandung kemih yang disebut dengan trigonum/ trigon. Lapisan dinding kandung kencing (dari dalam keluar): lapisan mukosa, submukosa, otot polos dan lapisan fibrosa. Lapisan otot disebut dengan otot detrusor. Otot longitudinal pada bagian dalam dan luar dan lapisan sirkular pada bagian tengah. Ukuran kandung kencing berbeda- beda.
Buli – buli adalah organ berongga yang terdiri atas 3 lapis otot detrusor  yang saling beranyam. Disebelah dalam adalah otot longitudinal, ditengah merupakan otot sirkulair, dan paling luar merupakan otot longitudinal. Mukosa buli-buli terdiri atas sel-sel transisional yang sama seperti mukosa-mukosa pada pelvis renalis, ureter dan uretra posterior pada dasarnya buli-buli kedua muara ureter dan miatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang disebut trigonum buli-buli.
Secara anatomis bentuk buli terdiri atas 3 permukaan, yaitu :
a.    Permukaan superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum.
b.    Dua permukaan inferiolateral.
c.    Permukaan posterior
Buli-buli berfungsi menampung urine dari ureter dan mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme miksi. Dalam menampung urine, buli-buli mempunyai kapasitas maksimal yang volume untuk orang dewasa ± 300 – 450 ml sedangkan untuk anak menurut formula dari koff adalah : Kapasitas buli = (umur (tahun) + 2) x 30 ml.
Pada saat kosong, buli – buli terletak dibelakang simphisis pubis dan pada saat penuh berada diatas simphisis sehingga dapat dipalpasi dan perkusi. Buli – buli yang terisi penuh memberikan rangsangan pada saraf aferen dan menyebabkan aktivasi pusat miksi dimedulla spinalis segmen sacral S2 – 4. Hal ini akan menyebabkan kontraksi otot destrusor, terbukanya leher buli dan relaksasi spinter uretra sehingga terjadi proses miksi.

4.    Uretra
Secara anatomis uretra di bagi menjadi 2 bagian yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine ke luar dari buli– buli melalui proses miksi. Secara anatomis uretra dibagi 2 bagian yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan cairan mani / sperma. Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada pembatasan buli – buli dan uretra, serta sfingter uretra eksterna yang terletak pada pembatasan uretra anterior dan posterior. Sfingter uretra eksterna terdiri atas otot bergaris dipersarafi oleh sistem somatik yang dapat diperintah sesuai dengan keinginan seseorang, pada saat kencing.
Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yaitu bagian uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostate dan uretra pars membranase. Dibagian posterior lumen uretra prostatika, terdapat tonjolan verumontanum ini terdapat Krista uretralis. Bagian akhir dari vasdeferen yaitu kedua duktus ejakulatorius terdapat dipinggir kiri dan kanan verumontanum. Panjang uretra wanita ± 3 – 5 cm, sedangkan uretra pria dewasa ± 20 – 25 cm. perbedaan panjang inilah yang menyebabkan keluhan hambatan pengeluaran urine lebih sering pada pria.
Letak uretra wanita berada dibawah simphisis pubis dan bermuara disebelah anterior vagina. Didalam uretra bermuara kelenjar piuretra diantara kelenjar skene. Kurang lebih 1/3 medial uretra, terdapat sfingter uretra eksterna yang terdiri dari otot bergaris. Tonus otot sfingter uretra terdapat eksterna dan tonus levator ini berfungsi mempertahankan urine tetap berada didalam buli pada saat perasaan ingin miksi. Miksi terjadi jika tekanan intra vesika melebihi tekanan intrauretra akibat kontraksi otot destrusor dan relaksasi sfingter uretra eksterna.

Apa Komentar anda tentang materi di Atas...

Artikel yang berkaitan :

Comments
0 Comments

0 comments: